Ahlusunnah vs Ahlubidd’ah (Wahabi Al yahudiah)

Bahaya wahabi alyahudiah yang mengaku salafy

Archive for the ‘shohih’ Category

Kisah Shohih Isra’ Mi’roj Nabi Muhammad Menurut Ahlusunnah

Posted by admin on June 10, 2008

Silahkan Download kitab ini di :

http://darulfatwa.org.au/languages/Indonesian/Al-Isra_wal_Mi%5Eraj.pdf

http://www.darulfatwa.org.au
SALAM REDAKSI
Para pembaca al huda yang budiman, di
antara mukjizat besar yang diberikan Allah kepada
Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam
adalah Isra’ dan Mi’raj, sebuah peristiwa luar biasa
yang terjadi sepanjang sejarah peradaban
manusia, peristiwa nyata yang telah terjadi dan kita
wajib mempercayainya.
Tepatnya tanggal 27 Rajab, atas perintah
Allah ta’ala Malaikat Jibril datang dengan
membawa kendaraan yang disebut dengan Buraq.
Kendaraan yang mempunyai kecepatan yang luar
biasa; sejauh mata Buraq memandang sejauh itu
pulalah Buraq melangkah. Dengan tanpa
meninggalkan jejak sang malaikat membuka atap
rumah tempat Rasulullah tidur, perlahan-lahan
Jibril membangunkan Rasulullah dan mengajaknya
keluar untuk menyaksikan tanda-tanda kekuasaan
Allah, baik yang berada di bumi maupun yang
berada di langit. Dari masjid al Haram Rasulullah
memulai perjalanannya (Isra’) dengan melewati
beberapa tempat bersejarah hingga akhirnya
beliau sampai di masjid al Aqsha, di masjid inilah
Rasulullah dipertemukan dengan semua para nabi
dan melakukan shalat dua raka’at dengan para
nabi dan sekaligus menjadi imam mereka, ini juga
merupakan dalil bahwa Nabi Muhammad adalah
nabi yang termulia di antara para nabi.
Setelah Isra’, Rasulullah yang ditemani
Malaikat Jibril melanjutkan perjalanannya menuju
Sidrat al Muntaha. Perjalanan ini disebut dengan
Mi’raj; perjalanan yang dimulai dari masjid al Aqsha
hingga ke atas sidrat al Muntaha, ke atas langit ke
tujuh.
Hanya dalam waktu sepertiga malam saja
Rasulullah sudah kembali ke tempat tidurnya dari
perjalanan Isra’ dan Mi’rajnya. Sungguh
menakjubkan, namun itulah bukti kekuasaan Allah
yang sempurna dan tidak ada bandingannya dan
inilah yang disebut dengan Mukjizat; bukti
kebenaran akan kenabian dan kerasulan
Muhammad Shallallahu ‘alayhi Wasallam.
Lebih jelasnya tentang hikmah isra’ dan
mi’raj, mari kita baca ulasan ringkas al Huda kali
ini. Semoga kita mendapat ilmu yang bermanfaat
amin ya Rabbal ‘alamin.
http://www.darulfatwa.org.au
Dars
بسم الله الرحمن الرحيم
( سبحن الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد
الأقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير )
( (سورة الإسراء : 1
Maknanya : “Maha suci Allah yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam
dari masjid al Haram menuju masjid al Aqsha yang
telah kami berkahi sekelilingnya agar kami
perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda
(kekuasaan) kami” (Q.S. al Isra’ : 1)
Tafsir ayat :
Dalam Bahasa Arab as-Sabhu maknanya at-
Taba’ud; jauh. Jadi perkataan سبح الله تعالى
“bertasbihlah kepada Allah ta’ala” maknanya
adalah jauhkan dan sucikan Allah dari hal-hal
yang tidak layak bagi-Nya, yaitu menyerupai
makhluk dan segala sifatnya; seperti bentuk lathif
(yang tidak dapat dipegang oleh tangan seperti
cahaya, kegelapan, roh, angin dan lainnya)
maupun benda katsif (yang dapat dipegang oleh
tangan seperti manusia, pohon, batu, air dan
lainnya) maupun sifat-sifat keduanya; seperti
berwarna, bergerak, diam, berukuran (baik yang
besar maupun yang kecil), menetap pada suatu
arah atau tempat. Hal ini mengingat bahwa Allah
mensucikan Dzat-Nya dari sifat-sifat ciptaan-Nya
dalam firman-Nya :
( ( ليس كمثله شئ ) (سورة الشورى : 11
Maka seandainya Dia berupa bentuk, baik bentuk
besar atau kecil niscaya banyak makhluk yang
menyerupai-Nya.
Makna bi ‘abdihi ( بعبده ) adalah hamba-Nya
yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi
wasallam. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi
Muhammad telah sampai pada derajat yang tinggi
dan tingkatan yang luhur dalam peristiwa Mi’raj,
Allah menyampaikan wahyu kepadanya yang
maknanya: “Wahai Muhammad dengan apa Aku
memuliakanmu ?”, Nabi menjawab : “Dengan
penisbatan (penyandaran) diriku kepada-Mu
dengan sifat penghambaan (‘ubudiyyah)”.
Kemudian turunlah firman-Nya: “Subhanalladzi
asra bi ‘abdihi…”. Maknanya: penyebutan
Rasulullah dengan dinisbatkan kepada Allah dalam
“‘abdihi”; hamba-Nya merupakan puncak
http://www.darulfatwa.org.au
pemuliaan terhadap Rasulullah mengingat hambahamba
Allah banyak, mengapa beliau secara
khusus disebutkan dalam ayat ini sebagai hamba-
Nya?, ini menunjukkan bahwa Rasulullah
dikhususkan dengan kemuliaan yang paling agung.
Firman-Nya lailan ( ليلا ) dibaca nashab
sebagai zharaf (keterangan waktu). Jika dikatakan:
“Mengapa disertakan penyebutan malam ?”, maka
jawabnya adalah penyebutan lailan sebagai
penguat yang menunjukkan waktu atau masa
terjadi peristiwa Isra’ itu yang sangat singkat dan
sebentar saja, yaitu hanya dalam waktu kurang
dari sepertiga malam saja. Sebab Nabi mengalami
peristiwa tersebut hanya sebagian waktu malam
saja dari Makkah menuju Syam. Al Masjid al
Haram adalah masjid di Makkah. Dinamakan
demikian karena kehormatannya yakni
kemuliaannya atas seluruh masjid-masjid yang ada
di bumi ini, dengan memiliki hukum-hukum tertentu
yang tidak berlaku bagi masjid lainnya. Seperti
berlipat gandanya pahala amal yang dikerjakan di
sana, sebagaimana tersebut dalam beberapa
hadits yang shahih seperti misalnya: sekali shalat
di sana sebanding dengan seratus ribu kali shalat
di selainnya (selain Masjid an-Nabawi dan Masjid
al Aqsha), sedangkan shalat di masjid an-Nabawi
sebanding dengan seribu kali shalat di masjid
lainnya dan sekali shalat di masjid al Aqsha
sebanding dengan lima ratus kali shalat di masjid
lainnya. Al Masjid al Aqsha dinamakan demikian
karena jaraknya yang jauh (dari Masjid al Haram).
Firman Allah : ( ( الذي باركنا حوله
Maknanya : “Yang telah Kami berkati
sekelilingnya”, Dikatakan demikian karena al
Masjid al Aqsha adalah tempat menetap para nabi
dan tempat turunnya malaikat. Karena itulah
Nabiyyullah Ibrahim ‘alayhissalam menyatakan :
( ( إني ذاهب إلى ربي ) (سورة الصافات : 99
Maknanya : “Sesungguhnya aku pergi menuju
negeri (daratan syam) yang Allah memberiku
petunjuk agar aku ke sana (supaya mendapat
ketenangan dalam berdakwah dan beribadah
kepada Allah) “. (Q.S. ash-shaffat : 99)
Nabi Ibrahim mengetahui hal ini dengan wahyu dari
Allah kepadanya bahwa Syam (sekarang
Palestina, Yordania, Syiria dan Lebanon)
merupakan negeri tempat turunnya rahmat.
Kebanyakan wahyu turun di Syam, demikian juga
para nabi kebanyakan di sana. Palestina (daerah
Syam yang paling inti) juga tidak berada di bawah
kekuasaan Namrud sehingga beliau dapat
beribadah kepada Allah di sana tanpa diganggu
atau disakiti, maka beliau berpindah dari negerinya
http://www.darulfatwa.org.au
(Iraq) menuju palestina. Kemudian setelah
beberapa waktu beliau meninggalkan Surriyyah
(budak perempuan yang digauli tuannya)-nya,
Hajar dan anaknya Isma’il berada di Makkah. Nabi
Ibrahim berdoa kepada Allah ta’ala agar penduduk
Makkah dikaruniai rizki berupa buah-buahan dan
Allah mengabulkan doanya. Oleh sebab Makkah
merupakan tanah gurun yang tidak ada tanaman,
maka Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk
memindahkan gunung Tha’if dari daratan Syam
menuju Makkah dan malaikat Jibrilpun
memindahkan dan meletakkan gunung tersebut di
sana. Di gunung ini tumbuh buah anggur dari jenis
yang terbaik demikian juga buah delima dan lainlain,
udaranya sangat sejuk sehingga penduduk
makkah memilihnya menjadi Mushthaf (lokasi
pelesir di musim panas). Demikian penuturan al
Azraqi dalam bukunya Akhbar Makkah, sebuah
buku yang sarat dengan faedah.
Firman Allah : ( ( لنريه من آياتنا
Maknanya : “Agar Kami (Allah) perlihatkan
kepadanya (Muhammad) pada malam tersebut
berbagai keajaiban dan tanda yang menunjukkan
akan kekuasaan Kami (Allah)”.
Perjalanan Isra’ dimulai dari al Masjid al Haram
setelah terlebih dahulu dada beliau dibelah dan
dicuci hatinya untuk dipenuhi dengan hikmah dan
keimanan, agar beliau siap untuk menyaksikan
keajaiban-keajaiban ciptaan Allah dengan hati
yang kuat. Pada saat itu beliau berada di Makkah,
Jibril datang pada malam hari dengan membuka
atap rumah tanpa menjatuhkan debu, batu atau
yang lainnya. Saat itu beliau sedang tidur antara
pamannya, Hamzah dan sepupunya Ja’far ibn Abu
Thalib. Mereka semua sedang berada di rumah
putri Abu Thalib, Ummu Hani’ binti Abu Thalib,
saudara perempuan Ali ibn Abu Thalib di suatu
perkampungan yang bernama Ajyad. Jibril
membangunkan Nabi kemudian pergi bersamanya
menuju al Masjid al Haram. Bersama Malaikat Jibril
beliau berangkat dengan Buraq; seekor binatang
surga yang bentuknya lebih besar dari keledai dan
lebih kecil dari kuda yang mampu melompat sejauh
pandangannya. Di tengah perjalanan Isra’ ini
Rasulullah melewati beberapa tempat dan kota
bersejarah, antara lain kota Yatsrib (Madinah), kota
Madyan (kota Nabi Syu’aib), bukit Thur Sina’
(tempat Nabi Musa mendapat wahyu dari Allah),
dan Bayt Lahm (tempat Nabi Isa dilahirkan). Di
tiap-tiap tempat ini Jibril selalu meminta Rasulullah
untuk turun dan melakukan shalat dua raka’at
(H.R. al Bayhaqi). Hal ini merupakan salah satu
dari sekian banyak dalil tentang dibolehkannya
“tabarruk” (meminta berkah dari Allah) dengan
lantaran atsar (peninggalan) para nabi. Setelah
http://www.darulfatwa.org.au
Rasulullah sampai di Bayt al Maqdis (al Masjid al
Aqsha), Rasulullah bersama para nabi mulai dari
Nabi Adam hingga Nabi Isa melakukan shalat
berjama’ah dan beliau bertindak sebagai imam.
Allah mempertemukan beliau dengan para nabi di
sana sebagai penghormatan kepada beliau. Allah
membangkitkan semua nabi yang sebelumnya
telah wafat kecuali Nabi Isa karena beliau masih
hidup di langit hingga sekarang. Kemudian Allah
ta’ala menambahkan kemuliaan untuk Nabi-Nya
Muhammad dengan mengangkat delapan nabi
yaitu Nabi Adam, Isa, Yahya, Idris, Harun, Musa,
dan Ibrahim ke langit dan mereka menyambut
Rasulullah di sana.
Keajaiban-keajaiban Isra’
Di antara keajaiban ciptaan Allah yang
disaksikan Rasulullah ketika Isra’ adalah :
1. Dunia, Rasulullah melihatnya dalam bentuk
seorang wanita tua yang renta. Hal ini
menggambarkan bahwa dunia dengan segala
bentuk dan isinya yang menggairahkan akan
lenyap dan fana, sebagaimana seorang wanita
yang ketika mudanya sangat cantik dan
menawan, akan hilang kecantikannya ketika
sudah tua.
2. Iblis, Rasulullah melihat seseorang yang
berada di pinggir jalan, dialah Iblis yang pada
mulanya beriman kepada Allah kemudian dia
kafir karena menentang-Nya. Dia termasuk
dari golongan Jin, bukan malaikat (Q.S. al
kahfi : 50). Iblis tidak berani berbicara kepada
Rasulullah atau berbuat jelek terhadapnya
dikarenakan kemuliaan dan keagungan beliau.
3. Para Mujahid di jalan Allah, Rasulullah melihat
sekelompok kaum yang menanam dan menuai
hasilnya dalam tempo 2 hari. Jibril berkata
kepada Rasulullah : “Merekalah orang-orang
yang berjuang di jalan Allah”.
4. Para penceramah pembawa fitnah, Rasulullah
melihat mereka memotong lidah dan bibir
mereka dengan gunting dari api.
Isra’ Bukanlah Mimpi
Telah menjadi ijma’ (konsensus) para
ulama salaf, khalaf, ahli hadits, ahli kalam, ahli
tafsir dan ahli fiqh bahwa Rasulullah di-isra’-kan
dengan jasad dan ruhnya serta dalam keadaan
sadar (bukan mimpi). Inilah pendapat yang benar
menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah, sebagaimana
dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Anas ibn Malik,
Umar ibn Khattab, Hudzaifah, Imam Ahmad ibn
Hanbal, Imam ath-Thabari dan yang lainnya.
http://www.darulfatwa.org.au
Andaikata peristiwa Isra’ tersebut hanyalah
sekedar mimpi, maka orang-orang kafir Quraisy
tidak akan menentangnya dan peristiwa Isra’
tersebut tidak akan menjadi salah satu mukjizat
Rasulullah yang terbesar.
Mi’raj
Kemukjizatan Mi’raj telah dinash secara
jelas dalam hadits shahih, seperti yang
diriwayatkan Imam Muslim. Adapun dalam al
Qur’an tidak ada nash yang menyebutkan lafazh
“Mi’raj”. Namun ada ayat yang menjelaskan
kejadian tersebut. Firman Allah ta’ala:
(14- ( ولقد رآه نزلة أخرى $ عند سدرة المنتهى ) (النجم: 13
Maknanya : “Dan sungguh beliau (Rasulullah) telah
melihat Jibril untuk yang kedua kalinya di Sidrat al
Muntaha” (Q.S. an-Najm : 13-14)
Mi’raj adalah perjalanan yang dimulai dari
Masjid al Aqsha hingga ke atas langit ke tujuh
dengan menaiki tangga yang terpaut di antara
langit dan bumi, dengan anak tangga yang terbuat
dari emas dan perak. Kisah Mi’raj ini secara
terperinci diriwayatkan dalam hadits yang shahih
riwayat Imam Muslim. Disebutkan dalam hadits
tersebut bahwa ketika Rasulullah bersama Jibril
sampai pada langit yang pertama, dibukalah pintu
langit tersebut setelah terjadi percakapan antara
Jibril dan penjaga pintu. Hal ini terjadi setiap kali
Rasulullah dan Jibril hendak memasuki tiap-tiap
langit yang tujuh. Di langit pertama, Rasulullah
bertemu dengan Nabi Adam, di langit kedua
bertemu dengan Nabi Isa, di langit ketiga bertemu
dengan Nabi Yusuf, di langit keempat bertemu
dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu dengan
Nabi Harun, di langit keenam bertemu dengan Nabi
Musa, di langit ketujuh bertemu dengan Nabi
Ibrahim shallallahu ‘alayhim wasallam.
Keajaiban-keajaiban Mi’raj
Ketika Rasulullah berada di suatu tempat
yang berada di atas (suatu tempat yang lebih tinggi
dari langit ke tujuh), beliau diperlihatkan oleh Allah
beberapa keajaiban ciptaan-Nya. Antara lain :
1. al Bait al Ma’mur, yaitu rumah yang dimuliakan,
yang berada di langit ke tujuh. Setiap hari
70.000 malaikat masuk ke dalamnya lalu
keluar dan tidak akan pernah kembali lagi dan
seterusnya.
2. Sidrat al Muntaha, yaitu sebuah pohon yang
amat besar dan indah, tak seorangpun dari
makhluk yang dapat menyifatinya.
3. Surga, yaitu tempat kenikmatan yang
disediakan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya
yang beriman. Surga berada di atas langit
http://www.darulfatwa.org.au
yang ke tujuh dan sekarang sudah ada. Firman
Allah ta’ala :
( ( أعدت للمتقين ) (سورة ءال عمران : 133
Maknanya : “Telah disediakan (surga) bagi
orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S. Ali Imran :
133)
Di dalam surga Rasulullah juga melihat al
Wildan al Mukhalladun, yaitu makhluk yang
diciptakan Allah untuk melayani penduduk
surga. Mereka bukan Malaikat, Jin, atau
Manusia, mereka juga tidak punya bapak atau
ibu. Rasulullah juga melihat para bidadari. Jibril
meminta Rasulullah untuk mengucap salam
kepada mereka, dan mereka menjawab :
“Kami adalah wanita yang baik budi pekerti lagi
rupawan. Kami adalah istri orang-orang yang
mulia”.
4. ‘Arsy, yaitu makhluk Allah yang paling besar
bentuknya (H.R. Ibn Hibban) dan makhluk
kedua yang diciptakan Allah setelah air (Q.S.
Hud : 7). Imam al Bayhaqi mengatakan : “Para
ahli tafsir menyatakan bahwa ‘arsy adalah
benda berbentuk sarir (ranjang) yang
diciptakan oleh Allah. Allah memerintahkan
para malaikat untuk menjunjungnya dan
menjadikannya sebagai tempat ibadah mereka
dengan mengelilinginya dan
mengagungkannya sebagaimana Ia
menciptakan ka’bah di bumi ini dan
memerintahkan manusia untuk mengelilinginya
ketika thawaf dan menghadap ke arahnya di
saat shalat” (lihat al Asma’ wa ash-shifat, hlm.
497). ‘Arsy bukanlah tempat bagi Allah, karena
Allah tidak membutuhkan tempat. Sayyidina
‘Ali berkata :
“إن الله خلق العرش إظهارا لقدرته ولم يتخذه مكانا لذاته” رواه
أبو منصور البغدادي في الفرق بين الفرق
Maknanya:”Sesungguhnya Allah menciptakan
‘arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, dan
tidak menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”.
(Riwayat Abu Manshur al Baghdadi dalam al
farq bayna al firaq, hlm : 333)
Kembalinya Rasulullah dari Mi’raj
Sebagian ulama’ mengatakan : perjalanan
Isra’ dan Mi’raj hingga kembalinya Rasulullah ke
Makkah di tempuh dalam tempo sepertiga malam.
Setelah itu Rasulullah mengabarkan kejadian
tersebut kepada kaum kafir Quraisy, namun
mereka tidak percaya. Lalu mereka datang kepada
Abu Bakr ash-Shiddiq untuk menyatakan hal itu,
dan beliau membenarkan cerita Rasulullah seraya
mengatakan: “Aku mempercayainya ketika ia
http://www.darulfatwa.org.au
mengabarkan berita langit, mengapa aku tidak
mempercayainya mengenai berita bumi ?”.
Orang-orang kafir dengan dipimpin oleh Abu
Jahal mendatangi Rasulullah untuk minta
penjelasan tentang sifat dan bentuk al Masjid al
Aqsha, karena mereka mengetahui bahwa
Rasulullah tidak pernah pergi ke sana sebelumnya.
Setelah Rasulullah menjelaskan secara mendetail,
di antara mereka yang pernah pergi ke sana
berkata : “Demi Tuhan, apa yang diterangkan
Muhammad adalah benar”.
Hukum orang yang mengingkari Isra’ dan Mi’raj
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan salah
satu mukjizat terbesar yang dikaruniakan Allah
kepada Rasulullah. Peristiwa Isra’ ini disebutkan
dalilnya dalam al Qur’an (surat al Isra’ :1) dan
hadits shahih. Karenanya wajib beriman bahwa
nabi Muhammad shallahu ‘alayhi wasallam
diperjalankan oleh Allah pada malam hari dari
Makkah ke Masjid al Aqsha dalam keadaan sadar,
terjaga, dengan roh dan jasad. Inilah yang
dikatakan oleh seluruh ulama’ salaf dan khalaf dari
kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Di antara
para sahabat yang menyatakan hal ini antara lain;
Ibn Abbas, Jabir, Anas, Umar, Hudzaifah, dan
lainnya. Para ulama’ menyatakan : “orang yang
menginkari peristiwa Isra’ berarti telah
mendustakan al Qur’an dan barang siapa yang
mendustakan al Qur’an maka ia jatuh dalam
kekufuran”.
Sedangkan peristiwa Mi’raj disebut dengan
jelas dalam hadits-hadits yang shahih dan
disinggung dalam al Qur’an meski tidak secara
eksplisit (surat an-Najm (53): 13-15) dan masih
memungkinkan adanya penafsiran lain (ta’wil) dari
zhahir ayat tersebut. Namun demikian barang
siapa yang memahami bahwa Sidrat al Muntaha
yang disebut dalam ayat-ayat tersebut berada di
langit, lalu mengingkari peristiwa Mi’raj maka ia
jatuh dalam kekufuran. Jika ia tidak mengerti dan
tidak memahami demikian terhadap tafsiran ayatayat
tersebut maka ia tidaklah kufur.
Apakah Tujuan Isra’ dan Mi’raj ?
Tujuan dan hikmah yang sebenarnya dari
Isra’ dan Mi’raj adalah memuliakan Rasulullah dan
memperlihatkan kepadanya beberapa keajaiban
ciptaan Allah sesuai dengan firman Allah dalam
surat al Isra’: 1 di atas :
( لنريه من آياتنا )
Maknanya: “Agar kami memperlihatkan kepadanya
sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami”.
http://www.darulfatwa.org.au
serta mengagungkan beliau sebagai Nabi akhir
zaman dan sebaik-baik nabi di antara para nabi,
sekaligus sebagai penguat hati beliau dalam
menghadapi tantangan dan cobaan yang
dilontarkan oleh orang kafir Quraisy terlebih
setelah ditinggal mati oleh paman beliau Abu
Thalib dan isteri beliau Khadijah.
Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa tujuan dari Isra’ dan Mi’raj bukanlah bahwa
Allah ada di arah atas, lalu Nabi naik ke atas untuk
bertemu dengan-Nya. Karena Allah ada tanpa
tempat dan arah, dan tempat adalah makhluk
sedangkan Allah tidak membutuhkan kepada
makhluk-Nya. Allah ta’ala berfirman :
( ( فإن الله غني عن العالمين ) (سورة آل عمران : 97
Maknanya : “Maka sesungguhnya Allah maha kaya
(tidak membutuhkan) dari alam semesta”. (Q.S. Al
Imran : 97)
Allah tidak disifati dengan salah satu sifat makhluk-
Nya seperti berada di tempat, arah atas, di bawah
dan lain-lain. Juga perkataan Imam ath-Thahawi :
” لا تحويه الجهات الس  ت كسائر المبتدعات ”
“Allah tidak diliputi oleh salah satu arah penjuru
maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
kiri, depan, belakang), tidak seperti makhluk-Nya
yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut”
(lihat al ‘Aqidah ath-Thahawiyyah karya al Imam
Abu Ja’far ath-Thahawi)
Hal ini merupakan ijma’ ulama Islam
seluruhnya, maka barang siapa yang berkeyakinan
bahwa Allah bertempat dan berarah di atas atau
semua arah maka ia telah jatuh pada kekufuran.
Wahyu yang diterima Rasulullah pada saat Isra’
dan Mi’raj
Dalam hadits shahih yang sangat panjang
riwayat Imam Muslim, Rasulullah menjelaskan
mengenai peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Dalam hadits
tersebut diriwayatkan bahwa ketika Nabi berada di
atas Sidratul Muntaha beliau mendengar kalam
Allah di antaranya berisi kewajiban sholat 50 kali
dalam sehari semalam bagi umatnya. Kemudian
terjadilah dialog dengan Nabi Musa ‘alayhissalam
yang menganjurkan agar Nabi meminta keringanan
kepada Allah dan akhirnya diwajibkan bagi ummat
Islam hanya lima kali sholat dalam sehari
semalam. Namun nilai sekali sholat tersebut
sebanding dengan sepuluh kali sholat sehingga
lima kali sholat sebanding dengan lima puluh kali
sholat.
Adapun proses penerimaan wahyu
tersebut adalah bahwa Nabi mendengar kalam
Allah yang Dzati, bukan berupa huruf, suara dan
http://www.darulfatwa.org.au
bahasa sebab kalam-Nya azali (ada tanpa
permulaan). Pada malam yang mulia dan penuh
berkah itu Allah membuka hijab dari Rasulullah; hal
yang dapat menghalanginya dari mendengar kalam
Allah yang azali. Allah memperdengarkan kalam-
Nya dengan Qudrah-Nya pada saat Rasulullah
berada di suatu tempat di atas Sidratul Muntaha ;
suatu tempat yang tidak pernah dikotori dengan
perbuatan maksiat dan bukan tempat di mana
Allah berada seperti dugaan sebagian orang sebab
Allah ada tanpa tempat.
Kisah-kisah tidak berdasar
1. Tidak boleh berkeyakinan bahwa pada saat
Mi’raj Allah mendekat kepada Rasulullah
sehingga jarak antara keduanya adalah dua
hasta atau lebih dekat lagi seperti anggapan
sebagian orang. Yang benar adalah bahwa
yang mendekat kepada Rasulullah adalah
Jibril, bukan Allah (baca tafsir surat an-Najm
(53) : 8-9) sebagaimana yang diriwayatkan
oleh Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya
dari as-Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anha.
Karenanya buku yang berjudul Mi’raj Ibnu
Abbas dan Tanwir al Miqbas min tafsir Ibn
Abbas (yang memuat beberapa hal yang
menyalahi syara’) mesti dijauhi. Kedua buku
tersebut bukanlah karya Ibnu Abbas,
melainkan ada sebagian orang yang dengan
tanpa didukung dalil dan bukti yang kuat
menyandarkan kepadanya.
2. Kisah yang menyatakan bahwa ketika Jibril
telah sampai pada suatu tempat setelah
Sidratul Muntaha kemudian berkata kepada
Nabi : “Di sinilah seorang kawan berpisah
dengan kawan yang sangat dicintainya,
seandainya aku terus naik (ke atas) niscaya
aku akan terbakar”. Ini adalah cerita dusta
yang tidak berdasar sama sekali.
3. Kisah yang mengatakan bahwa ketika
Rasulullah pada saat Mi’raj telah sampai ke
atas langit ke tujuh di suatu tempat dimana
beliau mendengar kalam Allah ta’ala dan beliau
berkata : at-Tahiyyatu lillah, lalu dijawab oleh
Allah : as-Salamu ‘alayka ayyuha an-Nabiyyu
Warahmatullahi Wabarakatuh. Riwayat ini
meskipun tertulis dalam beberapa kitab
tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj dan
disampaikan oleh beberapa orang dalam
ceramah-ceramah peringatan Isra’ dan Mi’raj
adalah kisah yang tidak Sahih (benar) karena
pada malam Isra’ Mi’raj shighat atau lafazh
Tahiyyat belum disyari’atkan. Hanya sebagian
rawi-rawi pendusta saja yang meriwayatkan
kisah tersebut. Kisah dusta ini telah menyebar
http://www.darulfatwa.org.au
di banyak kalangan kaum muslimin maka
harus dijelaskan hal yang sebenarnya. Riwayat
tentang bacaan Tasyahhud atau Tahiyyat
yang benar adalah sebagai berikut:
Pada awalnya sebagian sahabat Rasulullah
sebelum disyari’atkan Shighat Tasyahhud,
mereka mengucapkan dzikir atau bacaan :
” السلام على الله ، السلام على جبريل ، السلام على ميكائيل ”
Lalu Rasulullah melarang mereka mengatakan
itu dan beliau mengatakan :
” إن الله هو السلام ”
Maknanya : “Allah itu adalah as-Salam –yang
suci dari segala kekurangan- (jadi jangan
katakan : as-Salam ‘ala Allah)”.
Kemudian Rasulullah mengajarkan kepada
mereka untuk mengatakan :
” السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته ”
Mukjizat Isra’ dan Mi’raj selain penuh dengan
hikmah dan pelajaran juga merupakan ujian bagi
keimanan kita akan kekuasaan Allah ta’ala.
Apakah kita termasuk orang yang beriman dengan
sebenarnya atau justru mendustakan peristiwa
Isra’ dan Mi’raj Nabi ini dengan dalih filsafat dan
logika, Wallahu A’lam wa Ahkam.
AT-TIJARAH AR-RABIHAH
Perdagangan yang menguntungkan
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu
Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ?.
(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan
jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu
mengetahuinya” (Q.S. ash-Shaff : 10-11)
Seri III
MAKNA SYAHADAT PERTAMA
قال العلامة المحدث عبد الله بن محمد الهرري حفظه الله:
” يجب على كافة المكلفين الدخول في دين الإسلام والثبوت فيه
على الدوام والتزام ما لزم عليه من الأحكام. فمما يجب علمه
واعتقاده مطلقا والنطق به في الحال إن كان كافرا وإلا ففي الصلاة:
الشهادتان وهما:
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله.
ومعنى أشهد أن لا إله إلا الله أعلم وأعتقد وأعترف أن لا معبود
بحق إلا الله أي الواحد الأحد الأول القديم الحي القيوم الدائم الخالق
http://www.darulfatwa.org.au
الرازق العالم القدير الفعال لما يريد، ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن
الذي لا حول ولا قوة إلا به، الموصوف بكل كمال يليق به المنزه عن
كل نقص في حقه، ليس كمثله شئ وهو السميع البصير. فهو القديم
(أي الأزلي) وما سواه حادث (أي مخلوق) وهو الخالق وما سواه
مخلوق. فكل حادث دخل في الوجود من الأعيان (أي الأجسام)
والأعمال من الذرة إلى العرش، ومن كل حركة للعباد وسكون،
والنوايا والخواطر فهو بخلق الله. لم يخلقه أحد سوى الله، لا طبيعة ولا
علة بل دخوله في الوجود بمشيئة الله وقدرته، بتقديره وعلمه الأزلي
لقول الله تعالى: (وخلق كل شئ) أي أحدثه من العدم إلى الوجود فلا
خلق ذا المعنى لغير الله، قال الله تعالى: (هل من خالق غير الله).
قال النسفي: “فإذا ضرب إنسان زجاجا بحجر فكسره، فالضرب
والكسر والانكسار بخلق الله تعالى، فليس للعبد إلا الكسب وأما الخلق
فليس لغير الله. قال الله تعالى: ( لها ما كسبت وعليها ما
اكتسبت)”. وكلامه قديم كسائر صفاته لأنه سبحانه مباين (أي غير
مشابه) لجميع المخلوقات في الذات والصفات والأفعال، سبحانه وتعالى
(أي تنزه الله) عما يقول الظالمون (أي الكافرون) علوا كبيرا.
“Wajib bagi semua mukallaf untuk memeluk
agama Islam, meyakininya untuk selamanya dan
melaksanakan segala hukum-hukum yang diwajibkan
atasnya. Di antara hal yang wajib diketahui dan diyakini
secara mutlak, dan wajib diucapkan seketika jika
memang dia (mukallaf) kafir, atau jika tidak (ia bukan
seorang kafir) maka wajib mengucapkannya dalam
shalat, adalah dua kalimat syahadat:
r َأشهد َأنْ لاَ إله إلاَّ اللهُ وَأشهد َأنَّّ محمدا رسولُ اللهِ
Makna أشهد أن لا إله إلا الله : aku mengetahui, meyakini
dan mengakui (dengan ucapan) bahwa tidak ada yang
disembah dengan hak (benar) kecuali Allah, yang Esa,
tiada sekutu bagi-Nya, tidak terbagi-bagi,1 tidak bermula,
tidak didahului dengan ketiadaan, Maha Hidup, tidak
membutuhkan kepada yang lain, tidak berakhir, Maha
Pencipta, Pemberi rizki, Maha mengetahui, Maha
Kuasa, yang mudah bagi-Nya melakukan segala apa
yang Ia kehendaki. Segala apa yang Ia kehendaki terjadi
dan segala apa yang tidak Ia kehendaki tidak akan
terjadi. Tidak ada daya untuk menjauhi perbuatan dosa
kecuali dengan pemeliharaan-Nya, dan tidak ada
kekuatan untuk berbuat ta’at kepada-Nya kecuali
dengan pertolongan-Nya. Allah memiliki segala sifat
kesempurnaan yang layak bagi-Nya dan Maha Suci dari
segala kekurangan bagi-Nya.
Allah tidak menyerupai sesuatupun dari
makhluk-Nya dan tidak ada sesuatupun dari
makhluk-Nya yang menyerupai-Nya, Dia Maha
1 Karena Dia bukan jism; benda. Ini adalah makna
Ahad menurut sebagian ulama.
http://www.darulfatwa.org.au
Mendengar dan Maha Melihat.2 Hanya Allah yang
tidak memiliki permulaan (Qadim), segala sesuatu
selain-Nya memiliki permulaan (Hadits-baharu). Dia-lah
sang Pencipta, segala sesuatu selain-Nya adalah
ciptaan-Nya (makhluk). Segala yang ada (masuk ke
dalam wujud), benda3 dan perbuatannya, mulai dari
(benda yang terkecil) dzarrah hingga (benda terbesar)
‘Arsy, segala gerakan manusia dan diamnya, niat dan
lintasan fikirannya; semuanya itu (ada) dengan
penciptaan Allah, tidak ada yang menciptakannya selain
Allah, bukan thabi’ah (yang menciptakannya) dan bukan
pula ‘Illah.4 Akan tetapi segala sesuatu tersebut masuk
pada keberadaan (ada) dengan kehendak Allah dan
kekuasaan-Nya, dengan ketentuan dan ilmu-Nya yang
azali (yang tidak bermula), sebagaimana firman Allah:
( [ وخلَق كُلَّ شىءٍ ] (سورة الفرقان : 2
Maknanya : “Dan Allah menciptakan segala sesuatu”
(Q.S. al Furqan: 2)
Artinya Allah mengadakannya dari tidak ada
menjadi ada. Makna (Khalaqa) demikian ini tidak layak
bagi siapapun kecuali hanya bagi Allah. Allah berfirman:
2 Pendengaran Allah tidak seperti pendengaran
makhluk, penglihatan Allah tidak seperti penglihatan makhluk.
3 Benda yang dimaksud di sini bukan benda padat,
tetapi A’yan atau Ajsam; segala sesuatu yang memiliki bentuk
dan ukuran, termasuk manusia.
4 Thabi’ah adalah ‘adah ; kebiasaan. Kebiasaan api
adalah membakar. ‘Illah adalah sebab. Api adalah sebab
terjadinya pembakaran.
( [هلْ من خالقٍ غَير الله] (سورة فاطر : 3
Maknanya: “Tidak ada pencipta selain Allah” (Q.S.
Fathir: 3)
An-Nasafi berkata: “Apabila seseorang melempar
kaca dengan batu hingga pecah, maka lemparan,
hantaman batu dan pecahnya kaca semuanya adalah
ciptaan Allah. Jadi seorang hamba hanyalah melakukan
kasb.5 Adapun penciptaan hanya milik Allah, Allah
berfirman:
( [ لهَاَ ما كَسبت وعلَيها ما اكْتسبت ] (سورة البقرة : 286
Maknanya: “Bagi setiap jiwa (balasan baik dari)
kebaikan yang ia lakukan dengan kasabnya dan atas
setiap jiwa (balasan buruk atas) keburukan yang ia
lakukan” (Q.S. al Baqarah: 286)
Kalam Allah Qadim (tidak bermula)6 seperti
seluruh sifat-sifat-Nya. Karena Allah tidak menyerupai
semua makhluk-Nya, baik pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya
dan perbuatan-Nya. Allah Maha Suci dari apa yang
dikatakan orang-orang zhalim (orang kafir) dengan
kesucian yang agung.
5 Kasb adalah apabila seorang hamba mengarahkan
niat dan kehendaknya untuk melakukan suatu perbuatan dan
pada saat itulah Allah menciptakan dan menampakkan
perbuatan tersebut.
6 Kalam Allah yang dimaksud di sini adalah Kalam
Allah yang merupakan sifat Dzat-Nya. Karena sifat kalam ini
qadim berarti pasti bukan huruf, suara dan bahasa karena
semua itu baharu, makhluk.
http://www.darulfatwa.org.au
Nasehat syekh Abdullah al-Harari
Tebar keyakinan, Perjuangkan kebenaran
dengan jiwa dan harta !
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam
bersabda:
” الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت ”
Maknanya: “Orang yang pintar adalah yang
mampu menundukkan hawa nafsunya dan
melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat
baginya setelah mati”.
Maksudnya orang yang berakal adalah orang
yang mampu mengalahkan dan mengekang hawa
nafsunya untuk melakukan amal yang bermanfaat
untuk akhiratnya, sementara orang yang bodoh
adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya
serta berangan-angan memperoleh derajat yang
tinggi dari Allah.
Kita semua dihadapkan kepada jihad dengan
lisan, ini membutuhkan kesungguhan dan
pengorbanan baik tenaga maupun harta. kita
melelahkan badan dengan kegiatan-kegiatan dan
perjalanan-perjalanan untuk menanggulangi dan
mengcounter kesesatan baik dalam aqidah
maupun hukum, dan menginfakkan harta kita,
janganlah bersikap pelit untuk berinfak hanya untuk
selalu menikmati makan yang enak, tempat tinggal
yang mewah dan kendaraan yang lux (Tana”um).
Allah ta’ala menjadikan para nabi dan wali-Nya
tidak suka berfoya-foya meskipun mereka
mempunyai harta yang melimpah, mereka tidak
pernah menggunakan kenikmatan yang diberikan
oleh Allah untuk berfoya-foya, tapi kenikmatan itu
mereka pergunakan untuk amal kebaikan, mereka
inilah yang seharusnya kita jadikan contoh, agar
kita mendapatkan pertolongan dari Allah dan
memperoleh derajat yang tinggi. Mudah-mudahan
Allah memudahkan segala usaha kita ini.

Advertisements

Posted in akidah, salafy, shohih | Leave a Comment »

Aqidah Muslim (Tarjamah dari Universiti Al azhar Al syarif)

Posted by admin on April 20, 2008

عقيدة المسلمين

AQIDAH MUSLIMIN

Teks asal bagi risalah akidah ini telah diakui dan dicop dengan cop rasmi oleh Fakulti Usuluddin, Universiti al-Azhar al-Sharif setelah diteliti


AQIDAH MUSLIMIN

1. Apakah yang dimaksudkan dengan ilmu agama yang (hukum mempelajarinya) fardu ain?

Jawapan: Setiap mukallaf diwajibkan mempelajari suatu kadar ilmu agama yang dia perlu yang terdiri daripada akidah, bersuci, solat, puasa, zakat bagi orang diwajibkan untuk mengeluarkannya, haji bagi orang yang berkemampuan, maksiat-maksiat hati, tangan, mata dan sebagainya.

Allah تعالى berfirman:

ö@è% ö@yd “ÈqtGó¡o„ tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ3

(سورة الزمر: 9)

Maknanya: “Katakanlah (wahai Muhammad) tidaklah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui”. (Surah al-Zumar: 9)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

(رواه البيهقي)

Maknanya: “Menuntut ilmu agama (yang daruri atau teras itu) adalah wajib ke atas setiap muslim”. (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi)

2. Apakah hikmah penciptaan jin dan manusia?

Jawapan: Untuk diperintahkan oleh Allah supaya beribadah kepada-Nya.

Allah تعالى berfirman:

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9

(ٍسورة الذريات: 56)

Maknanya: “dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”. (Surah al-Dharriyyat: 56)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَن يَعْبُدُوهُ وَلا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

(رواه الشيخان)

Maknanya: “Hak Allah ke atas para hamba hendaklah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu pun. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

3. Bagaimanakah ibadah menjadi sah?

Jawapan: Beribadah kepada Allah menjadi sah apabila dilakukan oleh orang yang meyakini kewujudan Allah dan tidak menyamakan atau menyerupakan-Nya dengan sesuatu apapun dari makhluk-Nya.

Allah تعالى berfirman:

}§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x«

(سورة الشورى: 11)

Maknanya: “Tiada suatu pun yang sama seperti-Nya (Allah)”. (Surah al-Shura: 11)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لا فِكْرَة فِي الرَّبِّ

(رواه أبو القاسم الأنصاري)

Maknanya: “Tidak boleh berfikir (membayangkan) tentang Allah”. (Diriwayatkan oleh Abu`l-Qasim al-Ansari)

Al-Ghazali berkata:

لاتَصِحُّ الْعِبَادَةُ إِلا بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُودِ

Maknanya: “Ibadah tidak sah kecuali selepas mengetahui (Allah yang wajib) disembah”.

4. Kenapa Allah mengutus para rasul?

Jawapan: Allah telah mengutus para rasul untuk mengajar manusia tentang kemaslahatan agama mereka dan dunia mereka, dan untuk mengajak manusia supaya menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Allah تعالى berfirman:

y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# šúï̍Ïe±u;ãB tûï͑ɋYãBur

(سورة البقرة: 213)

Maknanya: “..maka Allah mengutuskan para nabi sebagai pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan”. (Surah al-Baqarah: 21)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِن قَبْلِي لا إِلَهَ إِلا اللهُ

(رواه الترمذي وغيره)

Maknanya; “Perkataan paling utama yang aku dan para nabi sebelumku mengungkapkannya ialah لا إله إلا الله (Tiada tuhan yang wajib disembah melainkan Allah)”. (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi dan selainnya)

5. Apakah erti Tauhid?

Jawapan: Al-Imam al-Junayd berkata:

التَّوْحِيدُ إِفْرَادُ الْقَدِيـمِ مِنَ الْمُحْدَثِ

(رواه الحافظ الخطيب البغدادي)

Maknanya: “Tauhid ialah menyucikan (Allah) al-Qadim (Yang Maha Sedia Ada tidak mempunyai permulaan) dari (menyerupai makhluk-Nya) yang baharu (ada yang didahului dengan tiada dan ada permulaan). (Diriwayatkan oleh al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi)

Allah تعالى berfirman:

}§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x«

(سورة الشورى: 11)

Maknanya: “Tiada suatu pun yang sama seperti-Nya (Allah)”. (Surah al-Shura: 11)

Suatu ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya tentang amalan yang paling utama, lalu Baginda صلى الله عليه وسلم menjawab:

إِيـمَانٌ بِاللهِ وَرَسُولِهِ

(رواه البخاري)

Maknanya: “Keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

6. Sila bincangkan tentang kewujudan Allah.

Jawapan: Allah ada yang tiada sebarang keraguan pada kewujudan-Nya. Adanya Allah tanpa kayf (bagaimana, bentuk atau cara)[1], tanpa tempat, tanpa arah atau ruang dan tidak menyamai suatu pun daripada makhluk-Nya serta tiada suatu pun daripada makhluk-Nya yang menyerupai-Nya.

Allah تعالى berfirman:

’Îûr& «!$# A7x©

(سورة إبراهيم: 10)

Maknanya: “Tiada keraguan akan adanya Allah”. (Surah Ibrahim: 10)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

(رواه البخاري وغيره)

Maknanya: “Allah ada (azali yakni ada tanpa permulaan) dan tiada sesuatu pun selain-Nya”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan selainnya)

7. Apakah makna firman Allah تعالى: öNçGYä. $tBt ûøïr&ó Oä3yètB uqèdur (Surah al-Hadid: 4)?

Jawapan: Maknanya ialah Allah mengetahui tentang kamu di mana pun kamu berada seperti yang dikatakan oleh al-Imam Sufyan al-Thawri, al-Imam al-Shafi^i, al-Imam Ahmad, al-Imam Malik dan selain mereka.

Allah تعالى berfirman:

¨br&ur ©!$# ô‰s% xÞ%tnr& Èe@ä3Î/ >äóÓx« $RHø>Ïã

(سورة الطلاق: 12)

Maknanya: “Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Surah al-Talaq: 12)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

ارْبَعُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلا غَائِبًا

وَإِنَّـمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا

(رواه البخاري)

Maknanya: “janganlah kamu memaksa diri untuk mengeraskan suara kerana kamu bukanlah berdoa kepada Zat yang tuli dan ghaib, sesungguhnya kamu berdoa kepada Zat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat (secara maknawi bukan fizikal). (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Makna hadis ini ialah tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.

8. Apakah dosa yang paling besar?

Jawapan: Dosa yang paling besar ialah kufur. Perkara yang termasuk dalam kekufuran ialah syirik. Makna syirik ialah menyembah selain Allah. Allah تعالى berfirman tentang Luqman, bahawa Luqman berkata:

¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8Ύô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã

(سورة لقمان: 13)

Maknanya: “…Wahai anak kesayanganku! Janganlah engkau menyekutukan Allah kerana sesungguhnya penyekutuan (terhadap Allah) itu adalah kezaliman yang amat besar”. (Surah Luqman: 13)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah ditanya tentang dosa yang paling besar, lalu Baginda صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَن تَجْعَلَ للهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

(رواه البخاري وغيره)

Maknanya: “Apabila engkau mengadakan suatu sekutu bagi Allah sedangkan Dia telah menciptakanmu”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan selainnya).

9. Apakah makna ibadah?

Jawapan: Ibadah adalah kemuncak ketundukan dan ketaatan sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafiz al-Subki.

Allah تعالى berfirman:

Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& Èbr߉ç7ôã$$sù

(سورة الأنبياء: 25)

Maknanya: “Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Aku (Allah), maka beribadahlah (sembahlah) kepada-Ku”. (Surah al-Anbiya‘: 25)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَن يَعْبُدُوهُ وَلا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

(رواه الشيخان)

Maknanya: “Hak Allah ke atas para hamba ialah mereka hendaklah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

10. Adakah perkataan الدعاء boleh diertikan dengan makna ibadah?

Jawapan: Ya, Allah تعالى berfirman:

ö@è% !$yJ¯RÎ) (#qãã÷Šr& ’În1u‘ Iwur à8Ύõ°é& ÿ¾ÏmÎ/ #Y‰tnr& ÇËÉÈ

(سورة الجنّ: 20)

Maknanya: “Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya aku hanyalah beribadah kepada Tuhanku dan tidak menyekutukan-Nya dengan seorang pun”. (Surah al-Jinn: 20)

Allah تعالى berfirman:

Ÿxsù (#qããô‰s? yìtB «!$# #Y‰tnr& ÇÊÑÈ

(سورة الجنّ: 18)

Maknanya: “Maka janganlah kamu beribadah kepada seseorang bersama Allah”. (surah al-Jinn: 18)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

(رواه البخاري)

Maknanya: “Doa adalah ibadah”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

11. Adakah perkataan الدعاء boleh diertikan dengan selain daripada makna ibadah?

Jawapan: Ya, Allah تعالى berfirman:

žw (#qè=yèøgrB uä!$tãߊ ÉAqߙ§9$# öNà6oY÷t/ Ïä!%tæ߉x. Nä3ÅÒ÷èt/ $VÒ÷èt/

(سورة النور: 63)

Maknanya: “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain”. (Surah al-Nur: 63)

12. Apakah hukum memanggil atau menyeru (النداء) seseorang nabi atau wali meskipun bukan di hadapan mereka, dan apakah hukum meminta daripada seseorang nabi atau wali akan sesuatu yang dari segi kebiasaannya tidak berlaku ?

Jawapan: Perkara sedemikian boleh dilakukan kerana perbuatan seperti itu tidak pernah dianggap peribadatan atau penyembahan kepada selain Allah. Ucapan “wahai Rasululallah!” semata-mata bukanlah penyekutuan dengan Allah. Ini kerana telah thabit bahawa Bilal ibn al-Harith al-Muzani رضي الله عنه (seorang sahabat Baginda صلى الله عليه وسلم) mendatangi maqam (kubur) Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika tahun kemarau pada zaman pemerintahan Sayyidina Umar ibn al-Khattab رضي الله عنه. Kemudian Bilal berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ اسْتَسْقِ لأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوا

(رواه البيهقي وغيره)

Maknanya: “Wahai Rasulullah! Mohonlah (kepada Allah ta’ala) agar air hujan diturunkan untuk umatmu, kerana sesungguh mereka telah mengalami bencana”. (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dan selainnya).

Amalan Bilal di atas sama sekali tidak diingkari oleh Sayyidina Umar dan selain beliau, bahkan mereka menilai perbuatan tersebut sebagai amalan yang baik.

Allah تعالى berfirman:

öqs9ur öNßg¯Rr& ŒÎ) (#þqßJn=¤ß öNßg|¡àÿRr& x8râä!$y_ (#rãxÿøótGó™$$sù ©!$#

txÿøótGó™$#ur ÞOßgs9 ãAqߙ§9$# (#r߉y`uqs9 ©!$# $\/#§qs? $VJŠÏm§‘

(سورة النساء: 64)

Maknanya: “Sesungguhnya jika mereka ketika menzalimi diri sendiri (dengan berbuat dosa) kemudian mereka mendatangimu lalu memohon keampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan keampunan buat mereka, nescaya mereka mendapati bahawa Allah adalah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (Surah al-Nisa‘: 64)

Telah thabit bahawa Ibn ^Umar رضي الله عنهما telah berkata: يا محمد yang bermakna: “Wahai Muhammad!” ketika beliau mengalami kelumpuhan di kakinya, selepas itu beliau sembuh. Peristiwa ini telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad.

13. Jelaskan makna istighathah dan isti^anah dengan dalil.

Jawapan: Istighathah bererti meminta pertolongan ketika kesempitan atau kesulitan, manakala makna isti^anah lebih umum dan luas.

Allah تعالى berfirman:

(#qãZŠÏètFó™$#ur Ύö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur

(سورة البقرة: 45)

Maknanya: “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan sembahyang”. (Surah al-Baqarah: 45)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

تَدْنُو الشَّمْسُ مِن رُءُوسِ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذِ اسْـتَغَاثُوا بِآدَمَ

(رواه البخاري)

Maknanya: “Pada hari kiamat matahari terlalu hampir dengan kepala manusia. Ketika itu mereka meminta pertolongan kepada Nabi Adam عليه السلام“. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Dalam hadis ini ada dalil bahawa meminta pertolongan kepada selain Allah taala itu boleh dilakukan tetapi wajib beriktikad bahawa tidak ada yang boleh mendatangkan bahaya dan tidak ada yang boleh memberikan manfaat secara hakikatnya kecuali Allah.

14. Bincangkan tentang tawassul dengan para nabi.

Jawapan: Tawassul dengan para nabi dibolehkan dengan ijma^ (kesepakatan) ulama. Tawassul ialah memohon kepada Allah akan kedatangan suatu manfaat (kebaikan) atau penghindaran suatu mudarat (keburukan) dengan menyebut nama seseorang nabi atau wali untuk memuliakan mereka disertai dengan iktikad bahawa hakikatnya hanya Allah sahajalah yang mendatangkan mudarat dan manfaat.

Allah تعالى berfirman:

(#þqäótGö/$#ur Ïmø‹s9Î) ss#‹Å™uqø9$#

(سورة المائدة: 35)

Maknanya: “Kamu carilah perkara-perkara yang boleh mendekatkan diri kamu dengan Allah”. (Surah al-Ma‘idah: 35)

Dalam satu hadis ada satu peristiwa yang disebutkan bahawa Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajar seorang buta bertawassul dengan Baginda. Setelah orang buta itu bertawassul bukan di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, maka Allah mengembalikan penglihatannya semula. Hadis yang menceritakan peristiwa ini diriwayatkan oleh al-Tabrani dan beliau menghukumkan hadis tersebut sebagai sahih.

15. Bincangkan tentang tawassul dengan para wali Allah.

Jawapan: Tidak ada seorang pun di kalangan orang-orang yang berada di jalan kebenaran (Ahlu`l-Haqq) mencakupi generasi salaf dan generasi khalaf yang berlainan daripada pendapat bahawa tawassul dengan para wali itu dibolehkan.

Dalam hadis disebutkan bahawa Sayyidina Umar bertawassul dengan al-^Abbas (bapa saudara Nabi) dengan berkata:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا

(رواه البخاري)

Maknanya: “Ya Allah kami bertawassul kepada-Mu dengan bapa saudara Nabi kami (supaya Engkau menurunkan air hujan)”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).

16. Jelaskan makna Hadis al-Jariyah[2].

Jawapan: Hadis tersebut mudtarib (suatu hadis yang diriwayatkan dengan lafaz matannya yang berbeza-beza dan saling bertentangan sehingga menjadikannya dihukumkan sebagai hadis da^if). Meskipun ada ulama yang menganggap hadis tersebut sebagai sahih, namun mereka tidak mengertikan bahawa Allah mendiami atau berada di langit.

Al-Imam al-Nawawi telah berkata dalam huraiannya terhadap hadis tersebut:

قَوْلُ أَيْنَ الله سُؤَالٌ عَنِ الْمَكَانَةِ لا عَنِ الْمَكَانِ

Maknanya: “Perkataan أين الله (di mana Allah) adalah suatu soalan tentang darjat atau kedudukan bukannya tentang tempat”.

Oleh itu, makna perkataan Baginda صلى الله عليه وسلم di atas ialah: “Apakah peganganmu dari segi pengagunganmu terhadap Allah?”. Selanjutnya, perkataan hamba perempuan في السماء (di langit) itu pula bermakna: “Sangat tinggi tahap pengagunganku terhadap-Nya”. Oleh itu, tidak boleh berpegang bahawa Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bertanya kepada hamba perempuan tersebut tentang tempat (bagi Allah) dan tidak boleh berpegang bahawa hamba perempuan itu telah bermaksud Allah bertempat di langit.

Sayyidina Ali رضي الله عنه وكرم وجهه berkata:

لا يُقَالُ أَيْنَ لِمَنْ أَيَّنَ الأَيْنَ

(ذكره أبو القاسم القشيري في الرسالة القشيرية)

Maknanya:“Tidak boleh dikatakan (disoalkan tentang) di mana (tempat) bagi Allah yang telah menempatkan di mana (tempat). (Disebutkan oleh Abu`l-Qasim al-Qushayri dalam al-Risalah al-Qushayriyyah)

Al-Imam Abu Hanifah berkata dalam kitabnya al-Fiqhu`l-Absat:

كَانَ قَبْلَ الْمَكَانِ, كَانَ وَلَمْ يَكُنْ أَيْنٌ وَلا خَلْقٌ وَهُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Maknanya: “Dia (Allah) ada (azali) sebelum (kewujudan) tempat. Dia ada (azali) dengan keadaan belum ada suatu (penciptaan) tempat dan suatu (penciptaan) makhluk yang lain, dan Dia adalah pencipta segala sesuatu”.

Allah تعالى berfirman:

}§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x«

(سورة الشورى: 11)

Maknanya: “Tiada suatu pun yang sama seperti-Nya (Allah)”. (Surah al-Shura: 11)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

(رواه البخاري وغيره)

Maknanya: “Allah ada (azali yakni ada tanpa permulaan) dan tiada sesuatu pun selain-Nya”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan selainnya)

17. Hukum orang yang mencaci Allah adalah kafir. Jelaskan perkara ini dengan dalil.

Jawapan: Al-Qadi ^Iyad menaqalkan ijma^ (kesepakatan ulama mujtahidin) bahawa orang mencaci Allah adalah kafir meskipun dalam keadaan marah, bergurau atau hati yang tidak lapang (tidak reda dengan makian tersebut daripada ucapannya sendiri).

Allah تعالى berfirman:

ûÈõs9ur óOßgtFø9ry™ Æä9qà)u‹s9 $yJ¯RÎ) $¨Zà2 ÞÚqèƒwU Ü=yèù=tRur 4

ö@è% «!$$Î/r& ¾ÏmÏG»tƒ#uäur ¾Ï&Î!qߙu‘ur óOçFYä. šcrâä̓öktJó¡n@ ÇÏÎÈ

Ÿw (#râ‘É‹tG÷ès? ô‰s% Länöxÿx. y‰÷èt/ óOä3ÏY»yJƒÎ)

(سورة التوبة: 65-66)

Maknanya: “Dan jika kamu bertanya kepada mereka (tentang perkara yang mereka katakan itu), tentulah mereka akan menjawab: “sesungguhnya kami hanya bergurau dan bermain-main sahaja”. Katakanlah (kepada mereka): “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu boleh memperolok-olokkan! Tidak perlu kamu meminta maaf, sebenar kamu telah menjadi kafir setelah kamu beriman”. (Surah al-Tawbah: 65-66)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنََّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لا يَرَى بِـهَا بَأْسـًا

يَهْوِي بِـهَا فِي النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفـًا

(رواه الترمذي)

Maknanya: “Sesungguhnya boleh terjadi seorang hamba mengucapkan perkataan (yang memperolok-olokkan atau menghina Allah atau syariat-Nya) yang dia tidak menganggapnya sebagai bahaya, (sedangkan perkataan tersebut) akan menjerumuskannya ke (dasar) neraka (yang untuk sampai kepadanya) selama 70 tahun (diperlukan dan hanya dihuni oleh orang-orang kafir sahaja). (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi)

18. Apakah dalil yang membolehkan ziarah kubur bagi lelaki dan perempuan?

Jawapan: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

زُورُوا القُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُم بِالآخِرَةِ

(رواه البيهقي)

Maknanya: “Kamu ziarahilah kubur kerana sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kamu kepada kehidupan akhirat”. (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi)

19. Bagaimanakah cara untuk masuk Islam?

Jawapan: Dengan pengucapan dua kalimah syahadah disertai dengan niat masuk Islam, bukannya dengan pengucapan istighfar seperti: أستغفر الله. Jangan terkeliru dengan zahir firman Allah تعالى tentang Nabi Nuh عليه السلام bahawa Baginda bersabda:

àMù=à)sù (#rãÏÿøótFó™$# öNä3­/u‘

(سورة نوح: 10)

Maknanya: “Maka aku berkata: “Kamu pohonlah keampunan daripada Tuhan kamu”. (Surah Nuh: 10)

Ini kerana maknanya yang sebenar ialah bahawa Nabi Nuh عليه السلام telah mengajak kaum Baginda untuk masuk Islam dengan beriman kepada Allah dan Nabi-Nya Nuh عليه السلام supaya Allah mengampunkan mereka.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَن لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ

(متفق عليه)

Maknanya: “Aku diperintahkan untuk memerangi umat manusia sehingga mereka bersaksi bahawa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan aku adalah utusan Allah”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

20. Jelaskan hukum mengucapkan pujian buat Rasulullah صلى الله عليه وسلم?

Jawapan: Pengucapan pujian buat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dibolehkan dengan ijma^.

Allah تعالى berfirman:

y7¯RÎ)ur 4’n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ

(سورة القلم: 4)

Maknanya: “Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berperilaku yang agung”. (Surah al-Qalam: 4)

Allah تعالى berfirman:

çnr⑨“tãur çnrã|ÁtRur

(سورة الأعراف: 157)

Maknanya: “..mereka memuji dan membelanya (Rasulullah)”. (Surah al-A^raf: 157)

Perkataan عزّروه membawa makna memuji dan mengagungkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah seperti berikut:

إِنَّ بَعْضَ النِّسَاءِ مَدَحْنَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلامُ بِقَوْلِهِنَّ أَمَامَ النَّبِيِّ:

“يَا حَبَّذَا مُحَمَّدٌ مِن جَارٍ”

Maknanya: “Sesungguhnya sebahagian wanita ada memuji Nabi عليه السلام di hadapan Baginda sendiri dengan kata-kata: “Oh! Betapa mulianya Muhammad sebagai seorang jiran””.

Telah thabit bahawa sangat ramai sahabat Nabi memuji Baginda seperti Hassan ibn Thabit, al-^Abbas dan selain mereka, sedangkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri tidak mengingkari perkara tersebut, bahkan Baginda menilainya sebagai perbuatan yang baik.

21. Bincangkan tentang siksaan kubur.

Jawapan: Wajib beriman dengan siksaan kubur dan hukum ini thabit dengan ijma^. Barangsiapa mengingkarinya maka dia telah kafir.

Allah تعالى berfirman:

â‘$¨Y9$# šcqàÊt÷èム$pköŽn=tæ #xr߉äî $|‹Ï±tãur ( tPöqtƒur ãPqà)s? èptã$¡¡9$# (#þqè=Åz÷Šr&

tA#uä šcöqtãöÏù £‰x©r& É>#x‹yèø9$# ÇÍÏÈ

(سورة غافر: 46)

Maknanya: “Neraka dinampakkan kepada mereka (orang-orang kafir pengikut Firaun) pada waktu pagi dan petang (di alam barzakh), dan pada hari berlakunya kiamat, (dikatakan kepada malaikat): “Masukkan keluarga Firaun ke siksaan yang amat pedih”. (Surah Ghafir: 46)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

اسْتَعِيذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

(رواه البخاري)

Maknanya: “Kamu mohonlah perlindungan dengan dari siksaan kubur”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

22. Apakah makhluk Allah yang pertama?

Jawapan: Makhluk pertama ialah air. Allah تعالى berfirman:

$oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr

(سورة الأنبياء: 30)

Maknanya: “Dan kami telah menjadikan segala sesuatu yang hidup daripada air”. (Surah al-Anbiya‘: 30)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

كُلُّ شَيْءٍ خُلِقَ مِنَ الْمَاءِ

(رواه ابن حبان)

Maknanya: “Setiap sesuatu diciptakan daripada air”. (Diriwayatkan oleh Ibn Hibban)

23. Bincangkan tentang bahagian-bahagian bid^ah dan apakah dalil yang menunjukkan bahawa bid^ah hasanah itu ada?

Jawapan: Bid^ah dari segi bahasa ialah setiap perkara yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya, manakala dari segi istilah pula bid^ah terbahagi kepada dua, iaitu bid^ah huda dan bid^ah dalalah.

Allah تعالى berfirman:

ºp§‹ÏR$t6÷du‘ur $ydqããy‰tGö/$# $tB $yg»uZö;tGx. óOÎgøŠn=tæ žwÎ) uä!$tóÏGö/$# ÈbºuqôÊ͑ «!$#

(سورة الحديد: 27)

Maknanya: “…dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah sedangkan kami tidak mewajibkannya kepada mereka melainkan (mereka sendiri yang mengada-adakannya) untuk mencari keredaan Allah”. (Surah al-Hadid: 27)

Allah memuji perbuatan para pengikut Nabi Isa عليه السلام yang muslim kerana mereka menjauh dan memutuskan diri mereka daripada kesukaan nafsu syahwat yang tidak diwajibkan ke atas mereka semata-mata kerana menagih keredaan Allah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَن سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِن بَعْدِهِ

(رواه مسلم)

Maknanya:“Barangsiapa yang merintis (memulai) dalam Islam suatu perbuatan yang baik, maka dia mendapat pahala perbuatan tersebut dan pahala orang-orang yang melakukan perbuatan itu selepasnya”. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Para sahabat Nabi dan generasi muslim selepas mereka banyak melakukan perkara-perkara baru yang baik dalam agama dan umat Islam menerima perkara itu seperti membina mihrab (tempat sembahyang imam di masjid), azan kedua bagi sembahyang Jumaat, meletakkan titik di dalam mushaf dan amalan Maulid Nabi.

24. Bincangkan tentang sihir.

Jawapan: Melakukan sihir adalah haram. Allah تعالى berfirman:

$tBur txÿŸ2 ß`»yJø‹n=ߙ £`Å3»s9ur šúüÏÜ»u‹¤±9$# (#rãxÿx. tbqßJÏk=yèム}¨$¨Y9$# tósÅb¡9$#

(سورة البقرة: 102)

Maknanya: “Dan Nabi Sulaiman tidaklah kafir, tetapi syaitan-syaitan itulah yang kafir, hal keadaan mereka mengajar sihir kepada manusia (dengan meyakini perkara ini sebagai suatu yang halal dan boleh)”. (Surah al-Baqarah: 102)

Dalam satu hadis ada dinyatakan:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ. قِيلَ: مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ وَالسِّحْرُ…

(رواه مسلم)

Maknanya: Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:”Kamu hendaklah menjauhi tujuh perkara yang membinasakan”. Baginda ditanya: “Apakah tujuh perkara itu wahai Rasulullah? Baginda menjawab: “Menyekutukan Allah, sihir…”. (Diriwayatkan oleh Muslim)

25. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa orang yang melempar lembaran yang mengandungi nama Allah ke tempat kotor dengan maksud perlecehan atau penghinaan itu kafir?

Jawapan: tidak boleh melempar suatu lembaran atau kertas yang mengandungi nama Allah ke tempat kotor atau menjijikkan. Orang yang berbuat demikian dengan maksud perlecehan atau penghinaan itu adalah kafir.

Allah تعالى berfirman:

ö@è% «!$$Î/r& ¾ÏmÏG»tƒ#uäur ¾Ï&Î!qߙu‘ur óOçFYä. šcrâä̓öktJó¡n@ ÇÏÎÈ

Ÿw (#râ‘É‹tG÷ès? ô‰s% Länöxÿx. y‰÷èt/ óOä3ÏY»yJƒÎ)

(سورة التوبة: 65-66)

Maknanya: “…Katakanlah (wahai Muhammad kepada mereka): “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu boleh memperolok-olokkan! Tidak perlu kamu meminta maaf, sebenar kamu telah menjadi kafir setelah kamu beriman”. (Surah al-Tawbah: 65-66)

Ibn ^Abidin berkata:

وَيَكْفُرُ مَن رَمَى الْمُصْحَفَ فِي الْقَاذُورَاتِ وَلَوْ لَمْ يَقْصِدِ الاسْتِخْفَافَ

لأَنَّ فِعْلَهُ يَدُلُّ عَلَى الاسْتِخْفَافِ

Maknanya: “Dan orang (sengaja) melempar mushaf ke tempat kotor atau menjijikkan terkeluar dari Islam meskipun dia tidak bermaksud untuk memperleceh atau menghina kerana perbuatannya itu menunjukkan penghinaan atau perlecehan”

26. Apakah hukum bernazar?

Jawapan: Boleh bernazar dalam perkara ketaatan kepada Allah atau pendekatan diri kepada rahmat Allah dan wajib memenuhi nazar tersebut. Adapun nazar dalam perkara yang diharamkan oleh Allah maka hukumnya haram dan tidak wajib dipenuhi.

Allah تعالى berfirman:

tbqèùqム͑õ‹¨Z9$$Î/

(سورة الإنسان: 7)

Maknanya: “Mereka (sentiasa) memenuhi nazar”.(Surah al-Insan: 7)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَن نَذَرَ أَن يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ, وَمَن نَذَرَ أَن يَعْصِيَهُ فَلا يَعْصِهِ

(رواه البخاري)

Maknanya: “Barangsiapa bernazar untuk mentaati Allah maka hendaklah dia mentaatinya, dan barangsiapa bernazar untuk bermaksiat kepada-Nya maka janganlah dia bermaksiat kepada-Nya”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

27. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa suara perempuan itu bukan aurat?

Jawapan: Allah تعالى berfirman:

z`ù=è%ur Zwöqs% $]ùrã÷è¨B ÇÌËÈ

(سورة الأحزاب: 22)

Maknanya: “Dan katakanlah (wahai isteri-isteri Nabi) dengan perkataan yang baik”. (Surah al-Ahzab: 22)

Al-Ahnaf ibn Qays berkata:

سَمِعْتُ الْحَدِيثَ مِن فِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ

فَمَا سَمِعْتُهُ كَمَا سَمِعْتُهُ مِن فِي عَائِشَةَ (فِي أي: فَمٌ)

(رواه الحاكم في المستدرك)

Maknanya: “Aku telah mendengar hadis dari mulut Abu Bakr, Umar, Uthman dan Ali. Dan aku tidak pernah mendengar hadis sebagaimana aku telah mendengarnya dari mulut ^A‘ishah”. (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab beliau al-Mustadrak)

28. Bincangkan tentang sifat Kalam Allah.

Jawapan: Allah bersifat kalam (berkata-kata) tidak seperti kalam kita. Sifat kalam-Nya bukanlah suatu huruf, suatu suara dan suatu bahasa.

Allah تعالى berfirman:

zN¯=x.ur ª!$# 4Óy›qãB $VJŠÎ=ò6s? ÇÊÏÍÈ

(سورة النساء: 164)

Maknanya: “Dan Allah benar-benar memperdengarkan kalam-Nya kepada Musa”. (Surah al-Nisa’: 164)

Al-Imam Abu Hanifah berkata dalam kitab beliau al-Fiqh al-Absat:

وَيَتَكَلَّمُ لا كَكَلامِنَا وَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ بِالآلاتِ وَالْحُرُوفِ وَالْمَخَارِجِ

وَاللهُ تَعَالَى مُتَكَلِّمٌ بِلا ءَالَةٍ وَلا حُرُوفٍ

Maknanya: “Dan Allah bersifat kalam yang tidak seperti sifat kalam kita, dan kita berbicara atau berkata-kata dengan anggota percakapan, huruf dan tempat keluar huruf sedangkan Allah berkata-kata tanpa suatu alat dan suatu tempat keluar huruf”.

29. Apakah makna firman Allah: 3“uqtGó™$# ĸöyèø9$# ’n?tãß`»oH÷q§9$# (Surah Taha: 5)?

Jawapan: Al-Imam Malik berkata:

اسْتَوَى كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَلا يُقَالُ عَنْهُ كَيْفَ وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوعٌ

Maknanya: “Istawa (استوى) seperti yang Allah mensifatkan Zat-Nya, tidak boleh dikatakan bagaimana tentangnya (istawa), dan bagaimana mustahil bagi-Nya”

Bagaimana (bentuk) adalah sifat makhluk dan antara sifat makhluk ialah duduk, mendiami, bertempat dan berpihak.

Al-Imam al-Qushayri berkata:

اسْتَوَى أي حَفِظَ وَقَهَرَ وَأَبْقَى

Maknanya: “Istawa bererti menjaga, menguasai dan menetapkan”.

Tidak boleh beriktikad bahawa Allah duduk atau bersemayam di atas arasy kerana pegangan ini adalah akidah Yahudi dan di dalam akidah ini terdapat pendustaan terhadap firman Allah تعالى ini:

Ÿxsù (#qç/ΎôØs? ¬! tA$sVøBF{$#

(سورة النحل, 74)

Maknanya: “Maka janganlah kamu mengadakan sebarang persamaan bagi Allah” (Surah al-Nahl, ayat 74)

Allah تعالى berfirman:

(#rã—tt/ur ¬! ωÏnºuqø9$# ͑$£gs)ø9$# ÇÍÑÈ

(سورة إبراهيم: 48)

Maknanya: “Dan merakaberkumpul untuk dihisab oleh Allah Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan dan Menguasai”. (Surah Ibrahim: 48)

Sayyidina Ali رضي الله عنه وكرم وجهه berkata:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْعَرْشَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ يَتَّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ

(رواه أبو منصور البغدادي)

Maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan arasy untuk menampakkan kekuasaan-Nya dan bukanlah Allah mengambilnya sebagai suatu tempat bagi zat-Nya”. (Diriwayatkan oleh Abu Mansur al-Baghdadi)

30. Bincangkan tentang Qadar.

Jawapan: Segala sesuatu yang terjadi di alam ini terdiri daripada kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kemaksiatan serta keimanan dan kekufuran adalah dengan takdir, kehendak dan ilmu Allah. Kebaikan, keimanan dan ketaatan ditentukan dengan takdir Allah dengan kesukaan dan keredaan-Nya. Manakala kejahatan, kemaksiatan dan kekufuran ditentukan dengan takdir Allah tanpa kesukaan dan keredaan-Nya. Namun takdir Allah yang merupakan sifat-Nya yang azali dan abadi itu tidak boleh disifatkan dengan kejahatan atau keburukan.

Allah تعالى berfirman:

$¯RÎ) ¨@ä. >äóÓx« çm»oYø)n=yz 9‘y‰s)Î/ ÇÍÒÈ

(سورة القمر: 49)

Maknanya: “sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan suatu ukuran (ketentuan)”. (Surah al-Qamar: 49)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزُ وَالْكَيْسُ

(رواه مسلم)

Maknanya: “Segala sesuatu (terjadi) dengan suatu ukuran (ketentuan Allah) meskipun kebodohan dan kepintaran”. (Diriwayatkan oleh Muslim)

31. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa seorang lelaki berjabat tangan dengan perempuan itu haram?

Jawapan: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لأَن يُطْعَنَ أَحَدُكُم بِحَدِيدَةٍ فِي رَأْسِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَن يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

(رواه الدارقطني)

Maknanya: “Jika salah seorang di kalangan kamu ditusuk dengan suatu besi di kepalanya, maka itu lebih ringan baginya daripada (disiksa kerana) menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya”. (Diriwayatkan oleh al-Daruqutni)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

زِنَى الْيَدَيْنِ الْبَطْشُ

(رواه البخاري)

Maknanya: “Dan zina kedua tangan itu ialah sentuhan”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

32. Bincangkan tentang pembacaan al-Quran untuk orang yang telah meninggal dunia.

Jawapan: Pembacaan al-Quran untuk orang Islam yang telah meninggal dunia dibolehkan.

Allah تعالى berfirman:

(#qè=yèøù$#ur uŽöy‚ø9$#

(سورة الحج: 77)

Maknanya: “Dan lakukanlah kebaikan”. (Surah al-Hajj: 77)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ û§ƒ

(رواه ابن حبان وصحّحه)

Maknanya: “Kamu bacalah Surah Yasin untuk orang yang telah meninggal dunia di kalangan kamu”. (Diriwayatkan dan disahihkan oleh Ibn Hibban)

Ahlu`l-Haqq (Ulama Ahli`s-Sunnah wa`l Jama^ah) berijma^ bahawa pembacaan al-Quran untuk orang yang telah meninggal dunia dibolehkan dan ada manfaatnya.

Al-Imam al-Shafi^i berkata:

لَوْ قَرَءُوا عِندَ قَبْرِهِ شَيْئًا مِنَ الْقُرْءَانِ كَانَ حَسَنًا

وَلَوْ قَرِءُوا الْقُرْءَانَ كُلَّهُ كَانَ أَحْسَنَ

(نقله النووي في رياض الصالحين)

Maknanya: “Jika mereka membaca sesuatu dari al-Quran di sisi kubur seorang muslim maka itu suatu perkara yang baik. Jika mereka seluruh al-Quran maka itu lebih baik”. (Dinaqalkan oleh al-Imam al-Nawawi dalam kitab beliau Riyadu`sSalihin)

33. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa orang yang telah meninggal dunia boleh mendapat manfaat dengan sedekah?

Jawapan: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِن ثَلاثٍ

صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

(رواه مسلم)

Maknanya: “Apabila seseorang anak Adam meninggal dunia maka amal perbuatannya (yang dapat terus mengalirkan pahala untuknya) terputus kecuali tiga perkara; iaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang akan mendoakan untuknya”. (Dirwayatkan oleh Muslim)

Ketiga-tiga perkara tersebut adalah antara perkara yang boleh diambil manfaat oleh seorang muslim yang telah meninggal dunia kerana perkara-perkara itu menjadi sebab dalam hal ini.

Demikian juga Allah تعالى berfirman:

br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ

(سورة النجم: 39)

Maknanya: “Dan sesungguhnya tiada (balasan) bagi manusia melainkan (berdasarkan) apa yang telah diusahakan”. (Surah al-Najm: 39)

Yakni kebaikan yang telah dilakukan oleh si mati sendiri bermanfaat baginya, manakala kebaikan orang lain untuk si mati yang bukan perbuatannya sendiri itu pula bermanfaat baginya dengan anugerah dan kelebihan Allah ke atasnya. Contohnya solat jenazah yang bukannya perbuatan si mati tetapi dia yang dapat manfaat dengan solat tersebut.

Demikian juga doa Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk orang lain. Doa itu bukanlah perbuatan orang yang didoakan tetapi dia mendapat manfaat dengan doa Baginda صلى الله عليه وسلم itu, seperti doa Baginda صلى الله عليه وسلم untuk Ibn ^Abbas رضي الله عنهما:

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ وَتَأْوِيلَ الْكِتَابِ

(رواه البخاري)

Maknanya: “Ya Allah! Kurniakanlah baginya ilmu hikmah dan ilmu takwil al-Quran”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

34. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa Qiyam Ramadan (Solat Tarawih) boleh dilakukan lebih dari 11 rakaat?

Jawapan: Allah تعالى berfirman:

(#qè=yèøù$#ur uŽöy‚ø9$# öNà6¯=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇÐÐÈ

(سورة الحج: 77)

Maknanya: “Dan lakukanlah kebaikan supaya kamu berjaya”. (Surah al-Hajj: 77)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

صَلاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ فَلْيُوتِرْ بِرَكْعَةٍ

(رواه البخاري)

Maknanya: “Solat malam itu dilakukan dua rakaat dua rakaat. Apabila ada di kalangan kamu bimbang masuk waktu subuh maka lakukanlah solat Witir satu rakaat”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الصَّلاةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ فَمَن شَاءَ اسْتَقَلَّ وَمَن شَاءَ اسْتَكْثَرَ

(رواه مسلم)

Maknanya: “Solat adalah suatu amalan paling baik, maka barangsiapa yang mahu dia boleh menyedikitkan bilangan rakaatnya dan barangsiapa mahu dia boleh memperbanyakkan bilangan rakaatnya”[3]. (Diriwayatkan oleh Muslim).

35. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa boleh menggunakan rebana?

Jawapan: Terdapat satu hadis yang berbunyi:

أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ لِلرَّسُولِ: إِنِّي نَذَرْتُ إِن رَدَّكَ اللهُ سَالِمًا

أَنْ أَضْرِبَ بِالدُّفِّ بَيْنَ يَدَيْكَ, قَالَ: إِن كُنتِ نَذَرْتِ فَأَوْفِي بِنَذَرِكِ

(رواه أبو داود)

Maknanya: Bahawa ada seorang perempuan berkata kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم: “Sesungguhnya aku telah bernazar untuk memukul rebana di hadapanmu jika Allah mengembalikanmu dalam keadaan selamat”. Baginda صلى الله عليه وسلم pun bersabda: “Jika engkau telah bernazar maka penuhilah nazarmu itu”. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

36. Siapakah nabi dan rasul yang pertama?

Jawapan: Nabi dan rasul yang pertama ialah Adam عليه السلام.

Allah تعالى berfirman:

¨bÎ) ©!$# #’ssÜô¹$# tPyŠ#uä %[nqçRur

(سورة ءال عمران: 33)

Maknanya: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh…(sebagai nabi)”. (Surah Al ^Imran: 33)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

ءَادَمُ فَمَن سِوَاهُ مِنَ الأَنبِيَاءِ تَحْتَ لِوَائِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

(رواه الترمذي)

Maknanya: “Adam dan selainnya dari kalangan para nabi berada di bawah panjiku pada hari kiamat”. (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi)

37. Apakah sifat wajib bagi para nabi dan sifat mustahil bagi mereka?

Jawapan: Para nabi wajib (pasti pada akal) bersifat benar, amanah, pintar, menjaga diri dari perbuatan tercela, berani, fasih atau petah berbicara. Mereka mustahil bersifat dusta, khianat, kecelaan, zina, semua dosa besar dan kekufuran sebelum kenabian dan selepas kenabian.

Allah تعالى berfirman:

yxà2ur $oYù=žÒsù ’n?tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÑÏÈ

(سورة الأنعام: 86)

Maknanya: “Dan semuanya (para nabi itu) kami melebihkan darjat mereka ke sekalian makhluk”. (Surah al-An^am: 86)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلا حَسَنَ الْوَجْهِ حَسَنَ الصَّوْتِ

(رواه الترمذي)

Maknanya: “Allah tidak mengutus seorang nabi pun melainkan tampan rupanya dan merdu suaranya”. (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi)

38. Apakah makna firman Allah تعالى: ÇÌÈ ô‰s9qムöNs9urô$Î#tƒ öNs9 (Surah al-Ikhlas: 3)?

Jawapan: Makna firman Allah di atas ialah Allah tidak berasal dari sesuatu dan tidak ada suatu pun yang menjadi pecahan dari-Nya (seperti Dia tidak beranak). Oleh itu, Allah tidak menempati sesuatu, tiada suatu pun yang terlepas atau terpecah dari-Nya dan tiada suatu pun yang menempati-Nya.

Al-Imam Ja^far al-Sadiq berkata:

مَن زَعِمَ أَنَّ اللهَ فِي شَيْءٍ أَوْ مِن شَيْءٍ أَوْ عَلَى شَيْءٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

(رواه القشيري في الرسالة القشيرية)

Maknanya: “Barangsiapa yang beranggapan bahawa Allah di dalam sesuatu, daripada sesuatu atau di atas sesuatu maka sesungguhnya dia telah menjadi musyrik”. (Diriwayat oleh al-Qushayri dalam al-Risalah al-Qushayriyyah)

39. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa boleh berselawat Nabi صلى الله عليه وسلم selepas azan?

Jawapan: Boleh berselawat ke atas Nabi صلى الله عليه وسلمselepas azan dan tidak perlu hiraukan orang yang mengharamkannya.

Allah تعالى berfirman:

¨bÎ) ©!$# ¼çmtGx6Í´¯»n=tBur tbq=|Áム’n?tã ÄcÓÉ<¨Z9$# 4

$pkš‰r¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#q=|¹ Ïmø‹n=tã (#qßJÏk=y™ur $¸JŠÎ=ó¡n@ ÇÎÏÈ

(سورة الأحزاب: 56)

Maknanya: “Sesunggunya Allah dan para malaikat berselawat ke atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah ke atas Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya”. (Surah al-Ahzab: 56)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا كَمَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ

(رواه مسلم)

Maknanya: Apabila kamu mendengar muazzin (mengumandangkan azan) maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya kemudian berselawatlah ke atasku”. (Diriwayat oleh Muslim)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَن ذَكَرَنِي فَلْيُصَلِّ عَلَيَّ

(رواه الحافظ السخاوي)

Maknanya: “Barangsiapa yang menyebutku[4] maka hendaklah berselawat ke atasku”. (Diriwayatkan oleh al-Hafiz al-Sakhawi)

40. Apakah maksud riddah? Dan berapakah bahagiannya?

Jawapan: Riddah ialah terputusnya keislaman dengan sebab kekufuran. Riddah terbahagi kepada tiga bahagian:

1. Riddah Qawliyyah (perkataan) seperti mencaci atau memaki Allah atau para nabi atau Islam meskipun dalam keadaan marah.

2. Riddah Fi^liyyah (perbuatan) seperti melempar mushaf al-Quran ke tempat-tempat yang kotor dan memijak mushaf al-Quran.

3. Riddah Qalbiyyah (hati) seperti beriktikad bahawa Allah itu adalah suatu jisim atau benda atau roh atau bahawa Dia duduk atau bersemayam di atas arasy atau bahawa Dia mendiami atau berada langit atau di setiap tempat dengan zat-Nya atau berpegang bahawa Dia berada di suatu penjuru atau pihak.

Allah تعالى berfirman:

ô‰s)s9ur (#qä9$s% spyJÎ=x. ̍øÿä3ø9$# (#rãxÿŸ2ur y‰÷èt/ ö/ÏSÏJ»n=ó™Î)

(سورة التوبة: 74)

Maknanya: “Dan sebenarnya mereka telah mengatakan perkataan kufur dan mereka telah kafir setelah keislaman mereka”. (Surah al-Tawbah: 74)

Allah تعالى berfirman:

Ÿw (#r߉àfó¡n@ ħôJ¤±=Ï9 Ÿwur ̍yJs)ù=Ï9

(سورة فصلت: 37)

Maknanya: “Janganlah kamu sujud kepada matahari dan bulan”. (Surah Fussilat: 37)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ

أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

(رواه مسلم والبخاري)

Maknanya: “Sesungguhnya boleh terjadi seorang hamba mengucapkan perkataan (yang menghina Allah, para nabi atau syariat-Nya) yang dia tidak menganggapnya sebagai bahaya, (sedangkan perkataan itu) boleh menjerumuskannya ke dalam (dasar) neraka (yang kedalamannya) lebih jauh daripada jarak di antara timur dan barat”. (Diriwayatkan Muslim dan al-Bukhari)

41. Apakah dalil yang menunjukkan boleh menyambut Maulid Nabi?

Jawapan: Allah تعالى berfirman:

(#qè=yèøù$#ur uŽöy‚ø9$# öNà6¯=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇÐÐÈ

(سورة الحج: 77)

Maknanya: “Dan lakukanlah kebaikan supaya kamu berjaya”. (Surah al-Hajj: 77)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَن سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا

(رواه مسلم)

Maknanya:“Barangsiapa yang merintis (memulai) dalam Islam suatu perbuatan yang baik, maka dia mendapat pahala perbuatan tersebut…”. (Diriwayatkan oleh Muslim)

42. Apakah maksud sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم: إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنتَ فَاسْتَعِن بِاللهِ?

Jawapan: Makna hadis ini termasuk dalam bab keutamaan iaitu bahawa yang paling utama dimohon dan diminta pertolongan adalah Allah. Namun hadis ini tidak pula bermakna: “Jangan kamu memohon dan meminta pertolongan kepada selain Allah”. Hal ini sama seperti hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban:

لا تُصَاحِبْ إِلا مُؤمِنًا وَلا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلا تَقِيٌّ

Maknanya: “Janganlah engkau bersahabat melainkan dengan orang yang beriman dan janganlah makananmu dimakan melainkan oleh orang yang bertaqwa”.

Hadis di atas bermakna bahawa orang yang paling utama untuk diberikan makanan ialah orang yang bertaqwa dan orang yang paling utama untuk dijadikan sahabat atau kawan ialah orang yang beriman. Hadis tersebut tidak membawa makna bahawa haram memberi makanan kepada orang yang tidak bertaqwa dan haram bersahabat dengan orang bukan mukmin.

Sesungguhnya Allah memuji orang Islam di dalam al-Quran dengan firman-Nya:

tbqßJÏèôÜãƒur tP$yè©Ü9$# 4’n?tã ¾ÏmÎm7ãm $YZŠÅ3ó¡ÏB $VJŠÏKtƒur #·ŽÅ™r&ur ÇÑÈ

(سورة الإنسان: 8)

Maknanya: “Dan mereka memberikan makanan mereka kerana Allah kepada orang miskin, anak yatim dan orang (kafir yang menjadi) tawanan”. (Surah al-Insan: 8)

Sebenarnya di dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim ada diceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam sebuah gua memohon kepada Allah agar mereka dapat keluar dari gua itu dengan wasilah amal soleh mereka, kemudian Allah memlepaskan mereka dari terperangkap.

43. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa kaum lelaki dan kaum perempuan dibolehkan untuk menziarahi makam Nabi صلى الله عليه وسلم?

Jawapan: Ziarah makam Nabi صلى الله عليه وسلم disunatkan dengan ijma^ seperti yang dinaqalkan oleh al-Qadi ^Iyad dan al-Nawawi.

Allah تعالى berfirman:

öqs9ur öNßg¯Rr& ŒÎ) (#þqßJn=¤ß öNßg|¡àÿRr& x8râä!$y_ (#rãxÿøótGó™$$sù ©!$#

txÿøótGó™$#ur ÞOßgs9 ãAqߙ§9$# (#r߉y`uqs9 ©!$# $\/#§qs? $VJŠÏm§‘

(سورة النساء: 64)

Maknanya: “Sesungguhnya jika mereka ketika menzalimi diri sendiri (dengan berbuat dosa) kemudian mereka mendatangimu lalu memohon keampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan keampunan buat mereka, nescaya mereka mendapati bahawa Allah adalah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (Surah al-Nisa‘: 64)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَن زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاَعَتِي

(رواه الدارقطني وقواه الحافظ السبكي)

Maknanya: “Barangsiapa yang menziarahi makamku maka pasti dia mendapat syafaatku”. (Diriwayatkan oleh al-Daruqutni dan dinilai sebagai kuat oleh al-Hafiz al-Subki)

Adapun hadis yang berbunyi:

لا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلا إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِدَ

Maknanya (yang zahir): “Tidak boleh bersungguh-sungguh untuk melakukan perjalanan kecuali perjalanan ke tiga masjid (al-Masjid al-Haram, Masjid Nabawi, al-Masjid al-Aqsa)”.

Maka makna sebenar hadis di atas ialah barangsiapa yang mahu bermusafir dengan tujuan mendirikan solat di suatu masjid maka sepatutnya dia pergi bermusafir ke tiga masjid yang berkenaan kerana bersembahyang di dalam masjid-masjid tersebut melipatgandakan pahala. Anjuran atau saranan di dalam hadis tersebut sebagai sunat bukannya wajib. Oleh itu, hadis tersebut dikhususkan dengan perjalanan dengan tujuan solat dan tidak dinyatakan pula di dalam hadis tersebut bahawa tidak boleh menziarahi makam Nabi صلى الله عليه وسلم.

44. Apakah dalil yang menunjukkan boleh mengambil berkat (tabarruk)?

Jawapan: Perbuatan mengambil berkat dengan Nabi صلى الله عليه وسلم dan bekas atau peninggalan Baginda صلى الله عليه وسلم dibolehkan. Allah تعالى berfirman tentang Nabi Yusuf عليه السلام:

(#qç7ydøŒ$# ÓÅ‹ÏJs)Î/ #x‹»yd çnqà)ø9rsù 4’n?tã Ïmô_ur ’Î1r& ÏNùtƒ #ZŽÅÁt/

(سورة يوسف: 93)

Maknanya: “Kamu pergilah membawa bajuku ini kemudian letakkanlah baju ini di wajah ayahku nescaya dia boleh melihat kembali”. (Surah Yusuf: 93)

Satu hadis menyatakan:

الرَّسُولُ قَسَّمَ شَعْرَهُ وَوَزَّعَهُ بَيْنَ النَّاسِ لِيَتَبَرَّكُوا بِهِ

(رواه الشيخان)

Maknanya: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم membahagi-bahagikan dan mengedarkan rambutnya di kalangan orang ramai supaya mereka mengambil berkat dengan rambut itu”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

45. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa boleh memakai tangkal (hirz) yang mengandungi ayat al-Quran dan seumpamanya dan tidak mengandungi kata-kata, rajah-rajah atau angka-angka (yang tidak difahami atau tidak jelas maknanya) yang diharamkan?

Jawapan: Allah تعالى berfirman:

ãAÍi”t\çRur z`ÏB Èb#uäöà)ø9$# $tB uqèd Öä!$xÿÏ© ×puH÷qu‘ur tûüÏZÏB÷sßJù=Ïj9

(سورة الإسراء: 82)

Maknanya: “Dan kami menurunkan suatu dari al-Quran itu sebagai penawar atau penyembuhan dan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Surah al-Isra‘: 82)

Satu hadis menyatakan:

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرُو: كُنَّا نُعَلِّمُ صِبْيَانَنَا الآيَاتِ مِنَ الْقُرْءَانِ

وَمَن لَمْ يَبْلُغْ نَكْتُبْهَا عَلَى وَرَقَةٍ وَنُعَلِّقُهَا عَلَى صَدْرِهِ

(رواه الترمذي)

Maknanya: Abdullah ibn ^Amr berkata: “Kami pernah mengajar beberapa ayat al-Quran kepada anak-anak kecil kami, manakala anak yang belum baligh pula kami menulis ayat-ayat tersebut di atas suatu kertas dan menggantungkannya di atas dadanya”. (Diriwayatkan oleh al-Tirmidhi)

46. Bincangkan tentang dhikru`llah (menyebut nama Allah) ketika mengiringi jenazah?

Jawapan: Menyebut nama Allah ketika mengiringi jenazah hukumnya boleh tanpa ada khilaf.

Allah تعالى berfirman:

$pkš‰r¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#râè0øŒ$# ©!$# #[ø.ό #ZŽÏVx. ÇÍÊÈ

(سورة الأحزاب: 41)

Maknanya: “Wahai orang-orang yang beriman! Berzikirlah (sebutlah) nama Allah dengan suatu zikir (sebutan) yang banyak”. (Surah al-Ahzab: 41)

Allah تعالى berfirman:

tûïÏ%©!$# tbrãä.õ‹tƒ ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNÎgÎ/qãZã_

(سورة ءال عمران: 191)

Maknanya: “Orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring”. (Surah Al ^Imran: 191)

Satu hadis menyatakan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى جَمِيعِ أَحْوَالِهِ

(رواه مسلم)

Maknanya: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم berzikir (mengingati) Allah dalam setiap keadaan”. (Diriwayatkan oleh Muslim)

47. Bincangkan tentang takwil.

Jawapan: Takwil ialah mengeluarkan nas (al-Quran dan Hadis) dari kefahaman zahirnya. Takwil dibolehkan terhadap ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis yang zahirnya membawa kekeliruan bahawa Allah mempunyai anggota tangan atau anggota muka, atau bahawa Dia duduk di atas arasy atau mendiami di sesuatu arah atau pihak, atau bahawa Dia disifatkan dengan suatu sifat daripada sifat-sifat makhluk.

Allah تعالى berfirman:

$tBur ãNn=÷ètƒ ÿ¼ã&s#ƒÍrùs? žwÎ) ª!$# 3 tbqã‚Å™º§9$#ur ’Îû ÉOù=Ïèø9$#

(سورة ءال عمران: 7)

Maknanya: “Dan tidak ada yang mengetahui tentang takwilnya (ayat-ayat mutashabihat) kecuali Allah dan orang-orang mendalam ilmunya”. (Surah Al ^Imran: 7)

Dalam suatu hadis diriwayatkan bahawa Baginda صلى الله عليه وسلم telah berdoa untuk Ibn ^Abbas رضي الله عنهما, iaitu:

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ وَتَأْوِيلَ الْكِتَابِ

(رواه البخاري وابن ماجه والحافظ ابن الجوزي)

Maknanya: “Ya Allah! Kurniakanlah baginya ilmu hikmah dan ilmu takwil al-Quran”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Ibn Hibban dan al-Hafiz Ibn al-Jawzi)

48. Apakah dalil yang menunjukkan bahawa iman adalah syarat penerimaan segala amal soleh?

Jawapan: Allah تعالى berfirman:

ÆtBur ö@yJ÷ètƒ z`ÏB ÏM»ysÎ=»¢Á9$# `ÏB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB y7Í´¯»s9résù tbqè=äzô‰tƒ sp¨Yyfø9$# Ÿwur tbqßJn=ôàム#ZŽÉ)tR ÇÊËÍÈ

(سورة النساء: 124)

Maknanya: “Barangsiapa yang mengerjakan amalan soleh dari kalangan lelaki atau perempuan sedang dia seorang yang beriman (ertinya ini sebagai syarat), maka mereka itu akan memasuki syurga dan mereka tidak akan dianiaya sama sekali”. (Surah al-Nisa‘: 124)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَفْضَلُ الأَعْمَالِ إِيمَانٌ بِاللهِ وَرَسُولِهِ

(رواه البخاري)

Maknanya: “Perbuatan atau amalan yang paling utama (secara mutlaknya) ilah beriman dengan Allah dan Rasul-Nya”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

49. Apakah makna firman Allahتعالى : ¼çmygô_ur žwÎ) î7Ï9$yd >äóÓx« ‘@ä. (Surah al-Qasas: 88)?

Jawapan: Al-Imam al-Bukhari mentakwil firman Allah ¼çmygô_ur žwÎ) daripada ayat di atas dengan katanya:

إِلا مُلْكَهُ

Maknanya: “kecuali kekuasaan-Nya”

Al-Imam Sufyan al-Thawri berkata:

إِلا مَا أُرِيدَ بِهِ وَجْهَ اللهِ أَيْ الأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ

Maknanya: “…kecuali sesuatu yang bertujuan untuk mendapatkan reda Allah iaitu amal soleh”

50. Apakah makna firman Allah تعالى: uÚö‘F{$# ãNä3Î/ y#Å¡øƒs† br& Ïä!$yJ¡¡9$# ’Îû `¨B LäêYÏBr&uä (Surah al-Mulk: 16)?

Jawapan: Seorang ahli tafsir al-Fakhr al-Razi dalam kitab tafsirnya dan Abu Hayyan al-Andalusi dalam kitab tafsirnya al-Bahr al-Muhit:

الْمُرَادُ بِـ(`¨B ’Îû (Ïä!$yJ¡¡9$# الْمَلائِكَةُ

Maknanya: “Yang dimaksudkan dengan Ïä!$yJ¡¡9$# ’Îû `¨B (yang berada di langit) ialah para malaikat”

Oleh itu, yang dimaksudkan dalam ayat tersebut bukanlah bahawa Allah berada atau mendiami langit.

51. Apakah makna firman Allah: ÇÍÐÈ tbqãèřqßJs9 $¯RÎ)ur 7‰&‹÷ƒrÎ/ $yg»oYø‹t^t/ uä!$uK¡¡9$#ur (Surah al-Dharriyyat: 47)?

Jawapan: Ibn ^Abbas رضي الله عنهما berkata:

7‰&‹÷ƒrÎ/)) أَيْ بِقُدْرَةٍ

Maknanya: “(yang maksudkan dengan) 7‰&‹÷ƒrÎ/ ialah dengan kekuasaan”

Oleh itu, yang dimaksudkan dengan perkataan يد dari segi bahasa Arab dalam konteks ayat di atas bukanlah anggota tangan kerana Allah Maha Suci dari sifat demikian.


[1] Persoalan bagaimana atau cara hanya layak diajukan tentang sifat makhluk kerana ia merujuk kepada suatu bentuk, pergerakan dan perubahan sifat. Oleh itu, Allah Maha Suci dari sebarang persoalan bagaimana kerana ia melibatkan sifat makhluk.

[2] Hadis al-Jariyah sebuah hadis yang mengandungi peristiwa pertanyaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada seorang jariyah (hamba perempuan) yang telah diriwayatkan dalam pelbagai lafaz oleh beberapa ulama hadis seperti al-Imam Muslim dalam kitabnya Sahih Muslim, Bab Tahrim al-Kalam fi al-Salah, al-Imam Abu Dawud dalam kitabnya Sunan Abi Dawud, Bab Tashmit al-^Atish dan Bab fi al-Raqabati`l-Mu’minah, al-Imam Malik dalam kitabnya al-Muwatta’, Bab Ma Yajuz Mina`l-^Itq fi al-Riqab al-Wajibah, al-Imam al-Bayhaqi, al-Imam Ahmad, al-Imam Ibn Hibban dan lain-lain lagi.

[3] Solat yang dimaksudkan dalam hadis di atas ialah solat sunat atau nafil bukannya solat fardu

[4] Meliputi sama ada setelah seseorang itu menyebut, mendengar atau menulis nama, gelaran dan kata ganti nama Baginda صلى الله عليه وسلم.

Posted in akidah, salafy, shohih | Leave a Comment »

Memahami Konsep Tauhid ( Kitab Risalah Tauhid – Syaikh Abdul Ghani Yahya )

Posted by admin on April 20, 2008

Bab 1 : Memahami Konsep Tauhid

Pengertian Tauhid

Mengesakan Allah , tuhan yang tiada sekutu bagiNya, yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, kesucian, kebesaran dan keadilan .

Pengertian Iman

Keyakinan yang kukuh dengan hati, mengakui dengan lidah dan melaksanakan dengan anggota.

Rukun Iman dan Pengertiannya

Rukun

  • Percaya kepada Allah
Sifat Allah
Wajib
Mustahil
Harus
20
Lawan sifat 20
1
  • Percaya kepada Malaikat
Malaikat yang wajib dipercayai secara tafsili
Jibril Menyampaikan wahyu
Mikail Membawa rezeki
Israfil Meniup sangkakala
‘Izrail Mencabut nyawa
Munkar Menyoal mayat di dalam kubur
Nakir Menyoal mayat di dalam kubur
Raqib Mencatit amalan kebajikan
Atid Mencatit amalan kejahatan
Malik Menjaga pintu neraka
Ridwan Menjaga pintu syurga
  • Percaya kepada Kitab
Kitab Samawi
Al-Quran
Injil
Zabur
Taurat
Muhammad
Bahasa Arab
Isa
Bahasa Siryani
Daud
Bahasa Qibti
Musa
Bahasa Ibrani
  • Percaya kepada Rasul
1. Adam 2. Idris 3. Nuh 4. Hud 5. Saleh
6. Ibrahim 7. Luth 8. Ishak 9. Ismail 10. Ya’qub
11. Yusuf 12. Ayub 13. Syu’aib 14. Harun 15. Musa
16. Ilyasa’ 17. Zulkifli 18. Daud 19. Sulaiman 20. Ilyas
21. Yunus 22. Zakaria 23. Yahya 24. Isa 25. Muhammad S.A.W.
  • Percaya kepada Hari Akhirat
  • Percaya kepada Qadha’ dan Qadar
    • Erti Qadha’ adalah perlaksanaan setiap satu perkara
    • Erti Qadar pula adalah ketentuan setiap satu perkara
    • Oleh itu percaya kepada Qadha’ dan Qadar adalah setiap perkara yang terjadi itu adalah kehendak dan ketentuan Allah

Bab 2 : Permulaan Ilmu Tauhid

Mabadi ( Permulaan ) Ilmu Tauhid

Perkataan ‘ Mabadi ‘ itu bahasa Arab jama’ daripada perkataan mabda’ Bererti : Punca , mula terbit . Maksudnya keterangan yang ringkas atau tujuan sesuatu ilmu sebelum membaca atau belajar ilmu itu. Disebut juga Pembukaan sesuatu ilmu. Adalah Mabadi ilmu tauhid itu sepuluh perkara :

1) Nama ilmu ini :
Iaitu dinamakan Ilmu Tauhid , Ilmu Kalam , Ilmu Usuluddin, Ilmu ‘Aqaid, Ilmu sifat dan Al-Iman.

2) Tempat ambilannya :
Iaitu diterbitkan daripada Al-Quraan dan Al-Hadith.

3) Kandungannya :
Iaitu mengandungi pengetahuan dari hal membahaskan ketetapan pegangan, kepercayaan kepada Allahdan kepada rasul-rasulnya daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperolehi I’ktikad yang yakin, kepercayaan yang putus yang mana ia akan menaikkan perasaan bekerja dan beramal menurut bagaimana kepercayaan tersebut.

4) Tempat bahasannya ( Maudhu’nya )kepada empat tempat :

Pertama : Pada zat Allah Ta’ala dari segi sifat-sifat yang wajib bagiNya, Sifat-sifat yang mustahil atasNya dan sifat yang harus padaNya.

Kedua : Pada zat Rasul-rasul dari segi sifat-sifat yang wajib bagiNya, Sifat-sifat yang mustahil atasNya dan sifat yang harus padanya.

Ketiga : Pada segala kejadian dari segi jirim-jirim dan aradh-aradh yang mana menjadi dalil dan bukti atas wujud yang menjadikannya.

Keempat : Pada segala pegangan dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar daripada perkhabaran Rasulullah seperti hal-hal perkara ghaib contohnya arash , syurga , mahsyar ,neraka dan lain-lain tentang hari Qiamat.

5) Faedah Ilmu Tauhid :
Iaitu dapat mengenal Allah s.w.t. dan percayakan rasul serta mendapat kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat yang kekal.

6) Nisbah ilmu Tauhid dengan ilmu-ilmu yang lain :
Ilmu yang merangkumi ilmu asas di dalam ajaran Islam dan yang paling utama sekali.

7) Yang menghantarkan :
Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. Dan orang yang pertama menerima ilmu Tauhid daripada Allah Ta’ala ialah nabi Adam a.s. dan yang akhir sekali ialah Saidina Muhammad s.a.w.

8) Hukumnya :
Iaitu fardhu A’in atas tiap-tiap orang mukallaf lelaki atau perempuan mengetahui sifat-sifat Allah s.w.t. dengan cara ijmal ( ringkas ) dan dengan cara tafsil ( huraian atau satu persatu ) berserta dengan dalil ijmal . Adapun mengetahui dalil tafsil itu fardhu kifayah .

9) Kelebihannya :
Iaitu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu daripada ilmu-ilmu yang lain kerana menurut hadith Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud :
” Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak memfardhukan sesuatu yang terlebih afdhal daripada mengEsakan Allah dan ada sesuatu itu terlebih afdhal daripadanya ,nescaya tetaplah telah difardhukan ke atas MalaikatNya padahal setengah daripada Malaikat-malaikat itu ada yang rukuk selama-lamanya dan setengahnya ada yang sujud selama-lamanya.”
( Riwayat Hakim )

10) Kesudahan ilmu ini :
Iaitu dapat membezakan di antara ‘aqaid dan kepercayaan yang sah dengan yang batil.

Bab 3: Hukum ‘Aqal

Sesungguhnya setiap orang yang hendak mengenal Allah s.w.t. dan mengetahui sifat-sifatnya , maka wajiblah lebih dahulu ia mengetahui akan hukum ‘aqal dan bahagiannya.

Pengertian Hukum ‘Aqal :

Hukum ialah menetapkan suatu perkara kepada suatu perkara yang lain atau menafikan suatu perkara daripada perkara yang lain dengan tidak berkehendak kepada dicuba pada menetapkan sesuatu perkara itu ( Adat ) dan tidak tergantung kepada sesuatu perbuatan yang diperbuat oleh mukallaf ( bersalahan dengan hukum Syari’e ).

Pengertian ‘Aqal :

Adalah ‘Aqal itu satu sifat yang dijadikan Allah s.w.t. pada manusia sehingga dengan itu manusia berbeza dengan haiwan. Maka dengannya boleh menerima ilmu Nazhariyyah ( Ilmu yang berkehendakkan berfikir ) dan boleh mentadbirkan segala pekerjaan dengan fikiran yang halus dan daripadanya tempat lahirnya berbagai-bagai manafaat dan kebahagiaan kepada manusia.

Dan aqal itu berhajat kepada undang-undang Syarak dan undang-undang Syarak juga tidak boleh berjalan mengikut yang dikehendaki melainkan berhajat kepada ‘aqal. Dan di antara keduanya berhajat antara satu dengan yang lain ( ‘ Aqal berhajat kepada Syarak dan Syara’ berhajat kepada ‘Aqal ) .

Bahagian Hukum ‘Aqal :

Adalah hukum ‘aqal itu terbahagi kepada tiga :

1) Wajib ‘Aqli iaitu perkara yang tiada diterima ‘aqal akan tiadanya, hakikatnya mesti menerima ada.Yang demikian wajib bagi Allah s.w.t. bersifat qidam maka maksudnya ialah mesti ada Allah s.w.t bersifat qidam.

2) Mustahil ‘Aqli iaitu perkara yang tidak diterima ‘aqal akan adanya , hakikatnya mesti tiada . Yang demikian mustahil Allah s.w.t. bersifat baharu maka maksudnya tidak sekali-kali Allah s.w.t. itu bersifat baharu.

3) Harus ‘Aqli iaitu perkara yang diterima ‘aqal adanya dan tiadanya, maka hakikatnya boleh menerima ada dan tiada seperti keadaan seseorang itu adakalanya boleh bergerak atau diam.

Bahagian Wajib ‘Aqli :

Adalah wajib ‘aqli terbahagi dua :

1) Wajib ‘aqli Dharuri – Iaitu menghukumkan sesuatu itu tetap adanya dengan tiada berkehendak kepada bahasan dan kenyataan seperti menghukumkan satu itu tetap separuh daripada dua .

2) Wajib ‘aqli Nazhari – Iaitu menghukumkan suatu itu tetap adanya dengan berkehendak kepada fikiran dan bahasan serta mendatang- kan dalil-dalil atas ketetapan hukumnya itu seperti menghukumkan wajib adanya Allah s.w.t. yang menjadikan alam ini berserta dengan bahasan dan dalil-dalilnya.

Bahagian Mustahil ‘Aqli :

Adalah Mustahil ‘Aqli terbahagi dua :

1) Mustahil ‘Aqli Dharuri – Iaitu menghukumkan suatu itu tetap tiada Berkehendak kepada bahasan dan mendirikan dalil seperti contoh menghukumkan tiada terima ;aqal satu itu separuh daripada tiga.

2) Mustahil ‘Aqli Nazhari – Iaitu menghukumkan suatu itu tetap tiada Dengan berkehendak kepada fikiran dan bahasan serta mendatangkan dalil-dalil atas ketetapan hukumannya itu seperti menghukumkan tiada terima ‘aqal ada yang mensyirik bagi Allah s.w.t. maka dengan itu ‘aqal menghukumkan mustahil ada syirik bagi Allah s.w.t itu melainkan dengan diadakan bahasan dengan mendatangkan dalil.

Bahagian Harus ‘Aqli :

Adalah Harus A’qli itu terbahagi dua :

1) Harus ‘Aqli Dharuri – Iaitu menghukumkan sesuatu boleh terima ada dan tiada dengan tidak berkehendakkan bahasan dan mendatangkan dalil seperti menghukumkan keadaan seseorang itu adakalanya ia bergerak atau diam .

2) Harus ‘Aqli Nazhari – Iaitu menghukumkan sesuatu boleh dijadikan atau tiada boleh dengan berkehendak kepada bahasan dan mendatangkan dalil-dalil seperti contoh memberikan ganjaran pahala kepada orang yang tidak beramal , maka ‘aqal menghukumkan hal itu adalah harus melainkan dengan diadakan bahasan dan dalil-dalil yang menunjukkan harus pada Allah s.w.t. memberikan seperti itu .

Bab 4 : Kejadian Alam

Sesungguhnya apabila seseorang itu berfikir dan meneliti kejadian alam ini maka ia dapat petunjuk bahawa Allah s.w.t yang telah menjadikannya.

1. Melihat sesuatu kejadian yang ada disekeliling kita seperti kerusi atau meja dan sebagainya maka kita dapati kerusi atau meja tersebut tidak boleh ada dengan sendirinya melainkan ada yang membuatnya dan yang mengadakannya.

Maka dengan itu kita beri’tiqad dan percaya alam ini tidak boleh ada dengan sendirinya melainkan ada yang menjadikan dan menciptakannya tentulah Allah s.w.t yang Maha Pencipta.

2. Kita meneliti dan mengkaji dengan lebih jauh lagi akan perbuatan-perbuatan orang yang membuat kerusi atau meja ada yang berbagai bentuk dan rupa, yang mana mereka sentiasa membuat dan mengukir kerusi atau meja tadi dengan lebih baik dan lebih halus lagi ukirannya tetapi tidak pernah lengkap dan sempurna.

Maka itu kelemahan dan kekurangan manusia yang mengikut kadar dan ilmu serta kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala. Maka kita menyedari bahawa Allah Ta’ala adalah Maha Sempurna di dalam mencipta kejadian alam ini.

3. Kita melihat akan kejadian langit dan bumi ini dan alam cekerawala ini daripada manusia, bulan, matahari, haiwan, tumbuh-tumbuhan yang mana setiap jenis dijadikan dengan cukup lengkap dan sempurna. Contohnya manusia yang dijadikan adalah sebaik-baik kejadian iaitu: berakal, bertutur, mendengar dan lain-lain sifat lagi.

Dan apabila kita perhatikan alam cekerawala seperti bumi, langit, bulan, matahari dan lain-lain yang mana semuanya dicipta untuk manafaat dan keperluan semua makhluk yang mana semua itu melemahkan akal para cerdik pandai memikirkan segala kejadian tersebut yang tiada tolok bandingnya. Maka nyatalah di sini bahawa penciptanya mempunyai kuasa yang Maha Sempurna, Ilmu yang Maha luas dan bersifat dengan segala sifat kesempurnaan yang Maha Suci dari segala sifat kekurangan.

Sesungguhnya dari Kaedah Syar’iyyah dan berita para Nabi bahawa yang menjadikan alam ini ialah Allah s.w.t kerana segala perbuatanNya menunjukkan bekas bagi segala sifat yang Maha Suci dan tidaklah makhluk dapat mengetahui hakikatnya kerana segala makhluk ciptaanNya sentiasa bersifat lemah dan mempunyai segala kekurangan.


Rujukan : ( Kitab Risalah Tauhid – Abdul Ghani Yahya )

Bab 5 : Mengenal Allah S.W.T.

1. Mengenal Allah s.w.t adalah fardhu Ain atas tiap-tiap mukallaf dengan mengetahui namaNya dan sifat-sifatNya yang bertepatan dengan syarak yang berlandaskan ajaran para Nabi dan Rasul.

2. Nama-nama Allah s.w.t (Al-Asma ‘ul-Husna) dan sifat-sifat yang Maha Besar dan Maha Tinggi. Nama Allah s.w.t yang lebih masyhur di antara segala nama-namaNya ialah Allah, disebut lafaz Al-Jalalah (Lafaz yang Maha Besar) dan yang lain daripada ini diketahui melalui Al-Quran dan Al-Hadith. Semuanya sentiasa menjadi sebutan umat Islam contohnya Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Quddus, As-Salam, Al-Mukmin.

3. Sifat-sifat yang diketahui oleh mukallaf terbahagi kepada dua bahagian :-


1) Mengetahui sifat-sifat Allah s.w.t dengan Ijmali (Ringkas) iaitu bahawa beriktiqad dan berpegang oleh seseorang dengan iktiqad yang putus (jazam) bahawa wajib bagi Allah s.w.t bersifat dengan sifat-sifat kesempurnaan yang layak dengan keadaan ketuhanan dan mustahil atasNya bersifat dengan apa-apa jua sifat kekurangan.

2) Mengetahui sifat-sifat Allah s.w.t dengan jalan tafsili (satu persatu) iaitu bahawa beriktiqad dan berpegang oleh seseorang dengan iktiqad yang putus dengan dalil aqli (dengan akal) dan dalil naqli (dengan Al-Quran dan Hadith) bahawa wajib dan beriktiqad dengan iktiqad yang putus dengan dalil aqli dan naqli. Maka mustahil atas Allah s.w.t bersifat dengan segala lawan sifatyang wajib tersebut.

4. Mengenal Allah s.w.t wajib melalui tiga perkara :-

1) Iktiqad yang putus (jazam) iaitu tiada syak, dzan dan waham. Jika iktiqadnya ada salah satu daripada tiga tadi maka tidak dinamakan mengenal Allah s.w.t.

2) Muafakat (bersetuju) iktiqad itu dengan yang sebenar (bertepatan dengan iktiqad Ahli Sunnah Wal-Jamaah), maka tidak dinamakan mengenal jika iktiqad tidak bertepatan dengan yang sebenar (Ahli Sunnah Wal-Jamaah) seperti iktiqad orang Nasrani dan Yahudi.

3) Dengan dalil sekalipun dengan dalil ijmali, jika iktiqadnya putus (jazam) serta bertepatan dengan Ahli Sunnah Wal-Jamaah tetapi jika tidak dengan dalil maka dinamakan taqlid.

5. Iktiqad yang tidak terputus atau tidak bertepatan dengan Ahli Sunnah Wal-Jamaah, maka para ulama membuat persetujuan bahawa menghukum orang itu kafir. Dan bagi iktiqad orang bertaqlid itu timbul perselisihan ulama padanya. Mengikut qaul yang muktamad orang yang bertaqlid itu tidak dihukumkan kafir jika taqlidnya putus dengan dihukum mukmin yang menderhaka (jika ia belajar maka tidak dihukumkan mukmin yang derhaka).

6. Makna taqlid ialah menerima perkataan orang lain dengan tidak mengetahui dalil dan keterangan.

7. Taqlid terbahagi kepada dua bahagian :-

1) Taqlid Jazam (putus)
– Iktiqad yang teguh dan tidak akan berubah walaupun orang yang diikuti itu berubah. Maka taqlid ini di sisi Ahli Sunnah Wal-Jamaah sah imannya kerana ada mempunyai iktiqad yang jazam (putus).

2) Taqlid yang tidak Jazam (Tidak Putus)
– Menerima perkataan orang lain dengan tidak teguh sekiranya orang yang diikuti seperti guru-gurunya, ibubapanya atau lainya. Iktiqad mereka berubah-ubah mangikut orang yang diikutinya. Maka taqlid ini dihukumkan tidak sah imannya kerana serupa imannya dengan syak,zhan atau waham(tiada putus).

8. Kesimpulannya iman orang yang bertaqlid sentiasa di dalam bahaya atau bimbang dan tergantung kebenarannya atas orang yang diikutinya. Jika benar perjalanan orang yang diikutinya seperti guru-gurunya maka mengikutnya selamat, tetapi jika sebaliknya binasalah mereka.

9. Hendaklah seseorang itu bersungguh-sungguh menuntut Ilmu Tauhid yang sahih supaya terlepas ia daripada syak dan waham dalam iman kerana di akhir zaman ini terdapat ramai ahli-ahli bida’ah.

10. Taqlid itu membawa mudharat kerana jalan membawa kepada sesat yang amat hina yang tiada layak pada seseorang manusia.


Rujukan : ( Kitab Risalah Tauhid – Abdul Ghani Yahya )

Bab 6 : Sifat 20

Adalah sifat-sifat yang wajib bagi Allah s.w.t. yang wajib bagi Allah yang wajib diketahui dengan tafsil ( satu persatu ) iaitu 20 sifat :

1. Wujud : Ertinya Ada

Iaitu tetap dan benar yang wajib bagi zat Allah Ta’ala yang tiada disebabkan dengan sesuatu sebab. Maka wujud ( Ada ) – disisi Imam Fakhru Razi dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi bukan ia a’in maujud dan bukan lain daripada a’in maujud , maka atas qaul ini adalah wujud itu Haliyyah ( yang menepati antara ada dengan tiada) .

Tetapi pada pendapat Imam Abu Hassan Al-Ashaari wujud itu ‘ain Al-maujud , kerana wujud itu zat maujud kerana tidak disebutkan wujud melainkan kepada zat. Kepercayaan bahawa wujudnya Allah s.w.t. bukan sahaja di sisi agama Islam tetapi semua kepercayaan di dalam dunia ini mengaku menyatakan Tuhan itu ada.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
” Dan jika kamu tanya orang-orang kafir itu siapa yang menjadikan langit dan bumi nescaya berkata mereka itu Allah yang menjadikan……………”
( Surah Luqman : Ayat 25 )


2. Qidam : Ertinya Sedia

Pada hakikatnya menafikan ada permulaan wujud Allah s.w.t kerana Allah s.w.t. menjadikan tiap-tiap suatu yang ada, yang demikian tidak dapat tidak keadaannya lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu itu. Jika sekiranya Allah Ta’ala tidak lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu, maka hukumnya adalah mustahil dan batil. Maka apabila disebut Allah s.w.t. bersifat Qidam maka jadilah ia qadim. Di dalam Ilmu Tauhid ada satu perkataan yang sama maknanya dengan Qadim iaitu Azali. Setengah ulama menyatakan bahawa kedua-dua perkataan ini sama maknanya iaitu sesuatu yang tiada permulaan baginya. Maka qadim itu khas dan azali itu am. Dan bagi tiap-tiap qadim itu azali tetapi tidak boleh sebaliknya, iaitu tiap-tiap azali tidak boleh disebut qadim. Adalah qadim dengan nisbah kepada nama terbahagi kepada empat bahagian :

1 ) Qadim Sifati ( Tiada permulaan sifat Allah Ta’ala )
2 ) Qadim Zati ( Tiada permulaan zat Allah Ta’ala )
3 ) Qadim Idhafi ( Terdahulu sesuatu atas sesuatu seperti terdahulu bapa nisbah kepada anak )
4 ) Qadim Zamani ( Lalu masa atas sesuatu sekurang-kurangnya satu tahun )

Maka Qadim Haqiqi ( Qadim Sifati dan Qadim Zati ) tidak harus dikatakan lain daripada Allah Ta’ala.


3. Baqa’ : Ertinya Kekal

Sentiasa ada, kekal ada dan tiada akhirnya Allah s.w.t . Pada hakikatnya ialah menafikan ada kesudahan bagi wujud Allah Ta’ala. Adapun yang lain daripada Allah Ta’ala , ada yang kekal dan tidak binasa Selama-lamanya tetapi bukan dinamakan kekal yang hakiki ( yang sebenar ) Bahkan kekal yang aradhi ( yang mendatang jua seperti Arasy, Luh Mahfuz, Qalam, Kursi, Roh, Syurga, Neraka, jisim atau jasad para Nabi dan Rasul ).

Perkara –perkara tersebut kekal secara mendatang tatkala ia bertakluq dengan Sifat dan Qudrat dan Iradat Allah Ta’ala pada mengekalkannya. Segala jisim semuanya binasa melainkan ‘ajbu Az-zanabi ( tulang kecil seperti biji sawi letaknya di tungking manusia, itulah benih anak Adam ketika bangkit daripada kubur kelak ). Jasad semua nabi-nabi dan jasad orang-orang syahid berjihad Fi Sabilillah yang mana ianya adalah kekal aradhi jua. Disini nyatalah perkara yang diiktibarkan permulaan dan kesudahan itu terbahagi kepada tiga bahagian :

1) Tiada permulaan dan tiada kesudahan iaitu zat dan sifat Alllah s.w.t.
2) Ada permulaan tetapi tiada kesudahan iaitu seperti Arash , Luh Mahfuz , syurga dan lain-lain lagi.
3) Ada permulaan dan ada kesudahan iaitu segala makhluk yang lain daripada perkara yang diatas tadi ( Kedua ).


4. Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith. Ertinya : Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.

Pada zat , sifat atau perbuatannya sama ada yang baru , yang telah
ada atau yang belum ada. Pada hakikat nya adalah menafikan Allah Ta’ala menyerupai dengan yang baharu pada zatnya , sifatnya atau perbuatannya.
Sesungguhnya zat Allah Ta’ala bukannya berjirim dan bukan aradh Dan tiada sesekali zatnya berdarah , berdaging , bertulang dan juga bukan jenis leburan , tumbuh-tumbuhan , tiada berpihak ,tiada ber-
tempat dan tiada dalam masa. Dan sesungguhnya sifat Allah Ta’ala itu tiada bersamaan dengan sifat yang baharu kerana sifat Allah Ta’ala itu qadim lagi azali dan melengkapi ta’aluqnya. Sifat Sama’ ( Maha Mendengar ) bagi Allah Ta’ala berta’aluq ia pada segala maujudat tetapi bagi mendengar pada makhluk hanya pada suara sahaja. Sesungguhnya di dalam Al-Quraan dan Al-Hadith yang menyebut muka dan tangan Allah s.w.t. , maka perkataan itu hendaklah kita iktiqadkan thabit ( tetap ) secara yang layak dengan Allah Ta’ala Yang Maha Suci daripada berjisim dan Maha Suci Allah Ta’ala bersifat
dengan segala sifat yang baharu.


5. Qiamuhu Ta’ala Binafsihi : Ertinya : Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya .

Tidak berkehendak kepada tempat berdiri ( pada zat ) dan tidak
berkehendak kepada yang menjadikannya
Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan Allah s.w.t. berkehendak
kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya.
Allah s.w.t itu terkaya dan tidak berhajat kepada sesuatu sama ada
pada perbuatannya atau hukumannya.
Allah s.w.t menjadikan tiap-tiap sesuatu dan mengadakan undang-
undang semuanya untuk faedah dan maslahah yang kembali kepada
sekalian makhluk .
Allah s.w.t menjadikan sesuatu ( segala makhluk ) adalah kerana
kelebihan dan belas kasihannya bukan berhajat kepada faedah.
Allah s.w.t. Maha Terkaya daripada mengambil apa-apa manafaat
di atas kataatan hamba-hambanya dan tidak sesekali menjadi
mudharat kepada Allah Ta’ala atas sebab kemaksiatan dan kemung-
karan hamba-hambanya.
Apa yang diperintahkan atau ditegah pada hamba-hambanya adalah
perkara yang kembali faedah dan manafaatnya kepada hamba-hamba-
nya jua.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
” Barangsiapa berbuat amal yang soleh ( baik ) maka pahalanya
itu pada dirinya jua dan barangsiapa berbuat jahat maka bala-
sannya ( seksaannya ) itu tertanggung ke atas dirinya jua “.
( Surah Fussilat : Ayat 46 )

Syeikh Suhaimi r.a.h berkata adalah segala yang maujudat itu dengan
nisbah berkehendak kepada tempat dan kepada yang menjadikannya ,
terbahagi kepada empat bahagian :
1) Terkaya daripada tempat berdiri dan daripada yang menjadi-
kannya iaitu zat Allah s.w.t.
2) Berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang men-
jadikannya iaitu segala aradh ( segala sifat yang baharu ).
3) Terkaya daripada zat tempat berdiri tetapi berkehendak
kepada yang menjadikannya iaitu segala jirim. ( Segala zat yang baharu ) .
4) Terkaya daripada yang menjadikannya dan berdiri ia pada zat
iaitu sifat Allah Ta’ala.


Bab 6 : Sifat 20

Adalah sifat-sifat yang wajib bagi Allah s.w.t. yang wajib bagi Allah yang wajib diketahui dengan tafsil ( satu persatu ) iaitu 20 sifat :

6. Al – Wahdaniyyah.
Ertinya : Esa Allah Ta’ala pada zat , pada sifat dan pada perbuatan.

Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan berbilang pada zat , pada
sifat dan pada perbuatan sama ada bilangan yang muttasil ( yang ber-
hubung ) atau bilangan yang munfasil ( yang bercerai ).
Makna Esa Allah s.w.t. pada zat itu iaitu menafikan Kam Muttasil pada
Zat ( menafikan bilangan yang berhubung dengan zat ) seperti tiada zat
Allah Ta’ala tersusun daripada darah , daging , tulang ,urat dan lain-lain.
Dan menafikan Kam Munfasil pada zat ( menafikan bilangan yang ber-
cerai pada zat Allah Ta’ala )seperti tiada zat yang lain menyamai zat
Allah Ta’ala.


Makna Esa Allah s.w.t pada sifat iaitu menafikan Kam muttasil pada
Sifat ( menafikan bilangan yang berhubung pada sifatnya ) iaitu tidak
sekali-kali bagi Allah Ta’ala pada satu-satu jenis sifatnya dua qudrat
dan menafikan Kam Munfasil pada sifat ( menafikan bilangan –
bilangan yang bercerai pada sifat ) iaitu tidak ada sifat yang lain
menyamai sebagaimana sifat Allah s.w.t. yang Maha Sempurna.


Makna Esa Allah s.w.t. pada perbuatan iaitu menafikan Kam
Muttasil pada perbuatan ( menafikan bilangan yang bercerai –cerai pada
perbuatan ) iaitu tidak ada perbuatan yang lain menyamai seperti
perbuatan Allah bahkan segala apa yang berlaku di dalam alam semua-
nya perbuatan Allah s.w.t sama ada perbuatan itu baik rupanya dan
hakikatnya seperti iman dan taat atau jahat rupanya tiada pada hakikat-nya seperti kufur dan maksiat sama ada perbuatan dirinya atau
perbuatan yang lainnya ,semuanya perbuatan Allah s.w.t dan tidak
sekali-kali hamba mempunyai perbuatan pada hakikatnya hanya pada
usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas.


Maka wajiblah bagi Allah Ta’ala bersifat Wahdaniyyah dan ternafi bagi
Kam yang lima itu iaitu :
1) Kam Muttasil pada zat.
2) Kam Munfasil pada zat.
3) Kam Muttasil pada sifat.
4) Kam Munfasil pada sifat.
5) Kam Munfasil pada perbuatan.
Maka tiada zat yang lain , sifat yang lain dan perbuatan yang lain
menyamai dengan zat , sifat dan perbuatan Allah s.w.t .
Dan tertolak segala kepercayaan-kepercayaan yang membawa kepada
menyengutukan Allah Ta’ala dan perkara-perkara yang menjejaskan
serta merosakkan iman.


7. Al – Qudrah :
Ertinya : Kuasa qudrah Allah s.w.t. memberi bekas pada mengadakan
meniadakan tiap-tiap sesuatu.

Pada hakikatnya ialah satu sifat yang qadim lagi azali yang thabit
( tetap ) berdiri pada zat Allah s.w.t. yang mengadakan tiap-tiap yang
ada dan meniadakan tiap-tiap yang tiada bersetuju dengan iradah.
Adalah bagi manusia itu usaha dan ikhtiar tidak boleh memberi bekas pada mengadakan atau meniadakan , hanya usaha dan ikhtiar pada jalan menjayakan sesuatu .
Kepercayaan dan iktiqad manusia di dalam perkara ini berbagai-bagai
Fikiran dan fahaman seterusnya membawa berbagai-bagai kepercayaan dan iktiqad.
1) Iktiqad Qadariah :
Perkataan qadariah iaitu nisbah kepada qudrat . Maksudnya orang yang beriktiqad akan segala perbuatan yang dilakukan manusia itu sama ada baik atau jahat semuanya terbit atau berpunca daripada usaha dan ikhtiar manusia itu sendiri dan sedikitpun tiada bersangkut-paut dengan kuasa Allah s.w.t.
2) Iktiqad Jabariah :
Perkataan Jabariah itu nisbah kepada Jabar ( Tergagah ) dan maksudnya orang yang beriktiqad manusia dan makhluk bergantung kepada qadak dan qadar Allah semata-mata ( tiada usaha dan ikhtiar atau boleh memilih samasekali ). 3) Iktiqad Ahli Sunnah Wal – Jamaah :
Perkataan Ahli Sunnah Wal Jamaahialah orang yang mengikut perjalanan Nabi dan perjalanan orang-orang Islam iaitu beriktiqad bahawa hamba itu tidak digagahi semata-mata dan tidak memberi bekas segala perbuatan yang disengajanya, tetapi ada perbuatan yang di sengaja pada zahir itu yang dikatakan usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas sebenarnya sengaja hamba itu daripada Allah Ta;ala jua. Maka pada segala makhluk ada usaha dan ikhtiar pada zahir dan tergagah pada batin dan ikhtiar serta usaha hamba adalah tempat pergantungan taklif ( hukum ) ke atasnya dengan suruhan dan tegahan
( ada pahala dan dosa ).


8. Al – Iradah :
Ertinya : Menghendaki Allah Ta’ala.

Maksudnya menentukan segala mumkin tentang adanya atau
tiadanya.
Sebenarnya adalah sifat yang qadim lagi azali thabit berdiri pada
Zat Allah Ta’ala yang menentukan segala perkara yang harus atau setengah yang harus atas mumkin . Maka Allah Ta’ala yang selayaknya menghendaki tiap-tiap sesuatu apa yang diperbuatnya.
Umat Islam beriktiqad akan segala hal yang telah berlaku dan yang akan berlaku adalah dengan mendapat ketentuan daripada Allah Ta’ala tentang rezeki , umur , baik , jahat , kaya , miskin dan sebagainya serta wajib pula beriktiqad manusia ada mempunyai nasib ( bahagian ) di dalam dunia ini sebagaimana firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
” Janganlah kamu lupakan nasib ( bahagian ) kamu
di dalam dunia ” .
( Surah Al – Qasash : Ayat 77 )

Kesimpulannya ialah umat Islam mestilah bersungguh-sungguh
untuk kemajuan di dunia dan akhirat di mana menjunjung titah
perintah Allah Ta’aladan menjauhi akan segala larangan dan
tegahannyadan bermohon dan berserah kepada Allah s.w.t.


9. Al – Ilmu :
Ertinya : Mengetahui Allah Ta’ala .

Maksudnya nyata dan terang meliputi tiap-tiap sesuatu sama ada yang
Maujud (ada) atau yang Ma’adum ( tiada ).
Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada ( thabit ) qadim lagi azali
berdiri pada zat Allah Ta’ala.


Allah Ta’ala Maha Mengetahui akan segala sesuatu sama ada perkara
Itu tersembunyi atau rahsia dan juga yang terang dan nyata.
Maka Ilmu Allah Ta’ala Maha Luas meliputi tiap-tiap sesuatu di
Alam yang fana’ ini.


10. Al – Hayat .
Ertinya : Hidup Allah Ta’ala.

Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap qadim lagi azali berdiri pada zat
Allah Ta’ala .
Segala sifat yang ada berdiri pada zat daripada sifat Idrak ( pendapat )
Iaitu : sifat qudrat , iradat , Ilmu , Sama’ Bashar dan Kalam.

Adalah sifat-sifat yang wajib bagi Allah s.w.t. yang wajib bagi Allah yang wajib diketahui dengan tafsil ( satu persatu ) iaitu 20 sifat :

Adalah sifat-sifat yang wajib bagi Allah s.w.t. yang wajib bagi Allah yang wajib diketahui dengan tafsil ( satu persatu ) iaitu 20 sifat :

11. Al – Samu’ : Ertinya : Mendengar Allah Ta’ala.

Hakikatnya ialah sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada
Zat Allah Ta’ala. Iaitu dengan terang dan nyata pada tiap-tiap yang maujud sama ada yang maujud itu qadim seperti ia mendengar kalamnya atau yang ada itu harus sama ada atau telah ada atau yang akan diadakan. Tiada terhijab ( terdinding ) seperti dengan sebab jauh , bising , bersuara , tidak bersuara dan sebagainya. Allah Ta’ala Maha Mendengar akan segala yang terang dan yang tersembunyi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud :
” Dan ingatlah Allah sentiasa Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.
( Surah An-Nisa’a – Ayat 148 )


12. Al – Bashar : Ertinya : Melihat Allah Ta’ala .

Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri
pada zat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala wajib bersifat Maha Melihat sama ada yang dapat dilihat oleh manusia atau tidak , jauh atau dekat , terang atau gelap , zahir atau tersembunyi dan sebagainya. Firman Allah Ta’ala yang bermaksud :

” Dan Allah Maha Melihat akan segala yang mereka kerjakan “.
( Surah Ali Imran – Ayat 163 )


13 . Al – Kalam : Ertinya : Berkata-kata Allah Ta’ala.

Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada , yang qadim lagi azali ,
berdiri pada zat Allah Ta’ala. Menunjukkan apa yang diketahui oleh ilmu daripada yang wajib, maka ia menunjukkan atas yang wajib sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud :
” Aku Allah , tiada tuhan melainkan Aku ………”.
( Surah Taha – Ayat 14 )

Dan daripada yang mustahil sebagaimana firman Allah Ta’ala yang
bermaksud :
” ……..( kata orang Nasrani ) bahawasanya Allah Ta’ala
yang ketiga daripada tiga……….”.
( Surah Al-Mai’dah – Ayat 73 )

Dan daripada yang harus sebagaimana firman Allah Ta’ala yang
bermaksud :
” Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang
kamu perbuat itu”.
( Surah Ash. Shaffaat – Ayat 96 )

Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada berbilang.
Tetapi ia berbagai-bagai jika dipandang dari perkara yang dikatakan
iaitu :
1) Menunjuk kepada ‘amar ( perintah ) seperti tuntutan mendiri-
solat dan lain-lain kefardhuan.
2) Menunjuk kepada nahyu ( tegahan ) seperti tegahan mencuri dan lain-lain larangan.
3) Menunjuk kepada khabar ( berita ) seperti kisah-kisah Firaun
dan lain-lain.
4) Menunjuk kepada wa’ad ( janji baik ) seperti orang yan taat
dan beramal soleh akan dapat balasan syurga dan lain-lain.
5) Menunjuk kepada wa’ud ( janji balasan seksa ) seperti orang
yang menderhaka kepada ibubapa akan dibalas dengan azab
seksa yang amat berat.


14. Kaunuhu Qadiran :
Ertinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala ,
tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada
sifat Qudrat.


15.Kaunuhu Muridan :
Ertinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala ,
tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada
sifat Iradat.

Adalah sifat-sifat yang wajib bagi Allah s.w.t. yang wajib bagi Allah yang wajib diketahui dengan tafsil ( satu persatu ) iaitu 20 sifat :

16.Kaunuhu ‘Aliman : Ertinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan
Tiap-tiap sesuatu.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala , tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada sifat Al-Ilmu.


17.Kaunuhu Haiyan : Ertinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada sifat Hayat.


18.Kaunuhu Sami’an : Ertinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, iaitu lain daripada sifat Sama’.


19.Kaunuhu Bashiran : Ertinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada sifat Bashar.


20.Kaunuhu Mutakalliman : Ertinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada sifat Qudrat.

Bab 7 : Sifat Mustahil Bagi Allah s.w.t

Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil bagi Allah yang menjadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib baginya. Maka dengan sebab itulah di nyatakan di sini sifat-sifat yang mustahil satu-persatu :


1. ‘Adam beerti “tiada”

2. Huduth beerti “baharu”

3. Fana’ beerti “binasa”

4. Mumathalatuhu Lilhawadith beerti “menyerupai makhluk”

5. Qiyamuhu Bighayrih beerti “berdiri dengan yang lain”

6. Ta’addud beerti “berbilang-bilang”

7. ‘Ajz beerti “lemah”

8. Karahah beerti “terpaksa”

9. Jahl beerti “jahil/bodoh”

10. Mawt beerti “mati”

11. Samam beerti “tuli”

12. ‘Umy beerti “buta”

13. Bukm beerti “bisu”

14. Kaunuhu ‘Ajizan beerti “keadaannya yang lemah”

15. Kaunuhu Karihan beerti “keadaannya yang terpaksa”

16. Kaunuhu Jahilan beerti “keadaannya yang jahil/bodoh”

17. Kaunuhu Mayyitan beerti “keadaannya yang mati”

18. Kaunuhu Asam beerti “keadaannya yang tuli”

19. Kaunuhu A’ma beerti “keadaannya yang buta”

20. Kaunuhu Abkam beerti “keadaannya yang bisu”

Bab 8: Sifat Harus Bagi Allah s.w.t

Adalah sifat yang harus pada hak Allah Ta’ala hanya satu sahaja iaitu Harus bagi Allah mengadakan sesuatu atau tidak mengadakan sesuatu atau di sebut sebagai mumkin. Mumkin ialah sesuatu yang harus ada dan tiada.

Posted in akidah, salafy, shohih | 2 Comments »

Sejarah Pergerakan Wahabi /ahlu bid’ah wal jama’ah

Posted by admin on April 20, 2008

Sejarah Pergerakan Wahabi

GUNAWAN YUSUF
Mon, 05 Dec 2005 16:23:01 -0800

 Sejarah Pergerakan Wahabi

SEJARAH RINGKAS MUHAMMAD ABDUL WAHAB

Muhammad b. Abdul Wahab b. Sulaiman b. Ali b.
Muhammad b. Ahmad b. Rashid b. Barid b. Musaraf
an-Najdi at-Tamimi ( gambar) di lahirkan pada tahun (
1115H-1119 @ 1703-1787M ) di daerah Najd .Sebenarnya
ulama dan ahli sejarah berselisih pendapat tentang
kelahiran Muhammad Abdul Wahab. Tahun 1690M/1111H
merupakan   pendapat Shaikh  Zaini Dahlan Mufti Mekah
juga ahli sejarah sementara .Pada tahun 1694M/1115H
adalah  Golongan Wahabi  manakala  pada 1703M/1124H
adalah ahli sejarah  Barat. Muhammad Iqbal mengatakan
beliau lahir pada 1700M/1121H.

Ayahnya Abdul Wahab yang merupakan seorang qadhi pada
ketika itu telah mendapat firasat bahawa Muhammad
Abdul Wahab akan menyesatkan umat Islam, kita sendiri
telah sedia maklum hadis nabi yang berbunyi "
Takutilah kamu akan firasat orang-orang mukminin
sesungguhnya mereka melihat dengan Nur Allah
(pandangan mata hati )" .Banyak hadis-hadis lain yang
menyentuh tentang firasat dan mimpi yang baik
merupakan sebahagian daripada kenabian, perstiwa
tersebut terbukti benar apabila berlakunya
pertentangan antara beliau dengan ayahnya sehingga,
membuatkan Muhammad Abdul Wahab menyampikan dakyahnya
secara tersembunyi. Kejahilan masyarakat dan kekuatan
politk, adalah antara faktor dakyah Muhamaad ,meresap
di kalangan masyarakat Badwi Najd.

ABDUL WAHAB MEMULAKAN PERGERAKAN DAN SERANGAN

Ahli Najd  terbahagi kepada dua  golongan , badwi dan
moden. Golongan moden mengamalkan perniagan manakala
golongan badwi kerap berperang dan bermusuhan sesama
kabilah bagi menguasai wadi,kawasan ternakan dan
sebagainya. Kabilah Najd pada ketika itu terdiri dari
Bani Khalid, Hawazin, Harb, Qahtani, al-Ajmani,
ad-Dawasir, Al Saud, Al Asobah ( Kuwait ) , Al
Khalifah ( Baharin ) Zafir dan banyak lagi. Kawasan
Najd ketika itu di luar kawalan Khilafah Daulah
Uthmaniah, besar kemungkinan kawasan tersebut
terpencil dan merupakan kawasan pendalaman.

Muhammad Abdul Wahab ke Iraq dan berbincang dengan
beberapa ulama' fuqaha' lalu memberikan dan menyatukan
beberapa pandangan baru dan lama., akan tetapi beliau
dimarahi dan diusir, kemudian beliau terus pulang ke
Najd, dan melahirkan pandangan baru yang mengakibatkan
penduduk Najd terbahagi kepada 2 puak, mereka yang
memerangi dan mereka yang menuruti. Kemudian Muhammad
Abdul Wahab melarikan diri ke al-Uyainah lalu
bersahabat dengan Amir al-Uyainah sehingga di akhiri
dengan perkahwinan dengan anak perempuannya ( Amir
al-Uyainah ).Ini secara tidak langsung memberi laluan
kepada beliau untuk menyebarkan ajarannya. Setelah
menetap di  al-Uyainah kira-kira 8 bulan beliau
akhirnya diusir keluar. Apabila mengetahui
kedudukannya terancam, maka beliau cuba menemui
beberapa ketua-ketua kabilah dan pemimpin tertinggi
untuk mendapat perlindungan dan sokongan sehinggalah
ke ad-dar'iyah, lalu menemui Muhammad b. Saud.
Pertemuan yang membawa mala petaka pada umat Islam
ini, telah menjalinkan persepakatan dan persetujuan
bagi membentuk agama baru secara rasmi, di dalam
kekuatan politik, ketenteraan dan peperangan pada
1165H / 1744M.

ULAMA AL-HARMAIAN MENENTANG MUHAMMAD ABDUL WAHAB

Ketika mana Muhammad Abdul Wahab bersama pengikutnya
mengkafirkan kaum muslimin ,beliau telah mengutuskan
sekumpulan pengikutnya untuk merosakkan aqidah Ulama'
al-Harmain serta memasukkan beberapa syubahat dan
muslihat. Kemudian Ulama' al-Harmain (diantara mereka
ialah As-Shaikh Ahmad al-Ba Alawi, As-Shaikh Umar
Abdul Rasul, As-Shaikh Aqail b. Yahya al-'Alawi ,
As-Shaikh Abdul Malik dan As-Shaikh Hussin
al-Maghribi) bangkit lantas menolak dengan memberikan
beberapa keterangan dan hujjah sehingga melemahkan
mereka  Akhirnya Ulama' al-Harmain menegaskan bahawa
golongan Wahabi ini adalah jahil dan sesat, setelah
meneliti bahawa aqidah yang dibawa olehnya adalah
mengkafirkan umat Islam. Ulama' Harmian pun menulis
sepucuk surat lalu diajukan perkara tersebut kepada
Qadhi as-Syar'e Mekah, yang akhirnya menjatukan
hukuman kepada  mereka yang mulhid ini dipenjara,
malangnya ada segelintir daripada mereka telah berjaya
meloloskan diri ke ad-Dar'iyah ( sekarang  ibu negeri
Wahabi yang pertama di Riyad ) dengan perasan sombong
dan angkuh. Peristiwa tersebut berlaku di bawah
pemerintahan As-Syarif Masud b. Said b. Saad b. Zaid
yang wafat pada 1153H/1732M.

Muhammad bin Abdul Wahab pula telah wafat pada tahun
1206H/1792M ketika berumur 90 tahun. Seterusnya
gerakan ini diambil alih oleh Sulaiman bin Abdullah
bin Abdul Wahab.

WAHABI MENYERANG MEKAH DAN TAIF

Apabila pembesar-pembesar Mekah menyekat kemasukan
golongan Wahabi untuk mengerjakan Haji, lalu mereka
menukar strategi dengan membahagikan kepada 2
kumpulan. Kumpulan pertama di bawah kesetiaan Amir
Mekah yang hanya bersedia untuk berperang sesama
mereka iaitu kumpulan kedua dan Amir Mekah  As-Syarif
Ghalib  b. Musaaid b. Said b. Saad  b. Zaid. Lantaran
itu, berlakulah pertempuran yang mengakibatkan ramai
yang terkorban seterusnya golongan Wahabi dapat
menyebarkan dakyah mereka lalu membentuk tentera yang
terdiri daripada kabilah-kabilah badwi di bawah
pemerintahan Amir Mekah. Pada tahun 1217H / 1802M
tentera-tentera Wahabi sampai di Taif dan mengepungnya
pada bulan Zul Qa'edah 1217H, lalu menawan dan
membunuh lelaki serta wanita termasuklah kanak-kanak
,sehingga tiada seorang pun yang terlepas daripada
kekejaman Wahabi. Setelah itu mereka merampas dan
merosakkan segala harta benda serta melakukan
keganasan yang tidak terkira dan seterusnya menuju ke
Mekah. Apabila mereka mengetahui pada bulan tersebut
ramai jemaah haji terutamanya dari Syam dan Mesir,
boleh jadi mereka akan diserang, lalu mereka bercadang
untuk menetap seketika di Taif, sehinggalah selesai
musim haji. Setelah jemaah haji pulang ke negara
masing-masing, golongan Wahabi pun menuju ke Mekah,
Amir Mekah as-Syarif Galib pada ketika itu tidak mampu
menyekat kemaraan bala tentera Wahabi yang pada ketika
itu telah tiba di Jeddah. Berita tersebut akhirnya
dihidu oleh penduduk Mekah sehingga  mereka berasa
amat takut apa yang berlaku di Taif akan menimpa
mereka. Namun demikian, penduduk Mekahtidak dapat
membuat apa-apa persediaan untuk menghadapi mereka.
Pada Muharram1248H, golongan ini telah berjaya
memasuki Kota Mekah dan menetap di sana selama 14
hari. Dalam tempoh masa inilah mereka melakukan
kerosakan serta membuat ketetapan laranganmenziarahi
makam nabi-nabi dan solihin.

Kemudian tentera Wahabi menuju pula ke Jeddah untuk
membunuh Amir as-Syarif. Setibanya di sempadan Jeddah,
golongan Wahabi telah diserang olehtentera Amir mekah
yang menatijahkan  mereka menerima kekalahan teruk.
Kegagalan untuk menawan kota Jeddah ini megakibatkan
mereka berundur dan pulang semula ke Mekah.

WAHABI MENAWAN MEKAH DAN MADINAH.

Selepas 8 hari, lalu golongan Wahabi mengumpulkan
bala tenteranya di sana (Mekah) dan melantik seorang
Amir as-Syarif Abdul Mu'ain iaitu saudara as-Syarif
Ghalib, serta cuba berbaik-baik semula dengan penduduk
Mekah dan memburuk-burukan mereka.

Pada tahun 1220H mereka merompak dan mengepung
penduduk Mekah serta memutuskan segala bekalan makanan
sehingga menyebabkan penduduk Mekah kelaparan yang
mengakibatkan mereka terpaksa memakan daging anjing
akibat kebuluran yang bersangatan. Melihatkan keadaan
ini, Amir Mekah terpaksa mengadakan perjanjian dan
perdamian, antara syarat perjanjian tersebut hendaklah
berbaik-baik  dengan penduduk Mekah. Setelah tempoh
perdamaian tamat maka sekali lagi pada akhir bulan Zul
Qa'edah 1220H, mereka berjaya memasuki kota Mekah dan
Madinah. Setelah tiba di Madinah , mereka menceroboh
'Bilik Nabi' dan mengambil semua harta benda
termasuklah lampu dan bekas air daripada emas dan
perak, permata, zamrud yang tidak ternilai harganya,
lalu melakukan beberapa perkara keji dan jelek,
sehingga menyebabkan ramai dari kalangan ulama'
melarikan diri antaranya Shaikh Ismail Al-Barzanji,
Shaikh Dandrawi dan ramai lagi .Kemudian mereka
menghancurkan semua qubah di perkuburan Baqe' seperti
qubah Ahli Bait, Isteri-isteri Nabi, anak-anak Nabi ,
lalu mereka cuba pula untuk memusnahkan kubah baginda
Rasulullah s.a.w. , apabila mereka melihat di kubah
tersebut terdapatnya  “ lambang bulan sabit “ yang
pada sangkaan mereka diperbuat daripada emas tulin,
mereka mereka menarik balik keputusan tersebut.
Sesungguhnya Maha Suci Allah yang  telah memalingkan
mereka daripada perbuatan keji dan melampau itu.Mereka
juga telah memecahkan lampu-lampu di Madinah serta
membahagikan kepada beberapa pengikutnya yang setia
kepadanya. Kota Madinah akhirnya di tinggalkan dalam
keadaan sepi selama beberapa hari tanpa azan, iqamah
dan solat. ( Sila rujuk kitab ;Nuzhatul an-Nazirin fi
Tarikh Masjid al-aw'walin wal akhirin oleh Jaafar bin
Syaid Ismail al-Madani al-Barzanji)

Mereka juga melarang kemasukan jemaah haji dari Mesir
dan Syam yang merupakan pekerja-pekerja seperti
menenun kelambu Kaabah dan seumpamanya. Mubarak b.
al-Mudayyiqi akhirnya telah dilantik menjadi Amir
Wahabi pemerintahan mereka berlalu selama kira-kira 7
tahun.

SERANGAN THOSON BASHA KE ATAS WAHABI

Sultan Muhammad Khan telah mengutus Muhammad Ali
Basha pemerintah kerajaan Mesir supaya menyediakan
seramai 8-10 ribu tentera untuk memerangi
pelampau-pelampau Wahabi pada tahun 1226H, lalu beliau
melantik anaknya Thoson Basha keluar dari negara Mesir
pada bulan Ramadhan 1226H melalui jalan laut dan
darat. Akhirnya berlakulah pertempuran yang maha
dahsyat di perkampungan Khif ( dari Madinah kira-kira
90km)  sehingga mengakibatkan ramai daripada jumlah
tentera Mesir telah terkorban dan setengahnya pula
gagal  pulang ke Mesir. Kemenangan yang dicapai oleh
golongan Wahabi ini, adalah disebabkan oleh sokongan
daripada beberapa kabilah badwi  seramai 10 ribu orang
yang telah berpakat untuk mengalahkan tentera Mesir.
Peristiwa yang bersejarah lagi berdarah ini berlaku
pada bulan Zul Hijjah 1226H/1805M. Sebenarnya tentera
Thoson Basha juga terpaksa berhadapan seramai 30  ribu
tentera Wahabi yang telah mengepung di bahagian Barat
di bawah pimpinan  al-Amir Faisal

SERANGAN MUHAMMAD ALI BASHA KE ATAS WAHABI

Keazaman Muhammad Ali Basha dengan sendirinya menuju
ke Hijaz pada tahun 1227H untuk menemui tenteranya.
Setelah itu beliau bersama tenteranya menguasai
as-Safra' dan al-Hudidah pada bulan Ramadhan dan
memasuki kota Madinah pada akhir bulan Zul Qa'edah .
Kemudian beliau menguasai pula di persisiran pantai
Jeddah pada awal bulan Muharram 1228H, lalu terus
menuju ke Mekah dan menguasainya di sana.Pada bulan
Rabiul Awal tahun 1228H Muhammad Ali Basha
memerintahkan para utusannya ke Darul Khilafah
Uthmaniah yang berpusat di Turki bersama  mereka
anak-anak kunci kota Mekah, Madinah, Jeddah dan Taif.
Pada bulan Syawal 1228H Muhammad Ali Basha kembali
semula ke Hijaz, sebelum tiba di Hijaz  ,as-Syarif
Ghalib telah menangkap Osman al-Mudayyiqi  yang
merupakan Amir Wahabi di Taif, kemudian menghantarnya
ke Darul Khilafah Uthmaniah  dan  dihukum bunuh.
Setelah Muhamad Ali Basha tiba di Mekah pada bulan Zul
Qa'edah, beliau menangkap pula as-Syarif Ghalib ibnu
Musa'd lalu menghantarnya ke Darul Sultanah , kemudian
beliau  melantik pula anak saudaranya As-Syarif Yahya
bin Surur ibnu Musa'd untuk dilantik sebagai
pemerintah di Mekah Pada bulan Muharam tahun 1229H
Muhamad Ali Basha menangkap pula Amir Wahabi Madinah
lalu menghantarnya ke Darul Khilafah Uthmaniah lalu
dihukum bunuh, kepalanya di gantung di “ Bab As-Saraya
” sebagaimana yang telah dilakukan terhadap Osman
al-Mudayyiqi ,adapun as-Syarif Ghalib beliau telah
dihantar ke Salanik  di Turki dan tinggal di sana
dengan mendapat penghormatan sehingga beliau wafat
dan dikebumikan pada 1231H.

Pada bulan Sya'ban 1229H Muhamad Ali Basha sekali lagi
telah mengutus tenteranya ke Turbah, Bisyah, Ghamid,
Zahran dan 'Asir untuk mengesan dan menjejaki serta
memerangi golongan Wahabi lalu berhasrat untuk
membinasakannya sehingga ke akar umbi .Setibanya di
Darul Wahabi mereka terus memerangi golongan Wahabi
dan menawanya kemudian memusnahkan negeri mereka .Pada
bulan Jamadil Awal 1229H Amir Saud Wahabi meninggal
dunia lalu digantikan oleh anaknya Abdullah b. Saud.
Muhammad Ali Basha kembali semula ke Darul Wahabi
semasa mengerjakan haji dan tinggal di Mekah pada
bulan Rejab 1230H, kemudian pulang semula ke Mesir
setelah meninggalkan Hassan Basha di Mekah. Muhamad
Ali Basha tiba di Mesir pada pertengahan bulan Rejab
1230H, ini menjadikan tempoh beliau di  Hijaz
kira-kira 1 tahun 7 bulan. Beliau pulang ke Mesir
setelah melaksanakan tanggugjawabnya dan tugasnya di
bumi Hijaz. Maka tinggalah beberapa golongan Wahabi
yang bertempiaran di setiap pelusuk kabilah badwi dan
selebihnya tinggal di Ad-Dar'yah kemudian  melantik
Abdullah b. Saud sebagai peminpin mereka.

BERPERANG DENGAN IBRAHIM BASHA

Amir Wahabi Abdullah b. Saud  cuba berbaik-baik dengan
Thuson Basha bin Muhamad Ali Basha (adik kepada
Ibrahim) ketika mereka berada di Madinah, sehingga
terjalin hubungan persahabatan di bawah pemerintahan
Muhammad Ali  Basha yang membuatkan Muhammad Ali Basha
tidak menyetujuinya. Oleh kerana itu, Muhamad Ali
Basha telah memperlengkapkan tenteranya untuk
memerangi golongan Wahabi, di bawah pimpinan anaknya
Ibrahim Basha(abang suluong). Pada tahun 1232H Ibrahim
Basha bersama tenteranya tiba di Ad Dar'yah yang
merupakan ibu negeri Wahabi yang pertama di Riyad,
maka berlakulah pertempuran sengit yang berakhir pada
bulan Zul Qa'edah 1233H dengan tertangkapnya Abdullah
b. Saud Amir Wahabi.

AMIR WAHABI DIHUKUM BUNUH

Setelah tertangkapnya Amir Wahabi, lalu beliau di bawa
bersama pembesarnya ke Mesir dan tiba di sana pada 17
Muharram 1234H. Mereka kemudianya diarak oleh beberapa
orang askar dengan penuh kehinaan, lalu
berbondong-bondonglah penduduk Mesir menyaksikan
perarakan yang bersejarah itu. Apabila Amir Wahabi
memasuki Istana, maka  Muhamad Ali Basha  dengan
tersenyum duduk disisinya seraya berkata ;

Muhammad Ali Basha  : Apakah ini berterusan (
peperangan ) ?

Amir Wahabi : Ini adalah peperangan timbal balik
(sekali menang dan sekali kalah ).

Muhammad Ali Basha: Apa pendapat kamu tentang anakku
Ibrahim Basha ?

Amir Wahabi: Beliau seorang gigih dan kuat seperti
juga kami

Muhammad Ali Basha : Aku berharap pada kamu disisi
Maulana as-Sultan.

Lalu mereka pun menuju ke bilik Ibrahim Basha di Bulaq
,bersamanya terdapat sebuah kota kecil yang berbungkus

Muhamad Ali Basha : Apa ini ?

Amir Wahabi : Ini aku dapati daripada ayahku yang
beliau perolehi di sebuah bilik sahabatnya  bersama
ku.

Kemudian Muhammad Ali Basha menyuruh agar kota
tersebut di buka, maka beliau dapati 3 lembaran Mushaf
daripada khazanah al-Muluk yang tidak pernah
dilihatnya lebih baik sebelum ini,di samping itu juga
terdapat 300 butir permata yang besar-besar daripada
zamrud.

Muhamad Ali Basha : Ini yang kamu ambil di Hujrah
as-Syarif ( di dalam maqam nabi)

Amir Wahabi : Aku dapatinya daripada ayahku, beliau
tidak mengambilnya di Hujrah as-Syarif ,bahkan
memperolehinya daripada penduduk Mekah dan Madinah dan
orang-orang as-Syarif.

Muhammad Ali Basha: Sah! Kamu ambil daripada as-Syarif

Kemudian Amir Wahabi pun di hantar ke Darul Khilafah
Uthaminah ,sementara itu  Muhammad Ali Basha kembali
semula ke Hijaz dan seterusnya ke Mesir pada Muhaaram
1230H.,selepas beliau memusnahkan Negeri ad-Dar'yah
sehinggalah golongan Wahabi meninggalkan penempatan
mereka. Ketika Amir Wahabi tiba di Darul Khilafah
Utmaniah pada bulan Rabi'ul Awal, beliau bersama
pengikutnya diarak mengelilingi Kota Turki  untuk
dipertontonkan oleh semua lapisan masyarakat. Akhirnya
Amir Wahabi dihukum bunuh di “Bab Hamaayun ” manakala
para pengikutnya pula dihukum bunuh dari suatu sudut
yang berbeza-beza. Apa yang dapat kita fahami daripada
rentetan peristiwa tersebut golongan Wahabi Badwi ini
kerap mengamalkan sikap berperangan dan membuat
kekacawan di Semenanjung Arab, kemudian pula
bercita-cita untuk menguasai di seluruh Tanah Arab.

SERANGAN JIHAD TERHADAP WAHABI

Ramai di kalangan Ulama' Mekah, Madinah, Qadhi dan
Mufti di seluruh pelusuk dunia berfatwa agar serangan
jihad dilancar ke atas golongan Wahabi, mereka terdiri
daripada kalangan ulama' yang mu'tabar seperti
As-Shaikh Ahmad al-Ba Alawi, As-Shaikh Umar Abdul
Rasul, As-Shaikh Aqail b. Yahya al-'Alawi , As-Shaikh
Abdul Malik dan As-Shaikh Hussin al-Maghribi.

Setelah mereka selesai menunaikan solat lalu menuju ke
'Bab as-Thani' mereka dapati sekumpulan orang Islam
telah dizalimi dan diseksa dengan sengaja oleh
golongan yang ingin memasuki Masjidil Haram serta
diancam untuk dibunuh, maka bertempiaranlah mereka
melarikan diri dan memberitahu  golongan Wahabi
bahawa mereka adalah penduduk Mekah. Setelah itu
berhimpunlah sekelian ulama' di bahagian mimbar untuk
mendengar khutbah yang disampaikan oleh Khatib Abu
Hamid lalu beliau membaca Risalah Muhammad Abdul Wahab
an-Najdi al-Mal'uni.  berbunyi : Wahai! Ulama',Qadhi,
Mufti adakah kamu dengar dan tahu akan perutusan
ini…..…

( Sila rujuk beberapa Risalah Muhamad Abdul Wahab
an-Najdi al-Mal'uni at-Tamimi al-Kadzabi )

Kemudian ada pula daripada Ulama', Qadhi, Mufti
bermazhab empat dari kalangan penduduk Mekah di
seluruh dunia yang datang untuk mengerjakan haji
bersidang dan bermusyawarah sementara menunggu 10
Muhaaram untuk memasuki Masjidil Haram. Akhirnya
ulama' menghukumkan mereka kafir dan mengarahkan Amir
Mekah memaksa dan menyingkirkan mereka (golongan
Wahabi ) keluar daripada Masjidil Haram. Setelah itu
mereka mewajibkan semua orang Islam membantu dan
bersatu. Barang siapa yang melarikan diri tanpa uzur
adalah berdosa, dan barang siapa memeranginya jadilah
mujahid dan barang siapa yang dibunuh memperolehi
syahid.  Akhirnya ijmak ulama' bersepakat tanpa
berlaku sebarang kekhilafan, telah menulis surat
kepada Amir Mekah. Selepas menunaikan solat Maghrib
mereka pun mengadap Amir Mekah. Justeru itu, seluruh
penduduk Mekah bersatu serta mendokong kesatuan Amir
Mekah untuk melancarkan serangan jihad dan
menyingirkan mereka daripada Mekah  (Sila rujuk
al-ajwibahtu al-Makkiyatu fi  rad 'al ar-Risalati
an-Najdiyati  m.s.84-86 )

Kesimpulan yang boleh saya paparkan disini, Muhammad
Abdul Wahab dan pengikutnya ditakrifkan sebagai Bughah
iaitu sekumpulan orang Islam yang bermusuh atau ingkar
kepada Pemeritah Tertinggi sehingga tertubuhnya sebuah
pasukan bersenjata dan berhasrat untuk menentang
Pemerintah Tertinggi, dan mereka ini wajib diperangi
setelah diberi amaran. Peristiwa seumpama ini pernah
berlaku di zaman sahabat. Antaranya ialah peperangan
antara Saidina Abu Bakr dengan Musilamatul Al-al-Kazab
yang mengaku menjadi nabi , setelah itu peperangan
Siffin antara golongan Saidina Ali dengan tentera
Muawiyah ,dan juga tentera Khawarij.  ( lihat kitab
Qalyubi Wa Umairah .Bab Bughah m.s.171-174  Kitab
unggul Mazhab Sayafe")
------------------------------------------------------------------------------------------

Sejarah Kelam Salafi
Oleh: Abu Rifa al-Puari
Publikasi 28/03/2004

hayatulislam.net - Dalam beberapa artikel sebelumnya,
kita telah memperoleh penjelasan bahwa salafi merasa
dirinya paling benar, selamat dan masuk syurga
(Karakter 1), sehingga hanya salafi saja golongan yang
boleh eksis didunia. Sedangkan golongan lain sesat,
bid’ah dan tidak selamat sehingga layak dicela dan
jangan diungkapkan secuil-pun kebaikannya (Karakater
2).

“Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang golongan
yang selamat, dia berkata: ‘Mereka adalah para ulama
salaf. Dan setiap orang yang mengikuti jalan para
salafush-shalih’” (lihat 1).

Tentu yang mereka maksudkan dengan “jalan para
salafush-shalih” adalah golongan SALAFI, bukan
golongan-golongan yang lain!

Tentu kita penasaran, darimana berasal golongan yang
demikian gencarnya mempromosikan dirinya paling benar
dan semua golongan yang lain salah, sesat dan bid’ah
sehingga layak dicela ini? Kapankah golongan ini
didirikan, siapa saja pendirinya dan bagaimana sejarah
berdirinya? Mari kita telaah satu persatu pertanyaan
yang mengganjal tersebut.

Salafi Sudah Ada Sejak Nabi Adam AS?

Salafi meyakini bahwa golongan mereka telah ada
semenjak manusia pertama, yakni Nabi Adam AS.

“Dengan demikian, Da'wah Salafiyyah adalah da'wahnya
seluruh Nabi, mulai dari Nabi Nuh sebagai Rasul
pertama sampai dengan Nabi Muhammad yang merupakan
Nabi dan Rasul terakhir yang diutus kepada umat
manusia, semoga damai dan rahmat Allah selalu tercurah
bagi mereka semua. Maka sejarah dari Da'wah Salafiyyah
dimulai sejak dari Nabi pertama. Hal ini bahkan ada
yang mengatakan bahwa dimulainya Da'wah Salafiyyah ini
dimulai dari Nabi Adam 'alaihis Salam, sebab da'wah
ini adalah da'wah yang murni. Dan Da'wah Salafiyyah
adalah da'wah dalam rangka memahami Al Qur'an dan As
Sunnah, sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah
memerintahkan umat ini untuk melakukan hal tersebut.
Da'wah ini dilakukan atas perintah dari Allah dan
Rasul-nya kepada kita guna mendapatkan pahala yang
akan diberikan oleh Allah. Dan da'wah ini menjauhkan
kita dari apa-apa yang telah Allah dan Rasul-Nya
larang untuk dilakukan, karena takutnya pada siksa
dari Allah. Jadi, sejarah dimulainya Da'wah Salafiyyah
ini adalah tidak hanya terjadi sejak satu abad, dua
abad atau lima abad yang lalu. Sedangkan da'wah yang
dimulai pada periode waktu tertentu adalah da'wah yang
dilakukan oleh berbagai kelompok-kelompok sesat,
seperti Ikhwanul Muslimin, Jama'ah Tabligh, Hizbut
Tahrir, Sururiyyah/Qutubiyyah dan selainnya dari
berbagai macam kelompok da'wah yang baru bermunculan.
Itulah hal pertama yang ingin saya jelaskan” (lihat
2).

Dengan pernyataan salafi sebagai golongan yang telah
ada semenjak da’wah Nabi Adam AS dan diteruskan para
Nabi sesudahnya maka inilah golongan tertua didunia,
golongan yang telah lahir semenjak Nabi Adam AS
dilahirkan dan diutus oleh Allah SWT sebagai manusia
pertama.

Mungkin anda akan tertegun sejenak, bukankah
pernyataan salafi yang menyatakan bahwa salafi telah
ada semenjak Nabi Adam AS menunjukkan sikap arogan
yang luar biasa. Dengan pernyataan keberadaan salafi
sebagai da’wah awal para Nabi, sehingga salafi menjadi
golongan tertua dunia, maka tidak ada peluang sekecil
apapun golongan lain menyatakan bahwa golongan
merekalah yang benar. Karena salafi menyatakan bahwa
merekalah golongan yang paling benar, ajarannya murni
dan telah dimulai semenjak keberadaan Nabi Adam AS.

Sikap arogan salafi ini diperkuat lagi bahwa salafi
adalah Islam itu sendiri, artinya jika anda seorang
muslim maka anda harus mengaku sebagai salafi, jika
tidak maka mungkin keislaman anda diragukan. Anda
tidak cukup mengaku muslim, karena orang syi’ah juga
mengaku muslim. Anda tidak cukup mengaku muslim
berdasarkan Al-Quran dan sunnah, karena orang Asy’ari
juga mengaku hal yang sama. Maka anda harus mengaku
salafi, maka inilah yang benar, selamat dan masuk
syurga, sedangkan yang lain sesat dan bid’ah. Saya
tidak tahu persis, apakah Nabi Adam AS pernah mengaku
sebagai salafi atau bukan?

Dan diharuskan mempunyai penisbatan yang membedakan
pada zaman ini, sehingga tidak cukup kita katakan,
“Saya muslim” atau, “Madzab saya muslim!” Sebab semua
kelompok-kelompok mengatakan demikian, baik Rafidhi
(Syi'i), Ibadi (Khowarij), Qodyani (Ahmadiyyah) dan
firqoh-firqoh selain mereka! Maka apa yang membedakan
kamu dengan mereka (kelompok-kelompok ) tersebut?

Kalau engkau berkata, cSaya muslim berdasarkan Al
Qur'an dan As Sunnah” maka pernyataan seperti itu
tidak cukup. Sebab orang-orang yang berada pada
kelompok, baik itu Asy'ari, Maturidy, dan
golongan-golongan lain mengaku mengikuti kedua dasar
tersebut (Al Qur'an dan As Sunnah).

Dan tidak diragukan lagi bahwa nama yang jelas dan
terang yang dapat membedakan dengan yang lainnya
adalah kita katakan, “saya seorang muslim berdasarkan
Al Kitab dan as Sunnah, mencocoki dengan cara atau
metode (manhaj) salafus shalih”. Yakni cukup engkau
katakan, “saya salafi!” (lihat 10).

Bukanlah tiap orang berhak-baik seorang alim ataupun
penuntut ilmu- untuk mengeluarkan ataupun memasukkan
seseorang kedalam salafiyyah. Karena salafiyyah
bukanah perusahaan, yayasan sosial, ataupun partai
politik. Salafiyyah adalah Islam itu sendiri (lihat
13).

Lantas betulkah salafi telah ada semenjak Nabi Adam
AS?, darimanakah sebetulnya salafi berasal?

Dimulai Dari Muhammad bin Abdul Wahab

Pemikiran para salaf dimulai pada abad ke-4 H, disaat
ulama-ulama Madzhab Hanbali yang pemikirannya bermuara
pada Imam Ahmad bin Hanbal. Madzhab ini menghidupkan
aqidah ulama salaf dan memerangi paham lainnya.

Golongan ini kemudian muncul kembali pada abad ke-7 H
dengan kemunculan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu
Taimiyah menambahkan beberapa hal pemikiran Hanbali
sesuai kondisi zamannya. Ibnu Taimiyah ditangkap dan
dipenjara beberapa kali, pada tahun 726 H beliau
dipenjara kembali karena perdebatan mendatangi kuburan
nabi dan orang-orang shalih, akhirnya beliau meninggal
dipenjara Damaskus pada tahun 20 Dzulhijjah 728 H dan
selama dipenjara ditemani murid beliau Ibnul Qayyim
Al-Jauziyah.

Selanjutnya pada abad ke-12 H pemikiran serupa muncul
kembali di Jazirah Arab yang dihidupkan oleh Muhammad
bin Abdul Wahab, yang selanjutnya disebut kaum Wahabi
(lihat 3, hal 225; lihat 4, hal 61; lihat 6).

Muhammad bin Abdul Wahab mempunyai nama lengkap
Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin
Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid
bin Musyarraf, dilahirkan di negeri Uyainah pada tahun
1115 H. Daerah Uyainah ini terletak di wilayah Yamamah
yang masih termasuk bagian dari Najd. Letaknya berada
di bagian barat laut dari kota Riyadh yang jaraknya
(jarak antara Uyainah dan Riyadh) lebih kurang 70 km.
Beliau belajar kepada ulama bermadzhab Hanbali di
Bashrah ( lihat 5).

Sehingga diyakini da’wah Salafi dimulai dengan
kemunculan Muhammad bin Abdul Wahab ini, aliran Wahabi
(Wahabiyyah) sebagai sumber pemikirannya. Wahabiyyah
muncul atas reaksi terhadap sikap pengkultusan dalam
bentuk mencari keberkatan dari orang-orang tertentu
melalui ziarah kubur, disamping bid’ah yang
mendominasi tempat kegamaan dan aktifitas duniawi.
Pada hakikatnya Wahabiyyah tidak membawa pemikiran
baru tentang aqidah, mereka hanya mengamalkan apa yang
telah dikemukan oleh Ibnu Taimiyah dalam bentuk yang
lebih keras, dibandingkan apa yang telah diamalkan
oleh Ibnu Taimiyah sendiri. Mereka menertibkan
berbagai hal yang tidak pernah disinggung oleh Ibnu
Taimiyah.

Kaum wahabi menghancurkan kuburan-kuburan sahabat dan
meratakannya dengan tanah, tindakan wahabi berdasarkan
sabda Nabi saw mengingkari tindakan Bani Israil yang
menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai mesjid.
Kaum wahabi juga melarang mengganti kain penutup
raudhah dengan alasan bid’ah, sehingga kain itu
menjadi usang, kotor dan tidak enak dipandang mata.

Kaum wahabi (yang berpusat di Riyadh) dengan bantuan
Inggris melakukan pembangkangan bersenjata
(peperangan) terhadap kekhilafahan Utsmaniyah, Inggris
memberikan bantuan dana dan senjata kepada kaum wahabi
dan dikirim melalui India. Mereka berusaha merampas
wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kekhilafahan
Utsmaniyah agar mereka bisa mengatur wilayah tersebut
sesuai dengan paham wahabi, kemudian mereka
menghilangkan madzhab lain dengan kekerasan. Sehingga
kaum wahabi mengalami penentangan dan bantahan yang
bertubi-tubi dari para ulama, pemimpin dan tokoh
masyarakat yang menganggap pendapat wahabi
bertentangan dengan pemahamam kitabullah dan sunnah.

Da’wah kaum wahabi ini tidak diterima oleh umat,
sehingga kata ‘wahabi’ menjadi momok tersendiri di
tengah-tengah umat.

Apa sebenarnya Wahhabi itu? Mengapa mereka begitu
benci setengah mati terhadap Wahhabi? Sehingga
buku-buku yang membicarakan Muhammad bin Abdul Wahhab
mencapai 80 kitab atau lebih. Api kebencian mereka
begitu membara hingga salah seorang di antara mereka
mengatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
bukan anak manusia, melainkan anak setan, Subhanallah,
adakah kebohongan setelah kebohogan ini? (lihat 11).

Sehingga dengan cara yang unik ulama wahabi
menjelaskan makna kata ‘wahabi’ berasal dari asma
Allah SWT, meskipun awalnya memang wahabi berasal dari
kata Muhammad bin Abdul Wahab.

“Orang-orang bodoh seperti mereka tidak mengetahui
bahwa ‘wahabi’ dinisbatkan kepada ‘Al-wahab’. Adalah
salah satu dari asma Allah yang telah memberikan
kepada umat manusia ajaran tauhid murni dan
menjanjikan syurga kepada mereka” (lihat 1, hal 85).

Kaum wahabi tahun 1788 M menyerang dan menduduki
Kuwait serta mengepung Baghdad, tahun 1803 menyerang
dan menduduki Makkah. Pada tahun 1804 menduduki
Madinah dan menghancurkan kubah besar yang digunakan
untuk menaungi makam Rasulullah saw, mempreteli
seluruh batu perhiasan dan ornamennya yang sangat
berharga. Setelah menguasai seluruh daerah Hijaz,
mereka begerak kedaerah Syam, tahun 1810 menyerang
Damaskus dan Najaf. Kekhilafahan Utsmaniyah
mengerahkan kekuatan menghadapinya tetapi tidakn, maka hendaklah
sabar dalam menaati mereka” (lihat 8, hal 43-44).

Padahal Rasulullah Saw bepesan dalam hadits shahih
bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk selagi
bermaksiat kepada Allah SWT,

Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam hal
kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu
dalam hal kebaikan. [HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan
An-Nasa’i].

Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf. [HR
Bukhari dan Muslim].

Sungguh bertentangan sikap salafi terhadap penguasa
sekuler dengan sikap yang diajarkan Rasulullah Saw
kepada kita. Sikap yang bertentangan dengan sunnah
Rasulullah Saw ini dilakukan salafi untuk kepentingan
da’wah mereka, mereka lebih mengutamakan dunianya dari
pada akhiratnya. Mengaku ahlus-sunnah tetapi dengan
menentangnya, bagaimana bisa?

“Adapun menyiarkan dan menyebarkan kesalahan-kesalahan
penguasa (walaupun mereka benar-benar berbuat salah)
diatas mimbar-mimbar serta memprovokasi masyarakat
baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan,
dapat menimbulkan fitnah (malapetaka) yang merugikan
dakwah Ahlus Sunnah wal-jamaah” (lihat 9, hal 40).

Salafi juga merestui pemimpin wanita yang nyata-nyata
tidak direstui oleh Rasulllah Saw dalam sebuah hadits
shahih-nya, salafi memahaminya sebagai realita dan
mencoba-mencoba disesuaikan dengan syari’at. Ini
sungguh sikap pramatis dan menyalahi kaidah dalam
menetapkan hukum syari’at, yakni menjadi realitas
sebagai sumber hukum. Seharusnya, realitas adalah
objek hukum bukan sebagai sumber hukum. Mengaku
ahlus-sunnah tetapi dengan menentangnya, bagaimana
bisa?

“Tidak akan berjaya suatu kaum yang dipimpin oleh
seorang wanita” adalah hadis shahih, walaupun realita
sekarang kita lihat banyak wanita yang menjadi
pemimpin, dalam hal ini kita diperintahkan untuk
melihat realita dan menyesuaikan dengan syariat. Jika
pemimpin wanita ini memerintahkan untuk taat kepada
Allah maka dia wajib dipatuhi, sebaliknya jika dia
memerintahkan untuk kemaksiatan maka kita tidak akan
patuh kepadanya (ihat 12).

Sehingga dapat kita maklumi kenapa salafi aman-aman
saja dan aktifis da’wah mereka tidak ditangkapi ketika
berda’wah dinegeri-negeri sekuler, karena da’wah
salafi yang tidak berani terang-terangan mengkritik
penguasa dan mengungkapkan kemaksiaatan mereka kepada
Allah SWT. Baik penguasa wanita yang menyalahi ajaran
Rasulullah Saw yang mulia, maupun kebijakan penguasa
yang menyalahi syari’at Allah SWT. Ini sungguh sikap
yang tidak terpuji, pengecut dan menjauhkan umat dari
pemahaman Islam yang benar, karena penguasa-penguasa
itu telah bermaksiat kepada Allah ketika tidak
menerapkan hukum-hukum Allah swt. Bahkan jika salafi
mempunyai keberanian mengkritik penguasa dan
mengungkapkan kemaksiaatannya, kemudian penguasa
membunuhnya maka ia mati syahid, inilah puncak segala
amal ibadah karena syurga balasannya,

Seutama-utamanya jihad adalah ucapan/menyampaikan
(kata-kata) yang haq di hadapan penguasa yang zalim.
[HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Nasa’i].

Pemimpin para Syuhada adalah Hamzah, dan seseorang
yang berdiri di hadapan penguasa yang dzalim kemudian
(ia) menasehatinya, lalu penguasa tadi membunuhnya.
[HR Hakim].

Bukankah salafi telah mengabaikan sunnah Rasulullah
saw yang mulia dalam mengkritik penguasa dan
mengungkapkan kemaksiaatan yang telah dilakukannya?.
Bukankah terbunuhnya para ulama karena menasehati
penguasa semisal Al-Banna dan Qutb setara dengan
syahidnya Hamzah dalam perang Uhud. Lantas seperti
apakah salafush-shalih (salafi) yang asli?, membebek
kepada penguasa dengan membuat fatwa-fatwa yang sesuai
keinginan penguasa sekuler atau dengan tegas mengkrtik
penguasa secara terang-terangan? Berikut kita bahas
seperti apa salafush-shalih yang asli!

Siapakah Salafush-Shalih Yang Asli?

Dalam masa keemasan kekhilfahan Islam para ulama
sangat berpengaruh dan selalu dimintai nasehat oleh
penguasa, tidak mau menemui (mendekati) penguasa dan
tidak segan-segan mengkritik penguasa dengan keras.
Kita bisa saksikan ulama tabi’in Sa’id bin Musayyab
yang menolak menemui Khalifah Abdul Malik bin Marwan
(692-705 M) disaat Khalifah meminta nasehat, karena
orang yang membutuhkan nasehatlah seharusnya yang
mendatangi para ulama, begitu kata Sa’id bin Musayyab.

Sa’id bin Musayyab juga pernah menolak menikahkan
puterinya dengan Al-Walid bin Abdul Malik (putra Abdul
Malik bin Marwan), malahan beliau menikahkan puterinya
dengan seorang duda yang miskin tetapi ta’at yakni Abu
Wada’ah. Alasan beliau menolaknya adalah: “Puteriku
adalah amanat dileherku, maka kupilihkan apa yang
sesuai untuk kebaikan dan keselamatan dirinya” lihat
7, hal 22-32 Tetapi kenyataannya, Muhammad bin Abdul
Wahab sendiri berbesanan dengan keluarga Ibnu Saud
(lihat 3, hal 251).

Dalam kisah lain, ulama Hasan Al-Basri yang tidak
segan-segan menentang dan mengecam dengan keras
penguasa Iraq Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Saat Hasan
Al-Basri dipanggil oleh Hajjaj untuk dihukum mati,
Hasan Al-Basri datang dengan tabah dan berwibawa,
sehingga Hajjaj membatalkan hukumannya dan malah
meminta beberapa nasehat kepada Hasan Al-Basri.

Penguasa (wali/gubernur) baru Iraq berikutnya adalah
Hubairah Al-Fazari (masa Khalifah Yazid bin
Abdulmalik, 720-724 M), Hubairah menjalankan perintah
Khalifah Yazid yang kadang-kadang melenceng dari
Islam. Hasan Al-Basri memberikan nasehat kepada
Hubairah: “Ya Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah
atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah.
Sebab ketahuilah bahwa Allah SWT bisa menyelamatkanmu
dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu
dari Allah” (lihat 7, hal 53-56).

Khatimah:

1. Keyakinan salafi bahwa mereka telah ada semenjak
nabi Adam AS, maka inilah golongan tertua didunia.
Tetapi setelah ditelaah sejarah kemunculan salafi,
maka terungkap salafi bermula dari da’wah Muhammad bin
Abdul Wahab yang mengambil madzhab Hanbali sebagai
sumber pemikirannya. Sehingga pernyataan bahwa salafi
telah ada sejak nabi Adam AS, merupakan sikap arogan
dan mau menang sendiri saja.

2. Kaum wahabi (yang merupakan awal da’wah salafi)
telah melakukan pembangkangan (bughat) kepada
kekhilafahan Utsmaniyah yang syah, dengan bantuan dana
dan senjata dari Inggris. Sikap ini sungguh
bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw yang mulia,
untuk ta’at kepada Amirul mu’minin.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul, serta ulil amri diantara kalian. (Qs.
an-Nisaa' [4]: 59).

3. Sikap kaum wahabi yang menentang kekhilafahan
Utsmaniyah, bertolak belakang dengan sikap salafi yang
tidak berani mengkritik dan mengungkapkan kemaksiaatan
penguasa sekuler yang tidak menerapkan hukum-hukum
Allah swt, hal ini dilakukan untuk kepentingan da’wah
mereka. Mereka lebih mengutamakan dunia dari pada
akhiratnya, padahal memberikan kritik kepada penguasa
sekuler merupakan bagian dari jihad.

Seutama-utamanya jihad adalah ucapan/menyampaikan
(kata-kata) yang haq di hadapan penguasa yang zalim.
[HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Nasa’i].

4. Para tabi’in yang harus kita teladani kehidupannya,
mereka mengkritik penguasa dengan keras dan
terang-terangan, semisal kisah tabi’in Sa’id bin
Musayyab, Hasan Al-Basri, dll, merekalah
salafush-shalih yang asli. Sedangkan mereka-mereka
yang tidak berani mengkritik penguasa dan
mengungkapkan kemaksiaatan mereka, bermesraan, serta
membuat fatwa-fatwa yang sesuai dengan keinginan
penguasa, kemungkinan besar salafush-shalih (salafi)
palsu!

5. Saksikanlah aktifis da’wah dari Ikhwanul Muslimin,
Hizbut Tahrir, FIS Al-Jazair, Refaah Turki, Jama’at
Islami Sudan dan berjuta-juta aktifis Islam lainnya
yang memperjuangkan tegaknya Islam secara kaffah
dimuka bumi dan mengkritik kebijakan penguasa-penguasa
sekuler secara tegas dan terang-terangan, tetapi
mereka ditangkapi dan dibunuhi diberbagai belahan
dunia, mereka mengalami hal yang sama seperti yang
dialami para tabi’in yang tegas dan terang-terangan
mengkritik penguasa dizamannya. Kemudian bandingkanlah
dengan salafi yang berda’wah diberbagai negara dunia
secara aman, tenteram dan damai dibawah ketiak
penguasa-penguasa sekuler. Manakah diantara mereka
yang meneladani para tabi’in?, manakah yang mendekati
salafush-shalih?. Semakin jelaslah sekarang, mana yang
meneladani salafush-shalih yang dan mana yang bukan!
Wallahua’lam,

Maraji’:

1. Golongan yang selamat, Muhammad bin Jamil Zainu
2. www.salafy.or.id, fatwa ulama: Kapankah dakwah
salafiyah dimulai?
3. Aliran politk dan aqidah dalam Islam, Imam Muhammad
Abu Zahrah
4. Zikir cahaya kehidupan, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
5. www.salafyoon.online: Syaikh Muhammad bin Abdil
Wahhab, Cyber Muslim Salafy
6. www.salafyoon.online: Ibnu Taimiyah, Dai dan
Mujahid Besar, Cyber Muslim Salafy
7. Insan teladan dari para tabi’in, Abdurrahman Ra’fat
Basya
8. Menepis penyimpangan manhaj dakwah, Abu Abdullah
Jamal bin Farihan Al-Haritsi
9. Bunga rampai fatwa-fatwa syari’yah, Abul Hasan
Musthafa
10.www.salafyoon.online: Mengapa Harus Salafiyah, Imam
Al-Bani
11.www.salafyoon.online: Dakwah Wahhabiyyah, Abu
Ubaidah Al Atsari dan Abu Usamah
12.www.salafyoon.online: Soal-Jawab: Bagaimana Dengan
Umara Indonesia, Salim Al Hilali
13.www.salafyoon.online: Soal-Jawab: Salafi Tapi ...,
Musa Ibn Nasr
berhasil, sehingga kekhilafahan Utsmaniyah meminta
bantuan Gubernur Mesir Muhammad Ali, Muhammad Ali
mengutus anaknya Thassun untuk memerangi kaum wahabi
dan berhasil menghancurkan Wahabi pada tahun 1818 M,
ketika itulah kekuatan senjata wahabi mulai surut dan
hanya tinggal beberapa kabilah saja (lihat 3, hal
251-254).

Tetapi dengan bantuan Inggris akhirnya kaum wahabi
berhasil melepaskan diri dari kekhilafahan Ustmaniyah,
mereka mendirikan kerajaan yang turun temurun
diperintah oleh Ibnu Saud dan kerajaan hanya
menggunakan paham wahabi hingga kini. Sangat nyata
taktik yang dilakukan oleh Inggris dalam
mencerai-beraikan kekhilafahan Utsmaniyah, yakni
dengan mempertentangkan wahabi dengan madzhab lainnya
(adu domba), sehingga wilayah-wilayah tersebut lepas
dari genggaman kekhilafahan Utsmaniyah dan Inggris
dapat menguasainya secara politik.

Begitulah, kaum wahabi menyebarluaskan paham mereka
melalui peperangan bersenjata, mengacungkan pedang
kepada khalifah, menyerang kaum muslimin didaerah
Arab, Iraq, Syam dan Kuwait, memaksa kaum muslimin
didaerah yang mereka kuasai untuk menanggalkan madzhab
mereka dan menggunakan paham wahabi saja, karena
mereka meyakini bahwa hanya paham wahabi yang boleh
eksis didunia.

Mereka tidak lagi mempedulikan boleh tidaknya
berkolaborasi dengan kaum kuffar (Inggris), padahal
Rasulullah saw memperingatkan kita agar berhati-hati
dengan orang-orang kafir, jangan menjadikan mereka
sebagai teman dekat (teman kepercayaan) dan jangan
jadikan mereka sebagai wali. Tetapi mereka mengabaikan
semua itu dengan alasan menjalankan sunnah Rasulullah
Saw, mengaku ahlus-sunnah tetapi dengan menentangnya,
bagaimana bisa?

Siapa saja diantara kalian mengambil mereka
(orang-orang kafir) sebagai wali, maka sesungguhnya
orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.
(Qs. al-Maa'idah [5]: 51).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil
menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar
kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya
(menimbulkan) kemudharatan bagimu. (Qs. Ali-'Imraan
[3]: 118).

Tindakan kaum wahabi membangkang dan mengacungkan
pedang kepada khalifah dari kekhilafahan Utsmaniyah,
sungguh pembangkangan yang nyata kepada seorang
Khalifah yang telah diangkat kaum muslimin, dalam
hukum syara’ ini disebut bughat. Pelaku bughat harus
diperangi oleh Khalifah, sampai mereka kembali tunduk
kepada khalifah.

Jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin
berperang maka damaikanlah keduanya. Jika salah satu
dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap
golongan yang lain maka perangilah golongan yang
berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali
kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali
(kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara
keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Qs.
al-Hujuraat [49]: 9).

Sangat kontradiksi dengan pembangkangan wahabi
terhadap kekhilafahan Utsmaniyah, dimana saat ini
salafi tidak berani menentang penguasa sekuler
ditempat mereka menetap, mereka menggunakan ayat lain
yang menyatakan ketaatannya kepada penguasa sekuler
itu,

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul, serta ulil amri diantara kalian. (Qs.
an-Nisaa' [4]: 59).

Sungguh ironis, mereka membangkang kepada kekhilafahan
Utsmaniyah yang menjalankan hukum Islam, tetapi saat
ini mereka bemesraan dengan para penguasa sekuler
menentang hukum Islam ditempat mereka menetap, baik
penguasa kerajaan, presiden, maupun diktator militer.
Salafi meyakini harus ta’at kepada penguasa sekuler,
meskipun ia telah berbuat dzalim kepada rakyatnya dan
bermaksiat kepada Allah SWT dengan tidak menerapkan
hukum-hukum Allah SWT.

“Oleh karena itu janganlah kita membuka kesalahan
mereka (hukam) dimuka umum dan ‘melepaskan tangan’
untuk tidak taat kepada mereka. Walaupun mereka telah
menyimpang, berbuat dzalim dan bermaksiat, asal tidak
berbuat kekufuran secara terang-terangan, sebagaimana
yang diperintahkan Rasulullah Saw. Jika mereka berbuat
maksiat, penganiayaan dan kelalima

Posted in akidah, salafy, shohih | Leave a Comment »

Hujjah Imam Abu Hanifah Kalahkan Aqidah bathil Salafy / Wahabi

Posted by admin on April 16, 2008

IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.


Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan) :

Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat beliau.

Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”

NIH KITABNYA KLO GA PERCAYA :
SAMPUL KITAB
http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzEMp3IyZSI/AAAAAAAAAMg/P2AiecWpXlA/s1600-h/wsiatabuhanifh.jpg

NIH BACA YANG DIGARIS MERAH :
http://bp2.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzEMfXIyZRI/AAAAAAAAAMY/LvuLA201YZ4/s1600-h/wasiat1.jpg


Posted in akidah, salafy, shohih | Leave a Comment »