Ahlusunnah vs Ahlubidd’ah (Wahabi Al yahudiah)

Bahaya wahabi alyahudiah yang mengaku salafy

Kisah Shohih Isra’ Mi’roj Nabi Muhammad Menurut Ahlusunnah

Posted by admin on June 10, 2008

Silahkan Download kitab ini di :

http://darulfatwa.org.au/languages/Indonesian/Al-Isra_wal_Mi%5Eraj.pdf

http://www.darulfatwa.org.au
SALAM REDAKSI
Para pembaca al huda yang budiman, di
antara mukjizat besar yang diberikan Allah kepada
Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam
adalah Isra’ dan Mi’raj, sebuah peristiwa luar biasa
yang terjadi sepanjang sejarah peradaban
manusia, peristiwa nyata yang telah terjadi dan kita
wajib mempercayainya.
Tepatnya tanggal 27 Rajab, atas perintah
Allah ta’ala Malaikat Jibril datang dengan
membawa kendaraan yang disebut dengan Buraq.
Kendaraan yang mempunyai kecepatan yang luar
biasa; sejauh mata Buraq memandang sejauh itu
pulalah Buraq melangkah. Dengan tanpa
meninggalkan jejak sang malaikat membuka atap
rumah tempat Rasulullah tidur, perlahan-lahan
Jibril membangunkan Rasulullah dan mengajaknya
keluar untuk menyaksikan tanda-tanda kekuasaan
Allah, baik yang berada di bumi maupun yang
berada di langit. Dari masjid al Haram Rasulullah
memulai perjalanannya (Isra’) dengan melewati
beberapa tempat bersejarah hingga akhirnya
beliau sampai di masjid al Aqsha, di masjid inilah
Rasulullah dipertemukan dengan semua para nabi
dan melakukan shalat dua raka’at dengan para
nabi dan sekaligus menjadi imam mereka, ini juga
merupakan dalil bahwa Nabi Muhammad adalah
nabi yang termulia di antara para nabi.
Setelah Isra’, Rasulullah yang ditemani
Malaikat Jibril melanjutkan perjalanannya menuju
Sidrat al Muntaha. Perjalanan ini disebut dengan
Mi’raj; perjalanan yang dimulai dari masjid al Aqsha
hingga ke atas sidrat al Muntaha, ke atas langit ke
tujuh.
Hanya dalam waktu sepertiga malam saja
Rasulullah sudah kembali ke tempat tidurnya dari
perjalanan Isra’ dan Mi’rajnya. Sungguh
menakjubkan, namun itulah bukti kekuasaan Allah
yang sempurna dan tidak ada bandingannya dan
inilah yang disebut dengan Mukjizat; bukti
kebenaran akan kenabian dan kerasulan
Muhammad Shallallahu ‘alayhi Wasallam.
Lebih jelasnya tentang hikmah isra’ dan
mi’raj, mari kita baca ulasan ringkas al Huda kali
ini. Semoga kita mendapat ilmu yang bermanfaat
amin ya Rabbal ‘alamin.
http://www.darulfatwa.org.au
Dars
بسم الله الرحمن الرحيم
( سبحن الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد
الأقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير )
( (سورة الإسراء : 1
Maknanya : “Maha suci Allah yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam
dari masjid al Haram menuju masjid al Aqsha yang
telah kami berkahi sekelilingnya agar kami
perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda
(kekuasaan) kami” (Q.S. al Isra’ : 1)
Tafsir ayat :
Dalam Bahasa Arab as-Sabhu maknanya at-
Taba’ud; jauh. Jadi perkataan سبح الله تعالى
“bertasbihlah kepada Allah ta’ala” maknanya
adalah jauhkan dan sucikan Allah dari hal-hal
yang tidak layak bagi-Nya, yaitu menyerupai
makhluk dan segala sifatnya; seperti bentuk lathif
(yang tidak dapat dipegang oleh tangan seperti
cahaya, kegelapan, roh, angin dan lainnya)
maupun benda katsif (yang dapat dipegang oleh
tangan seperti manusia, pohon, batu, air dan
lainnya) maupun sifat-sifat keduanya; seperti
berwarna, bergerak, diam, berukuran (baik yang
besar maupun yang kecil), menetap pada suatu
arah atau tempat. Hal ini mengingat bahwa Allah
mensucikan Dzat-Nya dari sifat-sifat ciptaan-Nya
dalam firman-Nya :
( ( ليس كمثله شئ ) (سورة الشورى : 11
Maka seandainya Dia berupa bentuk, baik bentuk
besar atau kecil niscaya banyak makhluk yang
menyerupai-Nya.
Makna bi ‘abdihi ( بعبده ) adalah hamba-Nya
yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi
wasallam. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi
Muhammad telah sampai pada derajat yang tinggi
dan tingkatan yang luhur dalam peristiwa Mi’raj,
Allah menyampaikan wahyu kepadanya yang
maknanya: “Wahai Muhammad dengan apa Aku
memuliakanmu ?”, Nabi menjawab : “Dengan
penisbatan (penyandaran) diriku kepada-Mu
dengan sifat penghambaan (‘ubudiyyah)”.
Kemudian turunlah firman-Nya: “Subhanalladzi
asra bi ‘abdihi…”. Maknanya: penyebutan
Rasulullah dengan dinisbatkan kepada Allah dalam
“‘abdihi”; hamba-Nya merupakan puncak
http://www.darulfatwa.org.au
pemuliaan terhadap Rasulullah mengingat hambahamba
Allah banyak, mengapa beliau secara
khusus disebutkan dalam ayat ini sebagai hamba-
Nya?, ini menunjukkan bahwa Rasulullah
dikhususkan dengan kemuliaan yang paling agung.
Firman-Nya lailan ( ليلا ) dibaca nashab
sebagai zharaf (keterangan waktu). Jika dikatakan:
“Mengapa disertakan penyebutan malam ?”, maka
jawabnya adalah penyebutan lailan sebagai
penguat yang menunjukkan waktu atau masa
terjadi peristiwa Isra’ itu yang sangat singkat dan
sebentar saja, yaitu hanya dalam waktu kurang
dari sepertiga malam saja. Sebab Nabi mengalami
peristiwa tersebut hanya sebagian waktu malam
saja dari Makkah menuju Syam. Al Masjid al
Haram adalah masjid di Makkah. Dinamakan
demikian karena kehormatannya yakni
kemuliaannya atas seluruh masjid-masjid yang ada
di bumi ini, dengan memiliki hukum-hukum tertentu
yang tidak berlaku bagi masjid lainnya. Seperti
berlipat gandanya pahala amal yang dikerjakan di
sana, sebagaimana tersebut dalam beberapa
hadits yang shahih seperti misalnya: sekali shalat
di sana sebanding dengan seratus ribu kali shalat
di selainnya (selain Masjid an-Nabawi dan Masjid
al Aqsha), sedangkan shalat di masjid an-Nabawi
sebanding dengan seribu kali shalat di masjid
lainnya dan sekali shalat di masjid al Aqsha
sebanding dengan lima ratus kali shalat di masjid
lainnya. Al Masjid al Aqsha dinamakan demikian
karena jaraknya yang jauh (dari Masjid al Haram).
Firman Allah : ( ( الذي باركنا حوله
Maknanya : “Yang telah Kami berkati
sekelilingnya”, Dikatakan demikian karena al
Masjid al Aqsha adalah tempat menetap para nabi
dan tempat turunnya malaikat. Karena itulah
Nabiyyullah Ibrahim ‘alayhissalam menyatakan :
( ( إني ذاهب إلى ربي ) (سورة الصافات : 99
Maknanya : “Sesungguhnya aku pergi menuju
negeri (daratan syam) yang Allah memberiku
petunjuk agar aku ke sana (supaya mendapat
ketenangan dalam berdakwah dan beribadah
kepada Allah) “. (Q.S. ash-shaffat : 99)
Nabi Ibrahim mengetahui hal ini dengan wahyu dari
Allah kepadanya bahwa Syam (sekarang
Palestina, Yordania, Syiria dan Lebanon)
merupakan negeri tempat turunnya rahmat.
Kebanyakan wahyu turun di Syam, demikian juga
para nabi kebanyakan di sana. Palestina (daerah
Syam yang paling inti) juga tidak berada di bawah
kekuasaan Namrud sehingga beliau dapat
beribadah kepada Allah di sana tanpa diganggu
atau disakiti, maka beliau berpindah dari negerinya
http://www.darulfatwa.org.au
(Iraq) menuju palestina. Kemudian setelah
beberapa waktu beliau meninggalkan Surriyyah
(budak perempuan yang digauli tuannya)-nya,
Hajar dan anaknya Isma’il berada di Makkah. Nabi
Ibrahim berdoa kepada Allah ta’ala agar penduduk
Makkah dikaruniai rizki berupa buah-buahan dan
Allah mengabulkan doanya. Oleh sebab Makkah
merupakan tanah gurun yang tidak ada tanaman,
maka Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk
memindahkan gunung Tha’if dari daratan Syam
menuju Makkah dan malaikat Jibrilpun
memindahkan dan meletakkan gunung tersebut di
sana. Di gunung ini tumbuh buah anggur dari jenis
yang terbaik demikian juga buah delima dan lainlain,
udaranya sangat sejuk sehingga penduduk
makkah memilihnya menjadi Mushthaf (lokasi
pelesir di musim panas). Demikian penuturan al
Azraqi dalam bukunya Akhbar Makkah, sebuah
buku yang sarat dengan faedah.
Firman Allah : ( ( لنريه من آياتنا
Maknanya : “Agar Kami (Allah) perlihatkan
kepadanya (Muhammad) pada malam tersebut
berbagai keajaiban dan tanda yang menunjukkan
akan kekuasaan Kami (Allah)”.
Perjalanan Isra’ dimulai dari al Masjid al Haram
setelah terlebih dahulu dada beliau dibelah dan
dicuci hatinya untuk dipenuhi dengan hikmah dan
keimanan, agar beliau siap untuk menyaksikan
keajaiban-keajaiban ciptaan Allah dengan hati
yang kuat. Pada saat itu beliau berada di Makkah,
Jibril datang pada malam hari dengan membuka
atap rumah tanpa menjatuhkan debu, batu atau
yang lainnya. Saat itu beliau sedang tidur antara
pamannya, Hamzah dan sepupunya Ja’far ibn Abu
Thalib. Mereka semua sedang berada di rumah
putri Abu Thalib, Ummu Hani’ binti Abu Thalib,
saudara perempuan Ali ibn Abu Thalib di suatu
perkampungan yang bernama Ajyad. Jibril
membangunkan Nabi kemudian pergi bersamanya
menuju al Masjid al Haram. Bersama Malaikat Jibril
beliau berangkat dengan Buraq; seekor binatang
surga yang bentuknya lebih besar dari keledai dan
lebih kecil dari kuda yang mampu melompat sejauh
pandangannya. Di tengah perjalanan Isra’ ini
Rasulullah melewati beberapa tempat dan kota
bersejarah, antara lain kota Yatsrib (Madinah), kota
Madyan (kota Nabi Syu’aib), bukit Thur Sina’
(tempat Nabi Musa mendapat wahyu dari Allah),
dan Bayt Lahm (tempat Nabi Isa dilahirkan). Di
tiap-tiap tempat ini Jibril selalu meminta Rasulullah
untuk turun dan melakukan shalat dua raka’at
(H.R. al Bayhaqi). Hal ini merupakan salah satu
dari sekian banyak dalil tentang dibolehkannya
“tabarruk” (meminta berkah dari Allah) dengan
lantaran atsar (peninggalan) para nabi. Setelah
http://www.darulfatwa.org.au
Rasulullah sampai di Bayt al Maqdis (al Masjid al
Aqsha), Rasulullah bersama para nabi mulai dari
Nabi Adam hingga Nabi Isa melakukan shalat
berjama’ah dan beliau bertindak sebagai imam.
Allah mempertemukan beliau dengan para nabi di
sana sebagai penghormatan kepada beliau. Allah
membangkitkan semua nabi yang sebelumnya
telah wafat kecuali Nabi Isa karena beliau masih
hidup di langit hingga sekarang. Kemudian Allah
ta’ala menambahkan kemuliaan untuk Nabi-Nya
Muhammad dengan mengangkat delapan nabi
yaitu Nabi Adam, Isa, Yahya, Idris, Harun, Musa,
dan Ibrahim ke langit dan mereka menyambut
Rasulullah di sana.
Keajaiban-keajaiban Isra’
Di antara keajaiban ciptaan Allah yang
disaksikan Rasulullah ketika Isra’ adalah :
1. Dunia, Rasulullah melihatnya dalam bentuk
seorang wanita tua yang renta. Hal ini
menggambarkan bahwa dunia dengan segala
bentuk dan isinya yang menggairahkan akan
lenyap dan fana, sebagaimana seorang wanita
yang ketika mudanya sangat cantik dan
menawan, akan hilang kecantikannya ketika
sudah tua.
2. Iblis, Rasulullah melihat seseorang yang
berada di pinggir jalan, dialah Iblis yang pada
mulanya beriman kepada Allah kemudian dia
kafir karena menentang-Nya. Dia termasuk
dari golongan Jin, bukan malaikat (Q.S. al
kahfi : 50). Iblis tidak berani berbicara kepada
Rasulullah atau berbuat jelek terhadapnya
dikarenakan kemuliaan dan keagungan beliau.
3. Para Mujahid di jalan Allah, Rasulullah melihat
sekelompok kaum yang menanam dan menuai
hasilnya dalam tempo 2 hari. Jibril berkata
kepada Rasulullah : “Merekalah orang-orang
yang berjuang di jalan Allah”.
4. Para penceramah pembawa fitnah, Rasulullah
melihat mereka memotong lidah dan bibir
mereka dengan gunting dari api.
Isra’ Bukanlah Mimpi
Telah menjadi ijma’ (konsensus) para
ulama salaf, khalaf, ahli hadits, ahli kalam, ahli
tafsir dan ahli fiqh bahwa Rasulullah di-isra’-kan
dengan jasad dan ruhnya serta dalam keadaan
sadar (bukan mimpi). Inilah pendapat yang benar
menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah, sebagaimana
dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Anas ibn Malik,
Umar ibn Khattab, Hudzaifah, Imam Ahmad ibn
Hanbal, Imam ath-Thabari dan yang lainnya.
http://www.darulfatwa.org.au
Andaikata peristiwa Isra’ tersebut hanyalah
sekedar mimpi, maka orang-orang kafir Quraisy
tidak akan menentangnya dan peristiwa Isra’
tersebut tidak akan menjadi salah satu mukjizat
Rasulullah yang terbesar.
Mi’raj
Kemukjizatan Mi’raj telah dinash secara
jelas dalam hadits shahih, seperti yang
diriwayatkan Imam Muslim. Adapun dalam al
Qur’an tidak ada nash yang menyebutkan lafazh
“Mi’raj”. Namun ada ayat yang menjelaskan
kejadian tersebut. Firman Allah ta’ala:
(14- ( ولقد رآه نزلة أخرى $ عند سدرة المنتهى ) (النجم: 13
Maknanya : “Dan sungguh beliau (Rasulullah) telah
melihat Jibril untuk yang kedua kalinya di Sidrat al
Muntaha” (Q.S. an-Najm : 13-14)
Mi’raj adalah perjalanan yang dimulai dari
Masjid al Aqsha hingga ke atas langit ke tujuh
dengan menaiki tangga yang terpaut di antara
langit dan bumi, dengan anak tangga yang terbuat
dari emas dan perak. Kisah Mi’raj ini secara
terperinci diriwayatkan dalam hadits yang shahih
riwayat Imam Muslim. Disebutkan dalam hadits
tersebut bahwa ketika Rasulullah bersama Jibril
sampai pada langit yang pertama, dibukalah pintu
langit tersebut setelah terjadi percakapan antara
Jibril dan penjaga pintu. Hal ini terjadi setiap kali
Rasulullah dan Jibril hendak memasuki tiap-tiap
langit yang tujuh. Di langit pertama, Rasulullah
bertemu dengan Nabi Adam, di langit kedua
bertemu dengan Nabi Isa, di langit ketiga bertemu
dengan Nabi Yusuf, di langit keempat bertemu
dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu dengan
Nabi Harun, di langit keenam bertemu dengan Nabi
Musa, di langit ketujuh bertemu dengan Nabi
Ibrahim shallallahu ‘alayhim wasallam.
Keajaiban-keajaiban Mi’raj
Ketika Rasulullah berada di suatu tempat
yang berada di atas (suatu tempat yang lebih tinggi
dari langit ke tujuh), beliau diperlihatkan oleh Allah
beberapa keajaiban ciptaan-Nya. Antara lain :
1. al Bait al Ma’mur, yaitu rumah yang dimuliakan,
yang berada di langit ke tujuh. Setiap hari
70.000 malaikat masuk ke dalamnya lalu
keluar dan tidak akan pernah kembali lagi dan
seterusnya.
2. Sidrat al Muntaha, yaitu sebuah pohon yang
amat besar dan indah, tak seorangpun dari
makhluk yang dapat menyifatinya.
3. Surga, yaitu tempat kenikmatan yang
disediakan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya
yang beriman. Surga berada di atas langit
http://www.darulfatwa.org.au
yang ke tujuh dan sekarang sudah ada. Firman
Allah ta’ala :
( ( أعدت للمتقين ) (سورة ءال عمران : 133
Maknanya : “Telah disediakan (surga) bagi
orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S. Ali Imran :
133)
Di dalam surga Rasulullah juga melihat al
Wildan al Mukhalladun, yaitu makhluk yang
diciptakan Allah untuk melayani penduduk
surga. Mereka bukan Malaikat, Jin, atau
Manusia, mereka juga tidak punya bapak atau
ibu. Rasulullah juga melihat para bidadari. Jibril
meminta Rasulullah untuk mengucap salam
kepada mereka, dan mereka menjawab :
“Kami adalah wanita yang baik budi pekerti lagi
rupawan. Kami adalah istri orang-orang yang
mulia”.
4. ‘Arsy, yaitu makhluk Allah yang paling besar
bentuknya (H.R. Ibn Hibban) dan makhluk
kedua yang diciptakan Allah setelah air (Q.S.
Hud : 7). Imam al Bayhaqi mengatakan : “Para
ahli tafsir menyatakan bahwa ‘arsy adalah
benda berbentuk sarir (ranjang) yang
diciptakan oleh Allah. Allah memerintahkan
para malaikat untuk menjunjungnya dan
menjadikannya sebagai tempat ibadah mereka
dengan mengelilinginya dan
mengagungkannya sebagaimana Ia
menciptakan ka’bah di bumi ini dan
memerintahkan manusia untuk mengelilinginya
ketika thawaf dan menghadap ke arahnya di
saat shalat” (lihat al Asma’ wa ash-shifat, hlm.
497). ‘Arsy bukanlah tempat bagi Allah, karena
Allah tidak membutuhkan tempat. Sayyidina
‘Ali berkata :
“إن الله خلق العرش إظهارا لقدرته ولم يتخذه مكانا لذاته” رواه
أبو منصور البغدادي في الفرق بين الفرق
Maknanya:”Sesungguhnya Allah menciptakan
‘arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, dan
tidak menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”.
(Riwayat Abu Manshur al Baghdadi dalam al
farq bayna al firaq, hlm : 333)
Kembalinya Rasulullah dari Mi’raj
Sebagian ulama’ mengatakan : perjalanan
Isra’ dan Mi’raj hingga kembalinya Rasulullah ke
Makkah di tempuh dalam tempo sepertiga malam.
Setelah itu Rasulullah mengabarkan kejadian
tersebut kepada kaum kafir Quraisy, namun
mereka tidak percaya. Lalu mereka datang kepada
Abu Bakr ash-Shiddiq untuk menyatakan hal itu,
dan beliau membenarkan cerita Rasulullah seraya
mengatakan: “Aku mempercayainya ketika ia
http://www.darulfatwa.org.au
mengabarkan berita langit, mengapa aku tidak
mempercayainya mengenai berita bumi ?”.
Orang-orang kafir dengan dipimpin oleh Abu
Jahal mendatangi Rasulullah untuk minta
penjelasan tentang sifat dan bentuk al Masjid al
Aqsha, karena mereka mengetahui bahwa
Rasulullah tidak pernah pergi ke sana sebelumnya.
Setelah Rasulullah menjelaskan secara mendetail,
di antara mereka yang pernah pergi ke sana
berkata : “Demi Tuhan, apa yang diterangkan
Muhammad adalah benar”.
Hukum orang yang mengingkari Isra’ dan Mi’raj
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan salah
satu mukjizat terbesar yang dikaruniakan Allah
kepada Rasulullah. Peristiwa Isra’ ini disebutkan
dalilnya dalam al Qur’an (surat al Isra’ :1) dan
hadits shahih. Karenanya wajib beriman bahwa
nabi Muhammad shallahu ‘alayhi wasallam
diperjalankan oleh Allah pada malam hari dari
Makkah ke Masjid al Aqsha dalam keadaan sadar,
terjaga, dengan roh dan jasad. Inilah yang
dikatakan oleh seluruh ulama’ salaf dan khalaf dari
kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Di antara
para sahabat yang menyatakan hal ini antara lain;
Ibn Abbas, Jabir, Anas, Umar, Hudzaifah, dan
lainnya. Para ulama’ menyatakan : “orang yang
menginkari peristiwa Isra’ berarti telah
mendustakan al Qur’an dan barang siapa yang
mendustakan al Qur’an maka ia jatuh dalam
kekufuran”.
Sedangkan peristiwa Mi’raj disebut dengan
jelas dalam hadits-hadits yang shahih dan
disinggung dalam al Qur’an meski tidak secara
eksplisit (surat an-Najm (53): 13-15) dan masih
memungkinkan adanya penafsiran lain (ta’wil) dari
zhahir ayat tersebut. Namun demikian barang
siapa yang memahami bahwa Sidrat al Muntaha
yang disebut dalam ayat-ayat tersebut berada di
langit, lalu mengingkari peristiwa Mi’raj maka ia
jatuh dalam kekufuran. Jika ia tidak mengerti dan
tidak memahami demikian terhadap tafsiran ayatayat
tersebut maka ia tidaklah kufur.
Apakah Tujuan Isra’ dan Mi’raj ?
Tujuan dan hikmah yang sebenarnya dari
Isra’ dan Mi’raj adalah memuliakan Rasulullah dan
memperlihatkan kepadanya beberapa keajaiban
ciptaan Allah sesuai dengan firman Allah dalam
surat al Isra’: 1 di atas :
( لنريه من آياتنا )
Maknanya: “Agar kami memperlihatkan kepadanya
sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami”.
http://www.darulfatwa.org.au
serta mengagungkan beliau sebagai Nabi akhir
zaman dan sebaik-baik nabi di antara para nabi,
sekaligus sebagai penguat hati beliau dalam
menghadapi tantangan dan cobaan yang
dilontarkan oleh orang kafir Quraisy terlebih
setelah ditinggal mati oleh paman beliau Abu
Thalib dan isteri beliau Khadijah.
Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa tujuan dari Isra’ dan Mi’raj bukanlah bahwa
Allah ada di arah atas, lalu Nabi naik ke atas untuk
bertemu dengan-Nya. Karena Allah ada tanpa
tempat dan arah, dan tempat adalah makhluk
sedangkan Allah tidak membutuhkan kepada
makhluk-Nya. Allah ta’ala berfirman :
( ( فإن الله غني عن العالمين ) (سورة آل عمران : 97
Maknanya : “Maka sesungguhnya Allah maha kaya
(tidak membutuhkan) dari alam semesta”. (Q.S. Al
Imran : 97)
Allah tidak disifati dengan salah satu sifat makhluk-
Nya seperti berada di tempat, arah atas, di bawah
dan lain-lain. Juga perkataan Imam ath-Thahawi :
” لا تحويه الجهات الس  ت كسائر المبتدعات ”
“Allah tidak diliputi oleh salah satu arah penjuru
maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
kiri, depan, belakang), tidak seperti makhluk-Nya
yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut”
(lihat al ‘Aqidah ath-Thahawiyyah karya al Imam
Abu Ja’far ath-Thahawi)
Hal ini merupakan ijma’ ulama Islam
seluruhnya, maka barang siapa yang berkeyakinan
bahwa Allah bertempat dan berarah di atas atau
semua arah maka ia telah jatuh pada kekufuran.
Wahyu yang diterima Rasulullah pada saat Isra’
dan Mi’raj
Dalam hadits shahih yang sangat panjang
riwayat Imam Muslim, Rasulullah menjelaskan
mengenai peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Dalam hadits
tersebut diriwayatkan bahwa ketika Nabi berada di
atas Sidratul Muntaha beliau mendengar kalam
Allah di antaranya berisi kewajiban sholat 50 kali
dalam sehari semalam bagi umatnya. Kemudian
terjadilah dialog dengan Nabi Musa ‘alayhissalam
yang menganjurkan agar Nabi meminta keringanan
kepada Allah dan akhirnya diwajibkan bagi ummat
Islam hanya lima kali sholat dalam sehari
semalam. Namun nilai sekali sholat tersebut
sebanding dengan sepuluh kali sholat sehingga
lima kali sholat sebanding dengan lima puluh kali
sholat.
Adapun proses penerimaan wahyu
tersebut adalah bahwa Nabi mendengar kalam
Allah yang Dzati, bukan berupa huruf, suara dan
http://www.darulfatwa.org.au
bahasa sebab kalam-Nya azali (ada tanpa
permulaan). Pada malam yang mulia dan penuh
berkah itu Allah membuka hijab dari Rasulullah; hal
yang dapat menghalanginya dari mendengar kalam
Allah yang azali. Allah memperdengarkan kalam-
Nya dengan Qudrah-Nya pada saat Rasulullah
berada di suatu tempat di atas Sidratul Muntaha ;
suatu tempat yang tidak pernah dikotori dengan
perbuatan maksiat dan bukan tempat di mana
Allah berada seperti dugaan sebagian orang sebab
Allah ada tanpa tempat.
Kisah-kisah tidak berdasar
1. Tidak boleh berkeyakinan bahwa pada saat
Mi’raj Allah mendekat kepada Rasulullah
sehingga jarak antara keduanya adalah dua
hasta atau lebih dekat lagi seperti anggapan
sebagian orang. Yang benar adalah bahwa
yang mendekat kepada Rasulullah adalah
Jibril, bukan Allah (baca tafsir surat an-Najm
(53) : 8-9) sebagaimana yang diriwayatkan
oleh Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya
dari as-Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anha.
Karenanya buku yang berjudul Mi’raj Ibnu
Abbas dan Tanwir al Miqbas min tafsir Ibn
Abbas (yang memuat beberapa hal yang
menyalahi syara’) mesti dijauhi. Kedua buku
tersebut bukanlah karya Ibnu Abbas,
melainkan ada sebagian orang yang dengan
tanpa didukung dalil dan bukti yang kuat
menyandarkan kepadanya.
2. Kisah yang menyatakan bahwa ketika Jibril
telah sampai pada suatu tempat setelah
Sidratul Muntaha kemudian berkata kepada
Nabi : “Di sinilah seorang kawan berpisah
dengan kawan yang sangat dicintainya,
seandainya aku terus naik (ke atas) niscaya
aku akan terbakar”. Ini adalah cerita dusta
yang tidak berdasar sama sekali.
3. Kisah yang mengatakan bahwa ketika
Rasulullah pada saat Mi’raj telah sampai ke
atas langit ke tujuh di suatu tempat dimana
beliau mendengar kalam Allah ta’ala dan beliau
berkata : at-Tahiyyatu lillah, lalu dijawab oleh
Allah : as-Salamu ‘alayka ayyuha an-Nabiyyu
Warahmatullahi Wabarakatuh. Riwayat ini
meskipun tertulis dalam beberapa kitab
tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj dan
disampaikan oleh beberapa orang dalam
ceramah-ceramah peringatan Isra’ dan Mi’raj
adalah kisah yang tidak Sahih (benar) karena
pada malam Isra’ Mi’raj shighat atau lafazh
Tahiyyat belum disyari’atkan. Hanya sebagian
rawi-rawi pendusta saja yang meriwayatkan
kisah tersebut. Kisah dusta ini telah menyebar
http://www.darulfatwa.org.au
di banyak kalangan kaum muslimin maka
harus dijelaskan hal yang sebenarnya. Riwayat
tentang bacaan Tasyahhud atau Tahiyyat
yang benar adalah sebagai berikut:
Pada awalnya sebagian sahabat Rasulullah
sebelum disyari’atkan Shighat Tasyahhud,
mereka mengucapkan dzikir atau bacaan :
” السلام على الله ، السلام على جبريل ، السلام على ميكائيل ”
Lalu Rasulullah melarang mereka mengatakan
itu dan beliau mengatakan :
” إن الله هو السلام ”
Maknanya : “Allah itu adalah as-Salam –yang
suci dari segala kekurangan- (jadi jangan
katakan : as-Salam ‘ala Allah)”.
Kemudian Rasulullah mengajarkan kepada
mereka untuk mengatakan :
” السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته ”
Mukjizat Isra’ dan Mi’raj selain penuh dengan
hikmah dan pelajaran juga merupakan ujian bagi
keimanan kita akan kekuasaan Allah ta’ala.
Apakah kita termasuk orang yang beriman dengan
sebenarnya atau justru mendustakan peristiwa
Isra’ dan Mi’raj Nabi ini dengan dalih filsafat dan
logika, Wallahu A’lam wa Ahkam.
AT-TIJARAH AR-RABIHAH
Perdagangan yang menguntungkan
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu
Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ?.
(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan
jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu
mengetahuinya” (Q.S. ash-Shaff : 10-11)
Seri III
MAKNA SYAHADAT PERTAMA
قال العلامة المحدث عبد الله بن محمد الهرري حفظه الله:
” يجب على كافة المكلفين الدخول في دين الإسلام والثبوت فيه
على الدوام والتزام ما لزم عليه من الأحكام. فمما يجب علمه
واعتقاده مطلقا والنطق به في الحال إن كان كافرا وإلا ففي الصلاة:
الشهادتان وهما:
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله.
ومعنى أشهد أن لا إله إلا الله أعلم وأعتقد وأعترف أن لا معبود
بحق إلا الله أي الواحد الأحد الأول القديم الحي القيوم الدائم الخالق
http://www.darulfatwa.org.au
الرازق العالم القدير الفعال لما يريد، ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن
الذي لا حول ولا قوة إلا به، الموصوف بكل كمال يليق به المنزه عن
كل نقص في حقه، ليس كمثله شئ وهو السميع البصير. فهو القديم
(أي الأزلي) وما سواه حادث (أي مخلوق) وهو الخالق وما سواه
مخلوق. فكل حادث دخل في الوجود من الأعيان (أي الأجسام)
والأعمال من الذرة إلى العرش، ومن كل حركة للعباد وسكون،
والنوايا والخواطر فهو بخلق الله. لم يخلقه أحد سوى الله، لا طبيعة ولا
علة بل دخوله في الوجود بمشيئة الله وقدرته، بتقديره وعلمه الأزلي
لقول الله تعالى: (وخلق كل شئ) أي أحدثه من العدم إلى الوجود فلا
خلق ذا المعنى لغير الله، قال الله تعالى: (هل من خالق غير الله).
قال النسفي: “فإذا ضرب إنسان زجاجا بحجر فكسره، فالضرب
والكسر والانكسار بخلق الله تعالى، فليس للعبد إلا الكسب وأما الخلق
فليس لغير الله. قال الله تعالى: ( لها ما كسبت وعليها ما
اكتسبت)”. وكلامه قديم كسائر صفاته لأنه سبحانه مباين (أي غير
مشابه) لجميع المخلوقات في الذات والصفات والأفعال، سبحانه وتعالى
(أي تنزه الله) عما يقول الظالمون (أي الكافرون) علوا كبيرا.
“Wajib bagi semua mukallaf untuk memeluk
agama Islam, meyakininya untuk selamanya dan
melaksanakan segala hukum-hukum yang diwajibkan
atasnya. Di antara hal yang wajib diketahui dan diyakini
secara mutlak, dan wajib diucapkan seketika jika
memang dia (mukallaf) kafir, atau jika tidak (ia bukan
seorang kafir) maka wajib mengucapkannya dalam
shalat, adalah dua kalimat syahadat:
r َأشهد َأنْ لاَ إله إلاَّ اللهُ وَأشهد َأنَّّ محمدا رسولُ اللهِ
Makna أشهد أن لا إله إلا الله : aku mengetahui, meyakini
dan mengakui (dengan ucapan) bahwa tidak ada yang
disembah dengan hak (benar) kecuali Allah, yang Esa,
tiada sekutu bagi-Nya, tidak terbagi-bagi,1 tidak bermula,
tidak didahului dengan ketiadaan, Maha Hidup, tidak
membutuhkan kepada yang lain, tidak berakhir, Maha
Pencipta, Pemberi rizki, Maha mengetahui, Maha
Kuasa, yang mudah bagi-Nya melakukan segala apa
yang Ia kehendaki. Segala apa yang Ia kehendaki terjadi
dan segala apa yang tidak Ia kehendaki tidak akan
terjadi. Tidak ada daya untuk menjauhi perbuatan dosa
kecuali dengan pemeliharaan-Nya, dan tidak ada
kekuatan untuk berbuat ta’at kepada-Nya kecuali
dengan pertolongan-Nya. Allah memiliki segala sifat
kesempurnaan yang layak bagi-Nya dan Maha Suci dari
segala kekurangan bagi-Nya.
Allah tidak menyerupai sesuatupun dari
makhluk-Nya dan tidak ada sesuatupun dari
makhluk-Nya yang menyerupai-Nya, Dia Maha
1 Karena Dia bukan jism; benda. Ini adalah makna
Ahad menurut sebagian ulama.
http://www.darulfatwa.org.au
Mendengar dan Maha Melihat.2 Hanya Allah yang
tidak memiliki permulaan (Qadim), segala sesuatu
selain-Nya memiliki permulaan (Hadits-baharu). Dia-lah
sang Pencipta, segala sesuatu selain-Nya adalah
ciptaan-Nya (makhluk). Segala yang ada (masuk ke
dalam wujud), benda3 dan perbuatannya, mulai dari
(benda yang terkecil) dzarrah hingga (benda terbesar)
‘Arsy, segala gerakan manusia dan diamnya, niat dan
lintasan fikirannya; semuanya itu (ada) dengan
penciptaan Allah, tidak ada yang menciptakannya selain
Allah, bukan thabi’ah (yang menciptakannya) dan bukan
pula ‘Illah.4 Akan tetapi segala sesuatu tersebut masuk
pada keberadaan (ada) dengan kehendak Allah dan
kekuasaan-Nya, dengan ketentuan dan ilmu-Nya yang
azali (yang tidak bermula), sebagaimana firman Allah:
( [ وخلَق كُلَّ شىءٍ ] (سورة الفرقان : 2
Maknanya : “Dan Allah menciptakan segala sesuatu”
(Q.S. al Furqan: 2)
Artinya Allah mengadakannya dari tidak ada
menjadi ada. Makna (Khalaqa) demikian ini tidak layak
bagi siapapun kecuali hanya bagi Allah. Allah berfirman:
2 Pendengaran Allah tidak seperti pendengaran
makhluk, penglihatan Allah tidak seperti penglihatan makhluk.
3 Benda yang dimaksud di sini bukan benda padat,
tetapi A’yan atau Ajsam; segala sesuatu yang memiliki bentuk
dan ukuran, termasuk manusia.
4 Thabi’ah adalah ‘adah ; kebiasaan. Kebiasaan api
adalah membakar. ‘Illah adalah sebab. Api adalah sebab
terjadinya pembakaran.
( [هلْ من خالقٍ غَير الله] (سورة فاطر : 3
Maknanya: “Tidak ada pencipta selain Allah” (Q.S.
Fathir: 3)
An-Nasafi berkata: “Apabila seseorang melempar
kaca dengan batu hingga pecah, maka lemparan,
hantaman batu dan pecahnya kaca semuanya adalah
ciptaan Allah. Jadi seorang hamba hanyalah melakukan
kasb.5 Adapun penciptaan hanya milik Allah, Allah
berfirman:
( [ لهَاَ ما كَسبت وعلَيها ما اكْتسبت ] (سورة البقرة : 286
Maknanya: “Bagi setiap jiwa (balasan baik dari)
kebaikan yang ia lakukan dengan kasabnya dan atas
setiap jiwa (balasan buruk atas) keburukan yang ia
lakukan” (Q.S. al Baqarah: 286)
Kalam Allah Qadim (tidak bermula)6 seperti
seluruh sifat-sifat-Nya. Karena Allah tidak menyerupai
semua makhluk-Nya, baik pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya
dan perbuatan-Nya. Allah Maha Suci dari apa yang
dikatakan orang-orang zhalim (orang kafir) dengan
kesucian yang agung.
5 Kasb adalah apabila seorang hamba mengarahkan
niat dan kehendaknya untuk melakukan suatu perbuatan dan
pada saat itulah Allah menciptakan dan menampakkan
perbuatan tersebut.
6 Kalam Allah yang dimaksud di sini adalah Kalam
Allah yang merupakan sifat Dzat-Nya. Karena sifat kalam ini
qadim berarti pasti bukan huruf, suara dan bahasa karena
semua itu baharu, makhluk.
http://www.darulfatwa.org.au
Nasehat syekh Abdullah al-Harari
Tebar keyakinan, Perjuangkan kebenaran
dengan jiwa dan harta !
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam
bersabda:
” الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت ”
Maknanya: “Orang yang pintar adalah yang
mampu menundukkan hawa nafsunya dan
melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat
baginya setelah mati”.
Maksudnya orang yang berakal adalah orang
yang mampu mengalahkan dan mengekang hawa
nafsunya untuk melakukan amal yang bermanfaat
untuk akhiratnya, sementara orang yang bodoh
adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya
serta berangan-angan memperoleh derajat yang
tinggi dari Allah.
Kita semua dihadapkan kepada jihad dengan
lisan, ini membutuhkan kesungguhan dan
pengorbanan baik tenaga maupun harta. kita
melelahkan badan dengan kegiatan-kegiatan dan
perjalanan-perjalanan untuk menanggulangi dan
mengcounter kesesatan baik dalam aqidah
maupun hukum, dan menginfakkan harta kita,
janganlah bersikap pelit untuk berinfak hanya untuk
selalu menikmati makan yang enak, tempat tinggal
yang mewah dan kendaraan yang lux (Tana”um).
Allah ta’ala menjadikan para nabi dan wali-Nya
tidak suka berfoya-foya meskipun mereka
mempunyai harta yang melimpah, mereka tidak
pernah menggunakan kenikmatan yang diberikan
oleh Allah untuk berfoya-foya, tapi kenikmatan itu
mereka pergunakan untuk amal kebaikan, mereka
inilah yang seharusnya kita jadikan contoh, agar
kita mendapatkan pertolongan dari Allah dan
memperoleh derajat yang tinggi. Mudah-mudahan
Allah memudahkan segala usaha kita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: