Ahlusunnah vs Ahlubidd’ah (Wahabi Al yahudiah)

Bahaya wahabi alyahudiah yang mengaku salafy

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Islamic Hijri Calendar

Posted by admin on November 29, 2008

Take a look at this:
http://al-habib.tripod.com/islamic-clock/tahlil02.htm

Advertisements

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Kisah TUBBA’ AL AWWAL Beriman kepada nabi Muhammad seribu tahun sebelum munculnya

Posted by admin on June 10, 2008

TUBBA’ AL AWWAL
Beriman kepada nabi Muhammad seribu tahun sebelum munculnya

TUBBA’ adalah sebutan bagi raja-raja Yaman pada masa dahulu kala. Mereka yang bergelar
Tubba’ ini banyak dan mereka adalah orang Arab. Nama Muhammad yang akan menjadi penutup para nabi dan rasul sudah sangat populer dikalangan para nabi terdahulu. Keberadaannya sebagai nabi penutup tercatat dalam kitab-kitab lama. Tubba’ (raja Yaman) yang pertama memiliki kisah menarik untuk kita simak dan kita jadikan pelajaran tentang perkenalannya dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Suatu ketika Tubba’ keluar dari negerinya dengan membawa ratusan ribu perajurit dan didampingi perdana menterinya menuju kota Makkah al Mukarramah, di samping ratusan ribu perajurit ia juga membawa seratus ribu orang alim dan bijak yang ia pilih dari beberapa negara bagian
yang berada di bawah kekuasaannya. Ketika Tubba’ dan pasukannya tiba di kota Makkah ia
bertanya tentang penduduk Makkah, lalu dikatakan kepadanya bahwa penduduk Makkah
menyembah berhala (Pagan) dan mereka memiliki ka’bah yang sangat mereka cintai.
Ketika mendengar itu, Tubba’ bertekad dalam hatinya untuk menghancurkan ka’bah dan membunuh penduduk Makkah yang tidak menyambut kedatangannya dan ia tidak
memberitahukan niat jahatnya ini kepada siapapun. Tiba-tiba ia merasakan pusing yang
sangat menyakitkan, dan dari kedua matanya, telinganya, hidungnya dan mulutnya tiba-tiba
keluar air yang berbau sangat busuk. Karena bau yang begitu busuk ini semua perajuritnya lari menjauhinya. Akhirnya sang perdana menteri mengumpulkan para dokter untuk mengobatinya namun tidak satu dokterpun yang sanggup mendekatinya apalagi mengobatinya. Pada suatu malam ada seorang ulama datang menghampiri
perdana menteri, ia mengaku mungkin bisa mengetahui sebab penyakit yang diderita sang raja dan ia tahu cara mengobatinya. Kemudian sang perdana menteri gembira dan langsung membawa orang alim tersebut menemui sang raja dan mengobatinya. Orang alim itu berkata kepada sang raja: Berkatalah jujur kepadaku! Apakah engkau punya niat jelek terhadap Ka’bah ini?, sang raja menjawab: “ya, saya punya niat merobohkan ka’bah ini dan membunuh penduduknya”. Orang alim itu berkata lagi: Sesungguhnya penyakit yang
menimpa kamu ini berasal dari niat jelek kamu terhadap ka’bah, ketahuilah bahwa ka’bah ini ada penguasanya, Ia maha kuat dan maha tahu atas segala sesuatu yang tersembunyi dan rahasia”. Kemudian orang alim –yang merupakan pengikut Nabi Ibrahim- itu mengajarinya agama Islam. Sang rajapun mengimaninya seketika itu dan seketika
itu juga ia sembuh dari penyakitnya dan ia-pun memuliakan penduduk Makkah.

Kemudian ia menuju Madinah –Yatsrib- dan sesampainya ia di kota tersebut empat ratus orang alim yang ikut dengannya berniat untuk tetap tinggal di kota Madinah. Sang raja bertanya kepada mereka: “Kenapa kalian ingin tinggal dikota ini?”, mereka menjawab: “Kota inilah tempat hijrahnya Nabi akhir zaman yaitu Muhammad
shallallahu ‘alayhi wasallam” dan mereka menjelaskan kepada sang raja sosok Muhammad
yang akan menjadi nabi akhir zaman tersebut sebagaimana mereka dapatkan ciri-cirinya dalam kitab-kitab terdahulu. Setelah mendengar cerita tentang Muhammad sang rajapun berminat tinggal bersama mereka di Madinah selama satu tahun dengan harapan ia bisa berjumpa dengan Muhammad. Ia membangun empat ratus rumah yang diperuntukkan bagi masing-masing orang alim yang tinggal di sana bahkan sang raja mengawinkan mereka. Setelah satu tahun berlalu sang nabi yang ia tunggu-tunggu belum juga muncul, ia menulis sebuah kitab yang disebutkan di dalamnya bahwa ia beriman kepada sang nabi
sebelum melihatnya dan ia memeluk agama yang dibawa oleh sang nabi dan beriman kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dan tiada sesuatu-pun
yang menyerupai-Nya. Lalu ia cap kitab itu dengan emas dan dititipkan kepada orang-orang
alim yang tinggal di kota itu untuk selamanya. Sang raja kemudian meninggalkan Madinah
menuju India dan meninggal di sana. Kitab yang ia tulis setelah penantiannya terhadap nabi yang mulia di kota Madinah tersebut tetap terpelihara meskipun berpindah-pindah tangan sampai kemudian muncul nabi Muhammad setelah seribu tahun dari ditulisnya kitab tersebut. Dikatakan bahwa kitab itu sampai ke tangan Nabi ketika
beliau menempati rumah Abu Ayyub al Anshari radhiyallahu ‘anhu saat permulaan hijrah beliau ke Madinah.
download bukunya :
http://darulfatwa.org.au/languages/Indonesian/Al-Islam_Deenul_Anbiya2.pdf
http://darulfatwa.org.au/content/category/4/14/153/

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Siapa Sebenarnya Wahabi ?? (awas wahabi (2)!!)

Posted by admin on April 5, 2008

Siapa Sebenarnya Wahabi ??

Mazhab Wahhabi sering menimbulkan kontroversi berhubung dengan asal-usul dan kemunculannya dalam dunia Islam. Umat Islam umumnya salah menganggap mereka, dengan beranggapan bahwa mazhab mereka mengikuti pemikiran Ahmad ibn Hanbal dan alirannya, al-Hanbaliyyah atau al-Hanabilah yang merupakan salah satu mazhab dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.

Nama Wahhabi atau al-Wahhabiyyah kelihatan dihubungkan kepada nama `Abd al-Wahhab yaitu pendirinya Muhammad bin `Abd al-Wahhab al-Najdi. Ia tidak dinamakan al-Muhammadiyyah yang mungkin boleh dikaitkan dengan nama Muhammad bin `Abd al-Wahhab bertujuan untuk membedakan di antara para pengikut Nabi Muhammad saw dengan mereka, dan juga bertujuan untuk menghalangi segala bentuk eksploitasi (istighlal). Bagaimanapun, nama Wahhabi dikatakan ditolak oleh para penganut Wahhabi sendiri dan mereka menggelarkan diri mereka sebagai golongan al-Muwahhidun (unitarians) karena mereka mendakwa ingin mengembalikan ajaran-ajaran tawhid ke dalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah.

Mazhab Wahhabi pada zaman moden ini tidak lain dan tidak bukan, adalah golongan al-Hasyawiyyah karena kepercayaan2 dan pendapat2 mereka 100% sama dengan golongan yang dikenali sebagai al-Hasyawiyyah pada abad-abad yang awal.

Istilah al-Hasyawiyyah adalah berasal daripada kata dasar al-Hasyw yaitu penyisipan, pemasangan dan kemasukan. Nama ini diberikan kepada orang-orang yang menerima dan mempercayai semua hadisr yang dibawa masuk ke dalam Islam oleh orang-orang munafiq. Mereka mempercayai semua hadist yang dikaitkan kepada Nabi saw dan para sahabat baginda berdasarkan pengertian bahasa semata-mata tanpa melakukan penelitihan dan pemikiran. Bahkan sekiranya sesuatu “ hadist “ itu dipalsukan (tetapi orang yang memalsukannya memasukkan suatu rangkaian perawi yang baik kepadanya), mereka tetap menerimanya tanpa mempedulikan apakah teks hadist itu serasi dan selaras dengan al-Qur’an ataupun hadist yang diakui sahih atau sebaliknya.

Ahmad bin Yahya al-Yamani (m.840H/1437M) mencatatkan bahawa: “ Nama al-Hasyawiyyah digunakan kepada orang-orang yang meriwayatkan hadist2 sisipan yang sengaja dimasukkan oleh golongan al-Zanadiqah sebagaimana sabda Nabi saw dan mereka menerimanya tanpa melakukan interpretasi semula, dan mereka juga menggelarkan diri mereka Ashab al-Hadith dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah… Mereka bersepakat mempercayai konsep pemaksaan (Allah berhubungan dengan perbuatan manusia) dan tasybih (bahwa Allah seperti makhluk-Nya) dan mempercayai bahawa Allah mempunyai jasad dan bentuk serta mengatakan bahawa Allah mempunyai anggota tubuh … “.

Al-Syahrastani (467-548H/1074-1153M) menuliskan bahawa: “ Terdapat sebuah kumpulan Ashab al-Hadith, iaitu al-Hasyawiyyah dengan jelas menunjukkan kepercayaan mereka tentang tasybih (yaitu Allah serupa makhluk-Nya) … sehinggakan mereka sanggup mengatakan bahawa pada suatu ketika, kedua-dua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh a.s sehingga mata-Nya menjadi merah, dan `Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui `Arasy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut.” [Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141.]

Definisi dan gambaran ini secara langsung menepati golongan Wahhabi yang menamakan diri mereka sebagai Ashab al-Hadist atau Ahl al-Hadist dan kerapkali juga sebagai Sunni, dan pada masa kini mereka memperkenalkan diri mereka sebagai Ansar al-Sunnah ataupun Ittiba` al-Sunnah.

Latar belakang Pengasas Mazhab Wahhabi

Muhammad bin `Abd al-Wahhab dilahirkan di perkampungan `Uyainah, salah sebuah kampung dalam Najd di bahagian selatan pada tahun 1115H/1703M. Bapaknya, `Abd al-Wahhab merupakan seorang Qadi di sini. Muhammad dikatakan pernah mempelajari bidang fiqh al-Hanbali dengan bapaknya, yang juga adalah salah seorang tokoh ulama al-Hanabilah. Semenjak kecil, dia mempunyai hubungan yang erat dengan pengkajian dan pembelajaran kitab-kitab tafsir, hadith dan akidah.

Pada masa remajanya, Muhammad selalu memperendah-rendahkan syiar agama yang biasanya dipegang oleh penduduk Najd, bukan saja di Najd bahkan sehingga sejauh Madinah selepas dia kembali daripada menunaikan haji. Dia sering mengada-adakan perubahan dalam pendapat dan pemikiran di dalam majlis-majlis agama, dan dia dikatakan tidak suka kepada orang yang bertawassul kepada Nabi saw di tempat kelahiran (marqad) baginda yang suci itu.

Kehidupannya selama beberapa tahun dihabiskan dengan mengembara dan berdagang di kota-kota Basrah, Baghdad, Iran, dan Damsyik (damaskus). Di Damsyik, dia telah mempelajari kitab-kitab karangan Ibn Taimiyyah al-Harrani (m.728H/1328M) yang mengandung ajaran2 yang berunsur kontroversi berbeda dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.
Dia kembali ke Najd dan kemudian berpindah ke Basrah disini dia akhirnya berjumpa dengan Hempher yaitu seorang orientalis dan agen rahasia Inggeris. Hempher yang menyamar sebagai Sheikh Muhammad. Dia seorang yang ahli berbahasa Arab , Turki, Parsi, dan telah lama mempelajari Islam di Turki dan Iraq (untuk lebih jelasnya soal hempher ini silahkan klik http://asmar.perso.ch/hempher/spy/ insyaAllah untuk kemudian hari akan saya terjemahkan).
Hampher yang akhirnya mempengaruhi ideologi Ibn Wahhab ini, malah memperparah kesesatan Ibn Wahhab. Bersama Hempher inilah Ibn Wahhab sempat melakukan nikah mut’ah dengan seorang agen wanita inggeris yang menyamar sebagai Safiyyah selama 1 minggu. Dalam masa itu Ibn Wahhab tambah sesat lagi karena dalam terkapan 2 orang sekaligus. Pikirannya yang dangkal akhirnya membuatnya terbawa bermabuk-mabukan bersama istri mut’ahnya.
Kemudian atas usul Hempher, Ibn Wahhab hijrah ke Isfahan, Iran . Untuk itu dia memperpanjang masa nikah mut’ahnya bersama Safiyya menjadi 2 bulan.
Disana dia masuk dalam terkapan seorang agen Inggris juga yang menyamar sebagai Abd Karim yang mengenalkannya dengan seorang wanita agen Inggris (yahudi) yang menyamar sebagai Asiya yang jauh lebih cantik dari Safiyya dan akhirnya dinikah mut’ah pula. Dalam terkapan agen2 Inggeris inilah Ibn Wahhab dicekoki segalam macam pemikiran yang sesat, dan menyusun berbagai program untuk menghancurkan Islam .Silahkan pembaca teliti di http://asmar.perso.ch/hempher/spy/ .
Sedikit tambahan ….sekiranya pembaca membaca biografi Ibn Wahhab versi Wahabi …maka pembaca sekalian akan menemukan kalimat ini : “Di antara pendukung dakwahnya di kota Basrah ialah seorang ulama yang bernama Syeikh Muhammad al-Majmu’i “ . Inilah Hempher yang menyamar sebagai Syeikh Muhammad al-Majmu’i !!!. Dia sengaja mengiringi Ibn Wahhab kembali ke najd untuk mengawasi, menasihati dan mengimplementasikan program2 penghancuran Islam.
Kemudian dalam perjalanannya ke Syam, di Basrah Ibn Wahhab berupaya menyebarkan pemikirannya untuk mencegah ummat daripada melakukan syiar agama mereka dan menghalangi mereka daripada perbuatan tersebut. Justru itu penduduk Basrah bangkit menentangnya, dan menyingkirkannya daripada perkampungan mereka. Akhirnya dia melarikan diri ke kota al-Zabir.

Dalam perjalanan di antara Basrah dan al-Zabir, akibat terlalu penat berjalan karena kepanasan sehingga hampir2 menemui ajalnya, seorang lelaki (dari kota al-Zabir) telah menemuinya lalu membantunya ketika melihatnya berpakaian seperti seorang alim. Dia diberikan minuman dan dibawa kembali ke kota tersebut. Muhammad bin `Abd al-Wahhab berkeinginan untuk ke Syam tetapi dia tidak mempunyai bekal yang mencukupi, lalu pergi ke al-Ahsa’ dan dari situ, terus ke Huraymilah (dalam kawasan Najd) juga.

Pada tahun 1139H/1726M, bapaknya berpindah dari `Uyainah ke Huraymilah dan dia ikut serta dengan bapaknya dan belajar dengannya tetapi masih meneruskan penentangannya yang kuat terhadap amalan-amalan agama di Najd, yang menyebabkan terjadinya pertentangan dan perselisihan yang berkecamuk di antaranya dan bapanya di satu pihak dan, dia bersama dengan penduduk-penduduk Najd di pihak yang lain. Keadaan tersebut terus berlanjut hingga tahun 1153H/1740M ketika bapaknya meninggal dunia.[ Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141]. Sejak itu, Ibn wahhab tidak lagi terikat. Dia telah mengemukakan akidah2nya yang sesat, menolak dan memerangi amalan2 agama yang dilakukan serta menyeru mereka bergabung bersama kelompoknya. Sebagian tertipu dan sebagian lagi meninggalkannya hingga dia mengumumkan kekuasaannya di Madinah.

Ibn Wahhab kembali ke `Uyainah yang diperintah oleh `Usman bin Hamad yang menerima dan memuliakannya dan berlakulah perjanjian di antara mereka berdua bahawa setiap seorang hendaklah mempertahankan yang lain dengan seorang memegang kekuasaan dalam perundangan Islam (al-tasyri`) dan seorang lagi dalam pemerintahan. Pemerintah `Uyainah mendukung dengan kekuatan dan Ibn Wahhab menyeru manusia mentaati pemerintah dan para pengikutnya.

Berita telah sampai kepada pemerintah al-Ahsa’ bahawa Muhammad bin `Abd al-Wahhab menyebarkan pendapat dan bid`ahnya, dan pemerintah `Uyainah menyokongnya. Beliau telah mengirimkan suatu surat peringatan dan ancaman kepada pemerintah `Uyainah. Pemerintah `Uyainah kemudian memanggil Muhammad dan memberitahunya bahawa dia enggan membantunya. Ibn `Abd al-Wahhab berkata kepadanya: “ Sekiranya engkau membantuku dalam dakwah ini, engkau akan menguasai seluruh Najd.” Pemerintah tersebut menyingkirkannya dan memerintahkannya meninggalkan `Uyainah dengan cara mengusirnya pada tahun 1160H/1747M.

Pada tahun itu, Muhammad keluar dari `Uyainah ke Dar`iyyah di Najd yang diperintah oleh Muhammad bin Sa`ud (m.1179H/1765M) yang kemudian mengunjungi, memuliakan dan menjanjikan kebaikan kepadanya. Sebagai balasannya, Ibn `Abd al-Wahhab memberikan kabar gembira kepadanya dengan jaminan penguasaan Najd keseluruhannya. Dengan cara itu, suatu perjanjian dimeterai.[ Al-Alusi, Tarikh Najd, h.111-113]. Penduduk Dar`iyyah mendukungnya sehingga akhirnya Muhammad ibn `Abd al-Wahhab dan Muhammad bin Sa`ud menyetujui perjanjian itu(`aqd al-Ittifaqiyyah).

Ibn Basyr al-Najdi yang dipetik oleh al-Alusi mengatakan: “ Penduduk Dar`iyyah pada masa itu dalam keadaan sangat menderita dan kepayahan, mereka lalu berusaha untuk memenuhi kehidupan mereka … Aku lihat kesempitan hidup mereka pada kali pertama tetapi kemudian aku lihat al-Dar`iyyah selepas itu – pada zaman Sa`ud, penduduknya memiliki harta yang banyak dan senjata disaluti emas, perak, kuda yang baik, para bangsawan, pakaian mewah dsb,i daripada sumber-sumber kekayaan sehinggakan lidah kelu untuk berkata-kata dan gambaran secara terperinci tidak mampu diuraikan.”

“ Aku lihat tempat orang ramai pada hari itu, di tempat dikenali al-Batin – aku lihat kumpulan lelaki di satu pihak dan wanita di satu pihak lagi, aku lihat emas, perak, senjata, unta, kuda, pakaian mewah dan semua makanan tidak mungkin dapat digambarkan dan tempat itu pula sejauh mata memandang, aku dengar hiruk-pikuk suara-suara penjual dan pembeli … “[Salah seorang pengarang `Uthmaniyyah menceritakannya dalam kitabnya, Tarikh Baghdad, h.152 tentang permulaan hubungan di antara Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan keturunan Sa`ud dengan cara yang berbeda tetapi kelihatan sama dengan apa yang diceritakan]
Harta yang banyak itu tidak diketahui datang dari mana, dan Ibn Basyr al-Najdi sendiri tidak menceritakan sumber harta kekayaan yang banyak itu tetapi berdasarkan fakta-fakta sejarah, Ibn `Abd al-Wahhab memperolehinya daripada serangan dan serbuan yang dilakukannya bersama-sama para pengikutnya terhadap kabilah2 dan kota2 yang kemudian meninggalkannya untuknya. Ibn `Abd al-Wahhab merampas harta kekayaan itu dan membagi-bagikan kepada penduduk Dar`iyyah.

Ibn `Abd al-Wahhab mengikuti kaedah khusus dalam pembagian harta rampasanyang dirampasbnya dari kaum muslimin . Ada kalanya, dia membagikannya hanya kepada 2 atau 3 orang pengikutnya. Amir Najd menerima bagian daripada ghanimah itu dengan persetujuan Muhammad bin `Abd al-Wahhab sendiri. Ibn `Abd al-Wahhab melakukan perbuatan yang buruk terhadap umat Islam yang tidak tunduk kepada hawa nafsu dan pendapatnya dan disamakan dengan kafir harbi dan dia menghalalkan harta mereka.

Ringkasnya, Muhammad ibn `Abd al-Wahhab kelihatan menyeru kepada agama Tawhid tetapi tawhid sesat ciptaannya sendiri, dan bukannya tawhid menurut seruan al-Qur’an dan al-Hadist. Siapa yang tunduk (kepada tawhidnya) akan terpelihara diri dan hartanya dan sesiapa yang menolak dianggap kafir harbi (yang perlu diperangi) darah dan hartanya halal.

Dengan alasan inilah, golongan Wahhabi menguasai medan peperangan di Najd dan kawasan2 di luarnya seperti Yaman, Hijaz, sekitar Syria dan `Iraq. Mereka mengaut keuntungan yang berlimpah daripada kota2yang mereka kuasai menurut kemauan dan kehendak mereka, dan jika mereka bisa menghimpunkan kawasan2 itu ke dalam kekuasaan dan kehendak mereka, mereka akan lakukan semua itu, tetapi jika sebaliknya mereka hanya datang untuk merampas harta kekayaan saja.[ Tarikh Mamlakah al-`Arabiyyah al-Sa`udiyyah, Vol. I, h..51].

Ibn Wahab memerintahkan orang2 yang cenderung mengikuti dakwahnya supaya memberikan bai`ah dan orang-orang yang enggan wajib dibunuh dan dibagi-bagikan hartanya. Oleh kerana itu, dalam proses membuang dan mengasingkan penduduk kampung di sekitar al-Ahsa’ untuk mendapatkan bai`ah itu, mereka telah menyerang dan membunuh 300 orang dan merampas harta -harta mereka.[ Tarikh Mamlakah al-`Arabiyyah al-Sa`udiyyah, Vol. I, h..51].

Bagi Muhamad bin Abdul Wahhab, situasi dan kondisi amat mendukung baginya untuk menyebarkan pemikiran-pemikirannya yang beracun ke tengah ummat. Karena kebodohan dan kebuta-hurufan menghinggapi seluruh kawasan Najd kala itu. Di samping itu, penguasa Ali Su’ud (keluarga Su’ud) membantu penyebaran dakwahnya dengan pedang. Dengan faktor-faktor inilah mereka memaksa manusia untuk berpegang kepada ajaran Wahabi, dan jika tidak, mereka akan mencapnya dengan label kufur dan syirik, serta menghalalkan harta dan darahnya. Mereka melakukan pembenaran atas tindakannya itu melalui sejumlah keyakinan rusak, dengan label “tauhid yang benar”. Muhammad bin Abdul Wahhab memulai pembicaraannya tentang tauhid sebagai berikut:
“Tauhid ada dua macam: Tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. Adapun mengenai tauhid rububiyyah, baik orang Muslim maupun orang kafir mengakui itu. Adapun tauhid uluhiyyah, dialah yang menjadi pembeda antara kekufuran dan Islam. Hendaknya setiap Muslim dapat membedakan antara kedua jenis tauhid ini, dan mengetahui bahwa orang-orang kafir tidak mengingkari Allah SWT sebagai Pencipta, Pemberi rezeki dan Pengatur. Allah SWT berfirman,
‘Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ (QS. Yunus: 31)
‘Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menjadikan langit dan buini dan menundukkan matahari dan bulan? ‘Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’, maka betapakah mereka dapat dipalingkan (dari jalan yang benar).’ (QS. al-‘Ankabut: 61)
Jika telah terbukti bagi Anda bahwa orang-orang kafir mengakui yang demikian, niscaya Anda mengetahui bahwa perkataan Anda yang mengatakan “Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan dan tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah, serta tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah”, tidaklah menjadikan diri anda seorang Muslim sampai Anda mengatakan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ dengan disertai melaksanakan artinya.”[ Fi ‘Aqa’id al-Islam, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 38]
Dengan pemahaman yang sederhana ini, yang tidak timbul melainkan dari kebodohan akan hikmah dan ayat-ayat Allah SWT, dia mengkafirkan seluruh masyarakat dengan mengatakan, “Sesungguh-nya orang-orang musyrik jaman kita —yaitu orang-orang Muslim— lebih keras kemusyrikannya dibandingkan orang-orang musyrik yang pertama. Karena, orang-orang musyrik jaman dahulu, mereka hanya menyekutukan Allah di saat lapang, sementara di saat genting mereka mentauhidkan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi, ‘Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).”‘[Risalah Arba’ah Qawa’id, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 4]
Setiap orang yang bertawassul kepada Rasulullah saw dan para Ahlul Baitnya, atau menziarahi kuburan mereka, maka dia itu kafir dan musyrik; dan bahkan kemusyrikannya jauh lebih besar daripada kemusyrikan para penyembah Lata, ‘Uzza, Mana dan Hubal. Di bawah naungan keyakinan inilah mereka membunuh orang-orang Muslim yang tidak berdosa dan merampas harta benda mereka. Adapun slogan yang sering mereka kumandangkan ialah, masuklah ke dalam ajaran Wahabi! dan jika tidak, niscaya Anda terbunuh, istri Anda menjadi janda, dan anak Anda menjadi yatim.
Saudaranya yang bernama Sulaiman bin Abdul Wahhab membantahnya di dalam kitabnya yang berjudul ash-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahabiyyah, “Sejak jaman sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu pada jaman para imam Islam, belum pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang imam kaum Muslimin mengkafirkan mereka, mengatakan mereka murtad dan memerintahkan untuk memerangi mereka. Belum pernah ada seorang pun dari para imam kaum Muslimin yang menamakan negeri kaum Muslimin sebagai negeri syirik dan negeri perang, sebagaimana yang Anda katakan sekarang. Bahkan lebih jauh lagi, Anda mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan perbuatan-perbuatan ini, meskipun dia tidak melakukannya. Kurang lebih telah berjalan delapan ratus tahun atas para imam kaum Muslimin, namun demikian tidak ada seorang pun dari para ulama kaum Muslimin yang meriwayatkan bahwa mereka (para imam kaum Muslimin) mengkafirkan orang Muslim. Demi Allah, keharusan dari perkataan Anda ini ialah Anda mengatakan bahwa seluruh umat setelah jaman Ahmad —semoga rahmat Allah tercurah atasnya— baik para ulamanya, para penguasanya dan masyarakatnya, semua mereka itu kafir dan murtad. —Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”[ Risalah Arba’ah Qawa’id, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 4].
Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab juga berkata di dalam halaman 4, “Hari ini umat mendapat musibah dengan orang yang menisbahkan dirinya kepada Al-Qur’an dan sunnah, menggali ilmu keduanya, namun tidak mempedulikan orang yang menentangnya. Jika dia diminta untuk memperlihatkan perkataannya kepada ahli ilmu, dia tidak akan me-lakukannya. Bahkan, dia mengharuskan manusia untuk menerima per-kataan dan pemahamannya. Barangsiapa yang menentangnya, maka dalam pandangannya orang itu seorang yang kafir. Demi Allah, pada dirinya tidak ada satu pun sifat seorang ahli ijtihad. Namun demikian, begitu mudahnya perkataannya menipu orang-orang yang bodoh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya Allah, berilah petunjuk orang yang sesat ini, dan kembalikanlah dia kepada kebenaran.”
Akhirnya Ibn Wahab meninggal dunia pada tahun 1206H/1791M tetapi para pengikutnya telah meneruskan mazhabnya dan menghidupkan bid`ah dan kesesatannya kembali. Pada tahun 1216H/1801M, al-Amir Sa`ud al-Wahhabi mempersiapkan tentera yang besar terdiri daripada 20 000 orang dan melakukan serangan ganas ke atas kota suci Karbala’ di `Iraq.
Karbala tempat cucu nabi saw yaitu Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib dimakamkan dan merupakan sebuah kota suci dihiasi dengan kemasyhuran dan ketenangan di hati umat Islam. Tentera Wahhabi mengepung dan memasuki kota itu dengan melakukan pembunuhan, rampasan, runtuhan dan kebinasaan. Wahhabi telah melakukan keganasan dan kekejaman di kota Karbala’ dengan perbuatan yang tidak mengenal batas prikemanusiaan dan tidak mungkin dapat dibayangkan. Mereka telah membunuh 5000 orang Islam atau bahkan lebih lagi, hingga disebutkan dalam sejarah mencapai 20 000 orang.

Ketika al-Amir Sa`ud menghentikan perbuatan keji dan kejamnya di sana, dia telah merampas banyak harta. Setelah melakukan keganasan yang cukup menjijikkan ini, dia kemudian menakluki Karbala’ untuk dirinya sehingga para penyair menyusun qasidah-qasidah penuh dengan rintihan, keluhan dan dukacita mereka.

Wahhabi 12 tahun kembali membuat serangan ke atas kota Karbala’ dan kawasan sekitarnya, termasuk Najaf. Mereka kembali sebagai perampas, penyamun dan pencuri pada tahun 1216H/1801M.

Al-`Allamah al-Marhum al-Sayyid Muhammad Jawwad al-`Amili mengatakan:[12][13]

“ Allah telah menentukan dan menetapkan dengan kebesaran dan keihsanan-Nya dan juga dengan berkah Muhammad saw, untuk melengkapkan bab ini pada kitab Miftah al-Karamah, selepas tengah malam 9 Ramadan al-mubarak tahun 1225H/1810M – menurut catatan penyusunnya …” dengan kekacauan fikiran dan kecelaruan keadaan, orang-orang `Arab dikelilingi oleh orang-orang dari `Unaizah al-Wahhabi al-Khariji di al-Najaf al-Asyraf dan masyhad al-Imam al-Husayn r.a – mereka telah memintas jalan dan merampas hak milik para penziarah al-Husayn r.a . Mereka membunuh sebagian besar daripadanya, terdiri daripada orang-orang `Ajam, sekitar kuranng lebih 150 orang …”

Jelaslah, bahwa tawhid yang diserukan oleh Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan kelompoknya adalah dengan darah dan harta orang yang menentang dakwah mereka,.

Al-Alusi dalam penjelasannya tentang Wahhabi mengatakan: “ Mereka menerima hadist2 yang datang dari Rasulullah saw bahwa Allah turun ke langit dunia dan berkata: Adakah orang-orang yang ingin memohon keampunan?”. Dan dia mengatakan: “ Mereka mengakui bahawa Allah ta`ala datang pada hari Qiyamat sebagaimana kata-Nya: “ dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya “ (al-Fajr (89): 23) dan sesungguhnya Allah menghampiri makhluk-Nya menurut kehendak-Nya seperti yang disebutkan: “ dan Kami lebih hampir kepadanya daripada urat lehernya “ (Qaf (50): 16).

Dapat dilihat dalam kitab al-Radd `ala al-Akhna’i oleh Ibn Taimiyyah bahwa dia menganggap hadist2 yang diriwayatkan tentang kelebihan ziarah Rasulullah saw sebagai hadith mawdu` (palsu). Dia juga turut menjelaskan “ orang yang berpegang kepada akidah bahawa Nabi masih hidup walaupun sesudah mati seperti kehidupannya semasa baginda masih hidup,” dia telah melakukan dosa yang besar. Inilah juga yang diiktiqadkan oleh Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan para pengikutnya, bahkan mereka menambahkan pemalsuan dan kebatilan Ibn Taimiyyah tersebut.

Para pengikut akidah Wahhabi yang batil memberikan tanggapan kepada para pengkaji yang melakukan penyelidikan mengenai Islam – meneliti kitab-kitab mereka hingga menyebabkan mereka akhirnya beranggapan bahwa Islam adalah agama yang kaku, beku, terbatas dan tidak dapat beradaptasi pada setiap masa dan zaman.

Lothrop Stodard berkebangsaan Amerika mengatakan: “ Kesan dari semua itu, kritikan2 telah timbul karena ulah Wahhabi berpegang kepada dalil tersebut dalam ucapan mereka hingga dikatakan bahawa Islam dari segi jawhar dan tabiatnya tidak mampu lagi berhadapan dengan perubahan menurut kehendak dan tuntutan zaman, tidak dapat berjalan seiringan dengan keadaan kemajuan dan proses perubahan serta tidak lagi mempunyai kesatuan dalam perkembangan kemajuan zaman dan perubahan masa …”[ 15 Hadir al-`Alam al-Islami, Vol.I, h.264].

Penentangan Terhadap Mazhab Wahhabi

Para ulama al-Hanbali memberontak terhadap Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan mengeluarkan hukum bahwa akidahnya adalah sesat, menyeleweng dan batil . Tokoh pertama yang mengumumkan penentangan terhadapnya adalah bapaknya sendiri, al-Syaikh `Abd al-Wahhab, diikuti oleh saudaranya, al-Syaikh Sulayman. Kedua-duanya adalah daripada mazhab al-Hanabilah. Al-Syaikh Sulayman menulis kitab yang berjudul al-Sawa`iq al-Ilahiyyah fi al-Radd `ala al-Wahhabiyyah untuk menentang dan memeranginya. Di samping itu tantangan juga datang dari sepupunya, `Abdullah bin Husayn.

Mufti Makkah, Zaini Dahlan mengatakan: “ `Abd al-Wahhab, bapak Muhammad bin abdul wahab adalah seorang yang salih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitulah juga dengan al-Syaikh Sulayman. Al-Syaikh `Abd al-Wahhab dan al-Syaikh Sulayman, kedua-duanya dari awal ketika Muhammad mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Kedua-duanya telah mengkritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingatkan orang ramai mengenai bahayanya pemikiran Muhammad…”[ Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]

Dalam keterangan Zaini Dahlan yang lain dikatakan bahawa “ bapaknya `Abd al-Wahhab, saudaranya Sulayman dan guru-gurunya telah dapat mengenali tanda2 penyelewengan agama (ilhad) dalam dirinya yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan dan tentangan Muhammad bin abd wahab terhadap banyak persoalan agama.”[ Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]

`Abbas Mahmud al-`Aqqad al-Misri mengatakan: “ Orang yang paling kuat menentang adalah saudaranya sendiri yaitu , al-Syaikh Sulayman, penulis kitab al-Sawa`iq al-Ilahiyyah. Beliau tidak mengakui saudaranya itu mencapai kedudukan berijtihad dan mampu memahami al-Kitab dan al-Sunnah. Al-Syaikh Sulayman berpendapat bahwa para Imam yang lalu, generasi demi generasi tidak pernah mengkafirkan ashab bid`ah, dalam hal ini tidak pernah timbul persoalan kufur sehingga timbulnya ketetapan mewajibkan mereka memisahkan diri daripadanya dan sehingga diharuskan pula memeranginya kerana alasan tersebut.”

Al-Syaikh Sulayman berkata lagi bahawa: “ Sesungguhnya perkara-perkara itu berlaku sebelum zaman al-Imam Ahmad bin Hanbal yaitu pada zaman para Imam Islam, dia mengingkarinya manakala ada di antara mereka juga mengingkarinya, keadaan itu berterusan sehingga dunia Islam meluas. Semua perbuatan itu dilakukan orang-orang yang kamu kafirkan mereka kerananya, dan tiada seorang pun daripada para Imam Islam yang menceritakan bahawa mereka mengkafirkan (seseorang) dengan sebab-sebab tersebut. Mereka tidak pernah mengatakan seseorang itu murtad, dan mereka juga tidak pernah menyuruh berjihad menentangnya. Mereka tidak menamakan negara-negara orang Islam sebagai negara syirik dan perang sebagaimana yang kamu katakan, bahkan kamu sanggup mengkafirkan orang yang tidak kafir kerana alasan-alasan ini meskipun kamu sendiri tidak melakukannya…”[ Al-Islam fi al-Qarn al-`Isyrin, h.108-109.]
Jelaslah bahwa Muhammad bin `Abd al-Wahhab bukan saja sengaja mengada-adakan bid`ah dalam pendapat dan pemikirannya, bahkan beberapa abad sebelumnya, pendapat dan pemikiran seperti itu telah pun didahului oleh Ibn Taimiyyah al-Harrani dan muridnya, Ibn al-Qayyim al-Jawzi dan tokoh-tokoh seperti mereka berdua.

Kemudian Muhammad bin `Abd al-Wahhab datang dengan membawa pemikiran Ibn Taimiyyah dan bersekongkol pula dengan keluarga Sa`ud dan salig mendukung di antara mereka dari segi pemerintahan dan keislaman. Di Najd, kesesatan telah tersebar dan faham al-Wahhabiyyah merebak ke seluruh pelosok tempat ibarat penyakit kangker (al-saratan) dalam tubuh badan manusia.

Dia menipu kebanyakan umat manusia, mazhab mereka mengatas namakan Tawhid dengan menjatuhkan hukuman ke atas Ahl al-Tawhid, menumpahkan darah umat Islam dengan alasan jihad menentang golongan musyrikin. Sehingga menyebabkan beribu-ribu orang manusia, lelaki dan wanita, kecil dan besar menjadi mangsa bid`ah mereka yang sesat. Ia turut juga menyebabkan perselisihan (khilaf) yang sempit semakin membesar dan menjadi-jadi di kalangan umat Islam. Musibah itu akhirnya sampai ke kepuncaknya dengan jatuhnya dua buah kota suci, Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.

Penduduk Najd bermazhab Wahhabi memperolehi bantuan dan pertolongan Inggeris yang ingin melihat perpecahan negara Islam. Mereka dengan secara sengaja berusaha menghapuskan segala kesan dan tinggalan Islam di kota-kota Makkah dan Madinah dengan memusnahkan kubur para wali (awliya’) Allah, mencemarkan kehormatan kerabat / keluarga Rasulullah saw(Aal Rasulillah) dan lain-lain dengan perbuatan2 yang tidak senonoh untuk mengoncangkan hati dan perasaan umat Islam.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan: “ Kemunculan secara tiba-tiba mazhab Wahhabi dan sewaktu mereka memegang kekuasaan di Makkah, operasi pemusnahan secara besar-besaran telah dilakukan oleh mereka dengan memusnahkan pertamanya, apa sahaja yang ada di al-Mu`alla, sebuah kawasan perkuburan Quraisy yang terdiri daripada kubah-kubah (qubbah) yang begitu banyak, termasuklah kubah-kubah Sayyidina `Abd al-Muttalib, datuk Nabi saw, Sayyidina Abi Talib, al-Sayyidah Khadijah sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada kubah-kubah tempat kelahiran Nabi saw, Abu Bakr dan al-Imam `Ali. Mereka juga turut memusnahkan kubah zamzam dan kubah-kubah lain di sekitar Ka`bah, seterusnya diikuti oleh kawasan-kawasan lain yang mempunyai kesan dan peninggalan orang-orang salih. Semasa mereka melakukan pemusnahan itu, mereka membuang kotoran sambil memukul gendang (al-tubul) dan menyanyi dengan mengeluarkan kata-kata mencaci dan menghina kubur-kubur … sehingga dikatakan sebahagian daripada mereka sanggup kencing di atas kubur-kubur para salihin tersebut.”[ Takmilah al-Sayf al-Sayqal, h.190, untuk penelitian selanjutnya, lihat: Al-Jabarti, Kasyf al-Irtiyab, h.40.]

Sejarah mencatat salah satu jasa NU yang paling besar ialah ketika dunia digoncangkan oleh berdirinya al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Sa‘ûdiyyah. Seorang Gubernur Najd yang namanya Muhammad bin Su`ud dengan Muhammad bin Abdul Wahab mendeklarasikan berdirinya kerajaan Saudi Arabia, memisahkan diri dari kekuasaan sentral Khalifah Usmani di Turki, kemudian mereka menang di Timur, lantas mengadakan ekspansi ke Barat, masuk ke Mekkah.

Setelah menguasai Mekkah, orang Najd itu membikin goncangan terhadap dunia Islam yaitu pertama, rumah Abdul Muthalib dijadikan WC, rumahnya Abu Thalib dijadikan kandang khimar, kuburan di Ma`la diratakan dengan tanah, tidak pandang bulu Sayyidah Khadijah, Abdullah bin Zubair dan lain sebagainya. Selesai di Mekkah, kemudian pindah ke Madinah, kuburan di Baqi’, 15 ribu sahabat diratakan dengan tanah, sampai sekarang kita pun tidak bisa cari mana satu persatu, hanya kira-kira saja. Terakhir tinggal makam Rasulullah saw. bersama Abu Bakar Ra. dan Umar Ra., itu pun akan dibongkar.

Dari situ KH.Wahab Hasbullah dan teman-temannya terpanggil untuk membentuk yang dinamakan Komite Hijaz. Berangkatlah tiga orang, Kiai Wahab, Kiai Fathurrahman, dan H. Hasan Dipo. Sampai di Jeddah, diterima oleh Raja Abdul Aziz, dan Kiai Wahab memohon atas nama umat Islam negeri jauh agar pemerintah Saudi Arabia tidak membongkar Makam Rasulullah Saw. beserta Abu Bakar dan Umar. Kedua, hendaknya Pemerintah Saudi Arabia memberi kebebasan kepada dluyûf al-rahmân selama di Mekkah-Madinah, baik haji atau umrah, melaksanakan ibadahnya sesuai dengan mazhabnya masing-masing. Dan oleh Raja Abdul Aziz, semua permohonan itu dikabulkan. Sehingga sampai sekarang makam Rasul, Abu Bakar dan Umar masih ada.

Al-`Allamah al-Sayyid Sadr al-Din al-Sadr mengatakan:

“ Demi usia hidupku, sesungguhnya al-Baqi` telah menerima nasib yang sangat malang, karena hati2 yang kecewa, mengikuti nafsu dan berperangai kebudak-budakan, maka berlakulah pencetus kepada segala kecelakaan, apabila tiada lagi kedamaian. Bagi umat Islam kepada Allah diadukan, hak Nabi-Nya yang telah memberikan petunjuk dan syafaat.”

“ Celakalah anak cucu Yahudi dengan perbuatan tidak senonoh yang mereka lakukan, mereka tidak mendapat apa-apa daripadanya dengan membongkarkan harim Muhammad saw dan keluarganya . Neraka wail untuk mereka dengan apa yang mereka tentang terhadap orang-orang yang kuat. Mereka musnahkan kubur orang-orang salih dengan perasaan benci mereka. Hindarkanlah daripada mereka karena sesungguhnya mereka membenci orang-orang yang terpilih (di sisi Allah).”

Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa: “ Apabila sesuatu bid`ah itu muncul di kalangan umatku, maka orang-orang alim hendaklah memperlihatkan dan menyampaikan ilmu mereka kerana kalau mereka tidak melakukannya, laknat Allah akan ditimpakan ke atas mereka.”

Rasulullah saw juga bersabda: “ Apabila bid`ah timbul dan orang-orang yang terkemudian daripada umat ini melaknat orang-orang yang terdahulu, maka barang siapa yang memiliki keilmuan, maka hendaklah menyampaikannya. Sesungguhnya orang yang menyembunyikan keilmuannya pada hari itu seumpama orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad.”

Para Siddiqin r.a dari keluarga Rasulullah saw mengatakan bahwa: “ Apabila bid`ah lahir, maka orang alim hendaklah menzahirkan keilmuannya, sekiranya dia tidak berbuat demikian, cahaya keimanan (Nur al-Iman) akan hilang.”

Atas dasar inilah Sunni telah bangkit menentang serangan mazhab Wahhabi. Mereka telah menulis, menerbitkan kitab2 dan menjelaskan keburukan dan kejahatan tokoh2 Wahabi yang berusaha untuk merealisasikan cita2 dan harapan penjajah Inggeris.

Kitab pertama yang ditulis untuk menolak dan menentang fahaman Muhammad ibn `Abd al-Wahhab ialah al-Sawa`iq al-Ilahiyyah fi al-Radd `ala al-Wahhabiyyah yang ditulis oleh al-Syaikh Sulayman, iaitu saudara kepada Muhammad sendiri.

Pada zaman itu, golongan Wahhabi telah meningkatkan serangan mereka yang merusakkan dan berbahaya terhadap Islam. Dan pengikutnya meneruskan penentangan dan peperangan yang didalangi oleh keluarga Sa`ud dengan bantuan daripada hasil keuntungan minyak mereka. Pemerintahan kesultanan Sa`udi telah memperuntukkan sejumlah besar hasil keuntungan minyak mereka untuk menyebarkan dan mengembangkan mazhab ciptaan penjajah Inggeris ini di kalangan orang Islam. Kalaulah tidak karena kekayaan yang besar itu tentulah mazhab Wahhabi tidak akan dapat bertahan hingga hari ini.

Kelihatan bahwa unsur-unsur penjajahan (al-isti`mar) Inggeris begitu jelas menerusi mazhab tersebut dan mereka mengambilnya sebagai cara yang terbaik untuk mewujudkan perpecahan, persengketaan, permusuhan, perselisihan dan pertentangan di kalangan umat Islam sendiri. Mazhab tersebut juga turut memperkuatkan dan memperkukuhkan matlamat penjajahan Inggeris dengan mengada-adakan fitnah di kalangan umat Islam seperti menuduh orang-orang Islam yang lain sebagai fasiq, kafir , musyrik , mubtadi’ , dsb.

Umat Islam yang tidak prihatin dan mempunyai pemikiran yang cetek dengan mudah diperdayakan oleh mereka sehingga akhirnya mereka secara sadar atau tidak, turut membantu usaha2 mazhab Wahhabi dan Inggeris. Bahkan melaksanakannya dalam kehidupan mereka menerusi perbuatan dan tindakan biadab terhadap umat Islam lain yang dianggap sebagai lawan2 mereka. Keadaan yang berlanjutan ini menyebabkan umat Islam menjadi lemah dan mudah dipermainkan oleh musuh2 Islam yang bertopeng Islam. ( http://www.sidogiri.com)

Apakah madzad seperti ini yang kalian banggakan!!!

Posted in Uncategorized | Tagged: | Leave a Comment »

Awas Wahabi!!! mengaku sebagai salafi dan ahlusunnah

Posted by admin on April 5, 2008

Awas Wahabi!!! mengaku sebagai salafi dan ahlusunnah, tapi menyesatkan dan mengkafirkan ummat yang berpegang teguh pada 4 imam madzab (padahal ke empat imam madzab adalah termasuk golongan tabi’in dan tabiutta’in)

Salah Satu dari Tanda-tanda Ahir Zaman : Generasi Ahir umat ini, Menghina Generasi Awal!!!

Jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah r, di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu memperingatkan para Sahabat t dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”

Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren “kaum Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.

A. Sejarah Hitam

Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat t menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.

Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.

B. Kerapuhan Ideologi

Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak duduk, tidak bersemayam di ‘Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh), adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.

Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)

C. Kerapuhan Tradisi

Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah r, para Sahabat t, ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain.

Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak mengagungkan Nabi r, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam u, para Sahabat t, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.

Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah r) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi r dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan. Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.

Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Wallâhul-hâdî. [BS] (www.sidogiri.com)

hati-hati dengan buku yg dibagikan kepada jamaah haji di makkah (itu buku2 wahhabi)

– hati-hati dengan kitab-kitab terjamahan yang telah di-edit oleh ulama-ulama wahabil (ex : kitab riyadhussholihin yang telah di-edit oleh syaikh albani, penjelasannya bertentangan dengan kitab aslinya yg disusun oleh imam nawawi)..

– pada saudara2ku yang jauh dari kyai (ulama) semenjak kecilnya….dan sekarang terkena fitnah wahabbi tobatlah dan pelajari betul-betul salah satu dari fiqh 4 madzab dgn berguru pada ulama yg berpegang teguh pada salah satu 4 madzab tsb…, insyaAllah lebih selamat!!!

– kaum muslimin masih selamat dari faham wahabbi…jangan sekolahkan anak-anak anda pada pondok-pondok wahabbi (sekolah dari/di cabang sekolah arab saudi (makkah ,madinah ), yaman (kecuali di daerah hadhramaut masih banyak yg bermadazab syafei, maliki), mesir….kecuali tahu betul2 itu bukan pondok wahabbi)…jgn tergiur dgn biaya gratis atau beasiswa dari sekolah2 tsb…selamatkan aqidah anda dan umat ini……………

– Awas Majalah-majalah wahabi di indonesia !!!! :

1. Majalah As Sunnah 2. Majalah Al Furqon (Ustadz Ahmad Sabiq, dll) 3. Majalah Asysyariah (Ustadz Muhammad Umar As sewed, dll) 4. Majalah An Nashihah (ustadz Dzulqarnain,dll) 5. Majalah Fatawa (Ustadz Abu Nida’, dll) 6. Majalah Qiblati (Ustadz Agus hasan Bashari,dll) 7. Majalah Ar Risalah (Ustadz abu Umar Abdillah,dll) 8. Majalah Swaraquran ( pesantren Taruna Al Quran/ Ustadz Umar Budiargo, dll) 9. Majalah Elfata (Ustadz Abu Umar Basyir, dll) 10. Majalah Adz Dzakhirah 11. Majalah Nikah (Ustadz Abu Umar Basyir, dll) 12. Majalah Al Mawaddah majalah anak-anak: KINAN, WILDAN, YA BUNAYYA, DL

Posted in Uncategorized | Tagged: | Leave a Comment »

manaqib (biografi) imam syafei

Posted by admin on April 5, 2008

Manaqib Imam Syafei

Tahun 150 H, seorang bayi lahir dari rahim seorang Muslimah di Gazza. Entah kebetulan atau tidak, kelahirannya sarat dengan isyarat-isyarat yang menakjubkan. Pada hari lahirnya, dua ulama besar meninggal dunia, mufti terkenal Hijaz yaitu Imam Ibnu Juraij dan pendiri mazhab Hanafi, yaitu Imam Abu Hanifah.

Sewaktu hamil, sang ibu bermimpi melihat bintang keluar dari perutnya, membubung tinggi ke atas, lalu pecah tercerai berai di langit menerangi daerah-daerah sekelilingnya. Dalam prediksi para ahli, hal itu pertanda akan lahir seorang bayi yang nantinya memiliki pengetahuan yang luas. Bayi itu tidak lain adalah Muhammad bin Idris yang kemudian lebih akrab dengan sebutan Imam asy-Syafii. Ternyata, berpuluh-puluh tahun kemudian, Imam asy-Syafii menjadi mujtahid muthlaq seakan menjawab takwil dari mimpi sang ibu.


Imam Asy-Syafii menyuguhkan sosok pemikiran fikih yang segar, baru dan moderat antara fikih tradisionalis dan fikih rasionalis. Konsep dan teori fikihnya mencoba mengambil jalan tengah antara dua kutub kecendrungan intelektual yang berbeda: antara aliran Hadits (ahl al-Hadîts) dan aliran rasional (ahl ar-ra’yi).


Posisi beliau sebagai penengah sekaligus pendatang baru ini tidak membuat ide-idenya kalah pamor. Imam asy-Syafii tampil mengimbangi perputaran mazhab pemikiran di zamannya. Imam asy-Syafii mendapatkan sorotan tajam, diteliti, diuji, lalu mulai diminati dan bahkan akhirnya diikuti.


Pengalaman-pengalaman apa saja yang membentuk fikih asy-Syafii? Untuk mengetahui hal ini, kita perlu menjelajahi jejak pengembaraan intelektualnya dari jenjang terendah sampai jenjang yang lebih tinggi.

Awal Belajar

Sebelum Imam asy-Syafii muncul sebagai mujtahid besar dengan mazhab yang baru, asy-Syafii mengumpulkan perangkat ijtihadnya melalui proses belajar yang panjang. Fikih asy-Syafii merupakan rumusan baru dari berbagai komposisi fikih yang beliau pelajari semasa hidupnya.

Tempat yang menjadi ‘madrasah’ pertama bagi Imam asy-Syafii adalah kota Mekah. Beliau sudah singgah di Kota Suci itu sejak dibawa oleh sang ibu saat masih berusia dua tahun. Dalam proses belajar yang dijalaninya, asy-Syafii menampakkan kelebihan sebagai cikal bakal bibit unggul seorang ulama. Pada usia 9 tahun saja, beliau sudah bisa menghapal 30 juz al-Qur’an dengan lancar, dan satu tahun berikutnya, beliau sudah mampu membaca kitab Muwattha’, salah satu karya fenomenal Imam Malik.

Bakat dan kecerdasan asy-Syafii sangat membantunya untuk menguasai seluk-beluk bahasa Arab dan ilmu tata bahasanya. Beliau mempelajari bahasa Arab langsung dari sumber yang aslinya, yaitu kabilah-kabilah pedalaman yang bahasanya masih belum tercampur oleh bahasa asing.

Pada usia 15 tahun, asy-Syafii sudah menjadi seorang mufti, sebanding dengan para ulama sepuh di zamannya. Ulama-ulama Mekah yang berjasa menularkan ilmunya kepada Imam asy-Syafii adalah Imam Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid az-Zanji dan Said bin Salim al-Qaddah. Mereka merupakan murid-murid dari ulama Tabiin yang keilmuannya sangat masyhur, di antaranya Mujahid bin Jabr yang terkenal dengan periwayatannya tentang qaul-qaul Ibnu Abbas mengenai tafsir al-Qur’an; ‘Atha’ bin Abi Rabah, pakar fikih Mekah yang dikenal dengan ilmu manasik hajinya yang lengkap; dan Thawus bin Kisan yang menjabat sebagai mufti sekaligus salah satu murid spesial Ibn Abbas. Bila dirunut lebih jauh, fikih Mekah sejatinya berafiliasi pada dua sahabat besar, yaitu Muadz bin Jabal dan Abdullah bin Abbas.

Setelah dari Mekah, asy-Syafii dalam usia 13 tahun berpindah ke daerah sebelahnya, Madinah, daerah yang pernah didiami Rasulullah r selama kurang lebih 10 tahun. Madinah merupakan salah satu gudang ilmu yang dihuni oleh tokoh-tokoh Shahabat semisal Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman, Ali bin Abi Thalib, Abbdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas dan Aisyah. Ilmu mereka menurun pada Tabiin, di antaranya Said bin Musayyib, Urwah bin az-Zubair dan lain-lain. Kemudian berpindah pada kalangan Tabi’ut Tabiin seperti Ibnu Syihab az-Zuhri, Nafi` mantan budak Umar bin Khattab, Rabiah ar-Ra’yi, Yahya bin Said dan Abu az-Zannad Abdullah bin Dzakwan. Hingga pada akhirnya beralih ke Imam asy-Syafii melalui perantara Abdul Aziz ad-Darawardi, Abdullah bin Nafi` dan Imam Malik.

Selama di Madinah, Imam asy-Syafii berhasil merampungkan belajar fikih Maliki sampai wafatnya sang guru, Imam Malik, pada tahun 179 H. Imam asy-Syafii menguasai corak dan metodologi fikih ala Mazhab Maliki yang notabenenya merupakan aliran Hadits (ahl al-Hadîts).

Mazhab Maliki menyatakan bahwa Hadits Âhâd (Hadits yang jalur riwayatnya tidak banyak) yang sahih atau hasan harus didahulukan sebagai dasar hukum dibanding dari qiyâs (analogi). Hanya saja, menurut Mazhab Maliki Hadits Âhâd tidak bisa dipakai sebagai dasar hukum jika berlawanan dengan perbuatan penduduk Madinah. Karena suatu perbuatan yang diterima oleh khalayak ramai, posisinya sama dengan riwayat yang masyhur, sehingga harus didahulukan ketimbang riwayat yang hanya dibawa oleh satu orang saja.

Belajar lagi dan Lagi

Setelah mangkatnya imam Malik, asy-Syafii melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke negeri di ujung selatan Semenanjung Arab, yaitu Yaman. Lingkungan dan kondisi Yaman—dengan corak sosial budaya lokalnya dan kedudukan asy-Syafii yang pada waktu itu menjabat sebagai sekretaris gubernur plus mufti—merupakan suatu tantangan dan pengalaman baru yang menuntut lebih aktifnya Imam asy-Syafii dalam memahami latar belakang persoalan dan mencoba menghubungkannya dengan konsep fikih yang dimilikinya.

Kenyataan tentunya akan memberikan pengaruh yang baru bagi pola mazhab yang dirancang oleh Imam asy-Syafii. Dan, di Yaman ini beliau juga banyak meraup Hadits dan berbagai ilmu lainya dari para ulama Yaman seperti Abu Ayyub Muthraf bin Mazin al-Shan’ani, Abu Abdirrahman Hisyam bin Yusuf , Amr bin Abi Salmah (murid imam al-Auzai), dan Yahya bin Hassan (salah satu ulama pengikut Imam al-Laits bin Sa’d. Fikih mereka berpangkal pada Shahabat Mu`adz bin Jabal, Khalid bin Walid dan Ali bin Abi Thalib.

Ketegaran dan komitmen asy-Syafii dalam menegakkan hukum Islam menyebabkan rasa dendam pada orang-orang yang tidak menyukainya. Oleh karena itu, pada tahun 184 H, asy-Syafii harus berlawat ke Baghdad menemui Khalifah Harun ar-Rasyid karena dituduh menjadi penyebar ajaran syiah. Namun, beliau berhasil bebas dengan terhormat setelah terbukti tidak bersalah.

Kesempatan pergi ke Iraq, merupakan peluang besar untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuannya. Kebetulan kondisi sosial dan kecenderungan intelektual Iraq, terutama Baghdad, beda jauh dengan Hijaz dan Yaman. Sebagai ibukota Dinasti Abbasiyah tentu saja Baghdad menjadi kota dengan kemajuan peradaban yang luar biasa. Baghdad adalah pusat pertanian, perdagangan, ilmu pengetahuan, penelitian dan kegiatan ilmiah lainnya.

Hijaz (Mekah, Madinah sampai Yaman) unggul karena kekayaan khazanah Haditsnya, sedangkan Iraq memiliki perbendaharaan Hadits yang minim. Corak fikih di Iraq lebih banyak menggunakan pertimbangan akal dibanding fikih Hijaz. Fikih Iraq merupakan warisan Shahabat Abdullah bin Mas’ud yang kemudian diusung oleh Abu Hanifah, seorang mujtahid besar dan pendiri Mazhab Hanafi. Selanjutnya, fikih tersebut diwarisi oleh Waki’ bin al-Jarrah dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani. Kepada mereka berdualah, Imam asy-Syafii berguru fikih di Iraq.

Setelah cukup lama malang melintang ke berbagai wilayah, Imam asy-Syafii akhirnya kembali ke Mekah. Di sana, beliau mengajar dan aktif menyebarkan ilmu.

Dengan pengembaraan yang luar biasa ini, Imam asy-Syafii memiliki sekian banyak perbandingan. Dalam diri beliau terkumpul serpihan demi serpihan gagasan, yang siap untuk dirumuskan dan diolah menjadi buah pemikiran yang segar.

Kelahiran dan Pertumbuhan Mazhab asy-Syafii

Setelah mengantongi seabrek pemikiran fikih dari Mekah, Madinah, Yaman dan Iraq, maka pada tahun 195 H, Imam asy-Syafii mendeklarasikan mazhabnya yang baru. Hal ini terjadi bersamaan dengan kunjungan beliau ke Baghdad untuk kedua kalinya. Pada momen-momen inilah pemikiran Imam asy-Syafii memasuki tahap pengujian sebelum akhirnya diterima masyarakat luas. Dengan intens, Imam asy-Syafii menyebarkan mazhabnya di Iraq sekitar 2 tahun, baik lewat lisan maupun tulisan. Di Baghad beliau menulis kitab ar-Risâlah yang kemudian menjadi pelopor lahirnya ilmu ushul fikih. Imam asy-Syafii memiliki para pengikut (ashâb) seperti Imam Ahmad bin Hanbal, az-Za’farani, al-Karabisi dan Abu Tsaur. Seluruh pendapat dan karya Imam asy-Syafii selama berada Baghdad ini kemudian disebut dengan qaul qadîm (pendapat lama dari Imam asy-Syafii).

Kematangan dan Kesempurnaan Mazhab asy-Syafii

Titik awal tahap ini dimulai sejak kedatangan Imam asy-Syafii ke Mesir pada akhir-akhir tahun 199 H sampai wafatnya tahun 204 H. Meskipun dalam kurun waktu yang sebentar, yaitu tidak lebih dari 5 tahun dari sisa usianya, masa-masa ini merupakan masa-masa yang menebarkan keharuman dan keagungan Imam asy-Syafi`i. Masa-masa yang penuh dengan inovasi dan kreasi-kreasi subur dari hasil kerja olah pikir Imam asy-Syafii. Pergumulannya dengan para ulama dan pemikiran-pemikiran di Mesir serta pengamatannya yang tajam terhadap kondisi sosial budaya dan kemasyarakatan yang berbeda dengan daerah Hijaz dan Iraq, membuat Imam asy-Syafii menengok kembali pendapat-pendapat yang pernah beliau publikasikan sewaktu berada di Baghdad (qaul qadîm). Imam Syafii pun mengeluarkan revisi atas qaul qadîm-nya. Revisi ini yang kemudian lebih dikenal dengan istilah qaul jadîd. Pemikiran-pemikiran barunya dibukukan ke berbagai kitab, di antaranya kitab al-Ummu yang menjadi salah satu kitab induk dalam mazhab asy-Syafii.

Inovasi-inovasi asy-Syafii ini membuat beberapa ulama-ulama besar dari mazhab lain berbelok arah menjadi pengikutnya, seperti Imam al-Muzani yang sebelumnya bermazhab Hanafi dan al-Buwaithi yang pada awalnya menganut Mazhab Maliki.

**********

Sampai di sini, kita tahu betapa keras perjuangan Imam asy-Syafii dalam melakoni proses pencarian jati diri pemikirannya. Berkat perjuangan, pengembaraan, dan kemauan yang tak kenal lelah, didukung dengan kecerdasan yang tinggi, Allah menganugerahi Imam asy-Syafii kemampuan untuk menjadi mujtahid. Ijtihadnya melahirkan fikih yang matang dan akomodatif, akumulasi dari fikih Hijaz, Iraq, Yaman, dan Mesir. Inilah fikih yang mengeksplorasi kekayaan tradisi dengan pemahaman mendalam tentang dalil-dalil syariat.[ http://www.sidogiri.com ]

Posted in Uncategorized | Tagged: | Comments Off on manaqib (biografi) imam syafei

Mudzakarah 6 sifat sahabat

Posted by admin on April 5, 2008

Mudzakarah 6 Sifat Shahabat

Allah SWT meletakkan kesuksesan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat hanyalah pada agama Islam yang sempurna. Agama Islam yang sempurna adalah agama yang dibawa oleh Rasululloh SAW. Meliputi Iman, Ibadah, Muamalah, Muasyarat dan Ahlaq. Pada saat ini umat islam tidak ada kekuatan dan kemampuan untuk mengamalkan agama secara sempurna. Para sahabat RA telah sukses dan jaya dalam mengamalkan agama secara sempurna karena mereka memiliki sifat-sifat dasar yang terkandung dalam enam sifat sahabat yang meliputi, 1. Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah” 2. Sholat khusyu’ dan khudlu’ 3. Ilmu ma’adzikir 4. Ikromul Muslimin 5. Tashihun niat 6. Da’wah dan tabligh khuruj fi sabilillah. Enam sifat sahabat RA tersebut bukan merupakan wujud agama yang sempurna, karena agama yang sempurna terkandung dalam al qur’an dan al hadits, tetapi apabila enam sifat para sahabat tersebut ada dalam diri kita maka Allah SWT akan memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkan agama secara sempurna.

1. Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah“.
Arti : Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt. Dan Baginda Muhammad Saw. Adalah utusan Allah.
Maksud Laa ilaha illallah
Mengeluarkan keyakinan pada mahluk dari dalam hati dan memasukkan keyakinan hanya kepada Allah Swt. Di dalam hati.
Fadhilah :
1. Barang siapa yang mati sedangkan dia yakin tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt., maka dijamin masuk surga.
2. Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan hatinya membenarkan lisannya, maka dipersilahkan masuk surga dari pintu mana yang dia suka.
3. Sekecil-kecil iman dalam hati maka akan Allah berikan surga yang luasnya 10 kali dunia.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya iman yakin.
2. Latihan dengan cara memperbanyak halaqoh-halaqoh / majlis iman yakin (bicara atau dengar).
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat iman dan yakin.
Maksud Muhammadarrasulullah
Meyakini hanya satu-satunya jalan untuk mencapai kejayaan dunia dan akherat hanya dengan cara ikut sunnah Rasulullah Saw.
Fadhilah :
1. Rasulullah Saw. bersabda, Tidak akan masuk neraka seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Aku (Muhammad) sebagai utusan Allah.
2. Rasulullah Saw. bersabda barang siapa yang berpegang teguh dengan sunnahku dikala rusaknya ummatku maka baginya pahala 100 orang mati syahid.
3. Rasulullah Saw. Bersabda barang siapa menghidupkan sunnahku sungguh dia cinta padaku, dan barangsiapa yang cinta padaku maka akan bersamaku didalam surga.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya menghidupkan sunnah Rasulullah Saw.
2. Latihan , yaitu dengan cara menghidupkan sunnah Rasulullah Saw. Dalam kehidupan kita selama 24 jam.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menghidupkan sunnah.

2. Sholat khusyu’ dan khudlu’
Arti : Shalat dengan konsentrasi batin dan merendahkan diri dengan mengikut cara yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Maksud Shalat Khusu dan Khudu
Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah Swt didalam shalat kedalam kehidupan sehari-hari.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
2. Allah berfirman : Carilah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat.
3. Rasulullah Saw. Bersabda : shalat adalah milahnya orang beriman.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya shalat
2. Latihan dengan cara :
a. Memperbaiki dhahirnya shalat.
b. Menghadirkan keagungan Allah
c. Belajar menyelesaikan masalah dengan shalat
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat shalat khusyu dan khudu.

3. Ilmu ma’adzikir
Arti Ilmu : Semua petunjuk yang dating dari Allah Swt melalui Baginda Rasulullah Saw.
Arti Dzikir: Mengingat Allah sebagaimana agungnya Allah.
Maksud Ilmu ma’adzikir
Mengamalkan perintah Allah Swt. Pada setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan keagungan Allah didalam hati dan ikut cara Rasulullah Saw.
Fadhilah Ilmu:
1. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka akan Allah fahamkan dirinya pada masalah agama.
2. Barangsiapa berjalan mencari ilmu maka akan Allah mudahkan untuknya jalan menuju surga.
3. Barangsiapa mempelajari satu ayat Al Quran maka nilainya adalah lebih baik daripada shalat sunnah 100 rakaat. Barangsiapa mempelajari satu bab dari ilmu maka lebih baik nilainya daripada shalat sunnah 1000 rakaat.
Fadhilah Dzikir:
1. Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dibandingkan dengan orang yang mati.
2. Allah berfirman : Dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.
3. Allah berfirman : Ingatlah pada Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu.
Cara mendapatkan ilmu fadhail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu fadhail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh fadhail di masjid dan di rumah.
b. Ajak manusia untuk duduk dalam halaqoh fadhail
c. Hadirkan fadhail dalam setiap amalan .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu fadhail.
Cara mendapatkan ilmu masail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu masail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh masail dengan para alim ulama.
b. Bertanya kepada ulama baik untuk masalah agama maupun dunia.
c. Sering berziarah kepada para alim ulama .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu masail.
Cara mendapatkan dzikir :
1. Dakwahkan pentingnya dzikir kepada Allah Swt.
2. Latihan dengan cara :
a. Setiap hari membaca Al Quran (usahakan 1 juz).
b. Membaca tasbihat, shalawat dan istigfar masing-masing 100 X.
Ketika membaca tasbihat maka hadirkan kemahasucian Allah
Ketika membaca shalawat maka ingat jasa-jasa Rasulullah kepada kita.
Ketika membaca istigfar maka hadirkan sifat Maha Pengampunnya Allah.
c. Amalkan doa-doa masnunah (harian) .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dzikir.

4. Ikromul Muslimin
Arti : Memuliakan sesame orang islam / muslim.
Maksud ikramul muslimin
Menunaikan hak-hak semua orang islam tanpa meminta hak daripadanya.
Fadhilah :
1. Allah akan menolong seorang hamba selagi dia menolong saudaranya.
2. Barang siapa menutup aib saudaranya yang muslim maka Allah akan menutup aibnya dan barang siapa membuka aib saudaranya yang muslim maka Allah akan membuka aibnya sampai dia akan dipermalukan di rumahnya sendiri.
3. Senyummu didepan saudaramu adalah sedekah.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikram
2. Latihan dengan cara :
a. Memberi salam kepada orang yang kita kenal ataupun yang tidak kita kenal.
b. Menyayangi yang muda, menghormati yang tua, memuliakan uloama dan menghormati sesama.
c. Berbaur dengan semua orang yang berbeda-beda wataknya.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan ahlaq sebagaimana ahlaq Baginda Rasulullah Saw.

5. Tashihun niat
Arti : Membetulkan / meluruskan niat
Maksud tashihun niat
Membersihkan niat pada setiap amalan semata-mata karena Allah Swt.
Fadhilah :
1. Sesungguhnya Allahtidak akan menerima amalan seseorang kecuali dengan ikhlas.
2. Sesungguhnya Allah tidak memandang pada rupamu dan hartamu tetapi Dia akan memandang pada hatimu dan amalanmu.
3. Baginda Rasulullah Saw. Bersabda : Wahai Muadz jagalah keihklasan karena amal yang ikhlas walau sedikit akan mencukupi.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikhlas.
2. Latihan dengan cara : setiap beramal periksa niat kita, sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal, bersihkan niat agar semata-mata hanya karena Allah.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ikhlas dalam beramal.

6. Da’wah dan tabligh khuruj fi sabilillah
Arti : Dakwah mengajak, Tabligh menyampaikan dan khuruj fisabilillah adalah keluar di jalan Allah.
Maksud
1. Memperbaiki diri, yaitu bagaimana agar dapat menggunakan harta diri dan waktu sebagaimana yang diperintahkan Allah.
2. Menghidupkan agama secara sempurna pada diri sendiri dan semua manusia diseluruh alam dengan menggunakan harta dan diri sendiri.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : dan adakah yang perkataannya lebih baik daripada seseorang yang mengajak manusia kepada Allah.
2. Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk kebaikan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkan.
3. Sepagi sepetang dijalan Allah lebih baik daripada mendapatkan dunia dan seisinya.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya dakwah dan tabligh.
2. Latihan dengan cara : keluar dijalan Allah minimal 4 bulan seumur hidup, 40 h setiap tahun, 3h setiap bulan dan 2,5 jam setiap hari. Tingkatkan dengan cara bertahap-tahap menjadi 4 bl tiap tahun, 10h tiap bulan dan 8 jam setiap hari.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dakwah dan tabligh yaitu dapat menggunakan harta, diri dan waktu untuk kepentingan agama.

Posted in Uncategorized | Tagged: | Comments Off on Mudzakarah 6 sifat sahabat

Hello world!

Posted by admin on April 5, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | Tagged: | Leave a Comment »