Ahlusunnah vs Ahlubidd’ah (Wahabi Al yahudiah)

Bahaya wahabi alyahudiah yang mengaku salafy

Aqidah Ahlusunnah wal jama’ah untuk membungkam Aqidah Bathil Wahhabi

Posted by admin on April 10, 2008

Demi Allah, Inilah aqidah mayoritas aswaja dari zaman rasulullah sahabat dan sekarang (Penjelsan sedikit ttg sifat 20, untuk membungkam aqidah wahabi)

Alqur’an :
laisa kamtslihisyaiun…..(tdk ada sesuatupun yang serupa dgn makhluq)
Allah tdk spt makhluq baik sifat maupun dzatnya…..
mukholafatuhulilhawaditsi…….(Allah berbeda dgn makhluqnya)…..
Allah awal (sebelum Allah ciptakan makhluq, Allah sudah ada)
SIFAT Allah tidak berubah (dulu,sekarang daan yg akan datang sifat Allah tetap tdk berubah)
semua yg baru adalah makhluq (hadith)
Tempat, arah (timur-barat,atas bawah,dismping,didalam),arsy,langit,malaikat adalah makhluq

Makhluq ada dua : 1. ada yg dpt dipegang (berupa benda/materi) (e.g : batu air,tanah)
2. makhluq yg tdk dpt dipegang or nonmateri (contoh : cahaya, bunyi,angin, berdiri, berjalan, duduk)

makhluq bergantung pada Allah tapi Allah tdk bergantung pada makhluq
ALLAH MAHA KUASA…..MAkhluq tidak ada kuasa sedikitpun

(I)
Allah tdk serupa dgn makhluq, yng menyerupakan Allah dgn makhluq (mutasyabih)
adalah kafir
contoh : menyerupakan Allah dgn patung (hindu dsb)>>> kafir
menyerupakan Allah dgn cahaya>>>>kafir
Allah bukan makhluq ,cahaya makhluq
salah mentafsirkan : “Allahu nurussmamawati walardh”
artinya : Allah adalah cahaya langit dan bumi…maknanya harus ditakwilkan : Allah menyinari langit dan bumi dgn cahaya (hidayah, cahaya bintang,bulan matahari dsb……”
orang yg salah tafsir ini seperti ini dalam ibadahnya membayangkan Allah berupa cahaya atau gumpalan cahaya….>>>hukumya kafir

(II)
Allah maha kuasa,…..maka nasrani berkata : “kuasa tdk Allah menjelma menjadi nabi ‘isa?”…..
INGAT : Allah tdk serupa dgn makhluq…..Allah maha kuasa tapi Allah tdk mungkin menerupai makhluq….maka gugurlah pendapat orang nasrani>>>mereka kafir dr sisi aqidah….
(III)
pada zaman azali (saat itu Allah belum menciptakan makhluq)saat itu blm ada langit, arah (atas, bawah,didalam),arsy……
Saat itu (pada zaman azali),Allah ada tanpa Arah dan tempat
karena belum ada smua makhluq (arah,langit,arsy………)
Setelah Allah ciptakan makhluq (langit,arah,arsy) sifat Allah tdk berubah….yaitu Allah ada tanpa tempat dan arah (Allah maujud bilaamakan)
SIFAT ALLAH TIDAK BERUBAH!!!!!!

Nasrani berkata : Allah disurga……
Katakan pada mereka : sebelum Allah ciptakan surga, Allah dimana?
surga adalah makhluq, tdk mungkin yg menciptakan makhluq bergantung atau membutuhkan makhluq…..
sebelum Allah ciptakan surga…Allah sudah ada….dan SAAT ITU, ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH….
Gugurlah hujjah orang nasrani (kafir)

(IV)
laisa kamtslihisyaiun…..(tdk ada sesuatupun yang serupa dgn makhluq)
Allah tdk spt makhluq baik sifat maupun dzatnya…..

allah tdk berhad (memiliki ukuran dan jarak)…dan tdk bisa dibandingkan dgn ukuran makhluq……

(V)
aisa kamtslihisyaiun…..(tdk ada sesuatupun yang serupa dgn makhluq)
Allah tdk spt makhluq baik sifat maupun dzatnya…..

Allah tdak di suatu arah dan tempat,
Allah tdk bawah,disamping atau didalam sesuatu….
yang mempunyai arah dan tempat pasti Makhluq

sufi sesat berkata :” manungaling kawula gusti” “Allah ada dalam diri saya”
…..karena salah tafsir : “…..allah lebih dekat dari urat nadi”
untuk tahu ma’nanya (hrs ditakwil) : yg lebih dekat dari urat nadi itu adalah ilmu Allah (bahwa kekuasaan dan ilmu Allah itu meliputinya termasuk dalam darah dan nadinya ada dlm kekuasaan Allah”
Jadi orang yang mengatakan Allah berada dalam jasad makhluq adalah kafir krn allah tdk mungkin memiliki sifat makhluq(yaitu memiliki arah)

“Allah ada tanpa tempat dan arah,tdk didalam,disamping atau diatas suatu benda”

(VI)

Allah tdak di suatu arah dan tempat,
Allah tdk bawah,disamping atau didalam sesuatu….
yang mempunyai arah dan tempat pasti Makhluq

Allahu’alal ‘arsy istawa (alqur’an)
sesungguhnya allah mengusai arsynya
istawa adalah balaghah 15 makna : yaitu duduk, menguasai dsb…..
maka yg cocok adalah mengusai
spt : tentara amerika menduduki kota bahdad
kata menduduki (istawa) harus dimaknai : tentara amerika menguasai kota baghdad
itulah makna yg lazim dan tepat……….(tafsir qur’an imam nawawi albantani)
ini betul2 makna “istiwa” artinya ada 15 diantaranya mengusai, bahkan dalam berbagai bahasa bhs indonesia) pun artinya demikian
orang2 mutasyabih mengatakan ini hanya “istawala” yang artinya menguasai
kalo “istiwa” artinya hanya duduk…..awas!!!! ini adalah bohong belaka

sesuai dgn sifat allah = alqodirun (yg maha menguasai mahluqnya)

(VII)
apa beda antara langit, arsy dan baitullah?
langit punya banyak arti: dalam bhsa arab bisa dimaknakan sesuatu yang sangat tinggi (tidak ada yg melampauinya…….lihat dikitab2 tauhid dan balaghah)

langit itu mneyelimuti bumi dunia ini (dan bumi adalah bulat,maka kalo kita dari bumi
langit ada disetiap arah(bumi bulat,arah atasnya org yg di amerika jika ditarik garis lurus adalah arah bawahnya org indonesia)

arsy : kursi allah…..
Arsy adalah kiblatnya para malaikat (dibaitul makmur) dan kiblatnya penduduk sorga untuk beribadah…malaikat thowaf mengelilingi arsy, nabi adam diperintahkan solat untuk menghadap arsy (hadis qudsi)

baitullah : rumah allah….apakah Allah ada dalam baitullah?
tentu tidak dunk…..baitullah adalah kiblatnya penduduk bumi untuk beribadah….
jika ada batu dijatuhkan dari arsy (batu itu jatuh lurus kebawah) maka pasti tepat mengenai baitullah (intisari hadis qudsi)

(VII)
Allah tidak mempunyai arah dan tempat,Allah tidak diatas sesuatu atau dibawah sesuatu atau didalam sesuatu dan juga Allah tidak juga disemua arah…..

ada orang katakan Allah disemua arah…
dgn dalil al quran : kemanapun engkau hadapkan wajahmu, maka distulah wajah allah yg engkau temui (kurang lebih tarjamahan bebasnya)
katakan pd mereka :
maka makna yg sebenarnya : kemanapun engkau hadapkan wajahmu, maka disitulah kiblat allah yg engkau temui (kurang lebih tarjamahan bebasnya)[/b]
ayat ini asbabunuzulnya : adalah dalil pada waktu kita safar dgn kendaraan kita dan tdk tau arah kiblat……

Ada orang bilang : allah dilangit…bgm?
ini sama artinya dgn ada orang katakan Allah disemua arah…ingat bumi itu bulat….

langit dalam beberapa hadis bermakna :
sesuatu yg sangat tinggi …..(pada zaman jahiliyah org menggunakan kata assamai (langit untuk arti demikian)

Penduduk langit adalah malaikat
brg siapa yng mnyanyangi yg ada di bumi,maka yg dilangit akan manyayanginya
(maksudnya Allah akan perintahkan pada penduduk langit (malaikat) untuk menyayanginya”

Nabi SAW bertanya kepada juwairiyah : ainallah (dimana allah)?
maka juwiriyah manjawab : fissamai (dilangit)
imam nawawi (pengarang riyadussholihin) menerangkan panjang lebar : bahwa
maksud pertanyaan nabi SAW adalah ainallah (“bagimana iman/ibadah kamu)? jawabnya : fissamai (sangat tinggi)
ingat kebiasaan sahabat dan nabi jika bertemu adalah bertanya keadaan iman dan ibadahnya!!!! bukan spt kita setiap bertemu bertanya keduniaan kita!!!! (banyak lagi hadis2 spt ini)

“penduduk sorga akan melihat Allah disorga seperti kita melihat bulan purnama” (al-hadis)
imam hanafi :”maksudnya penduduk sorga akan melihat Allah disorga dengan sangat jelas dan Haq (pasti terjadi), tanpa Allah disifati dgn sifat makhluq, tanpa allah disifati dgn sifat arah dan tempat)

(VII)
INgat jgn sampai kita mensifati allah dgn sifat makhluq……
contoh : innalaha ma’almu’minin
“bukan Dzat allah bersama (atau didalam, wihdatulwujud) oraang2ng mukmin….
tapi ditakwilkan : sesungguhnya pertolongan/rahmat allah keatas orang mukmin
(VIII)
Allah turun pada 1/3 malam(alhadis) allah turun ke langit pertama …dsb(bnyak hadis)
bgm cara mntafsirkannya : Bahwa yng turun disini adalah dzat Allah….bukan dzat allah yg turun…..
orang2 sesat menjawab : Allah ya turun, tapi tdk spt turunnya makhluq
ini adalah sesat!!!! turun sudah pasti sifat makhluq, turun sudah pasti dari atas ke bawah!!!!!
syaikh ibnutaimiyah (sebelum bertaubat) pernah menerangkan hadis spt ini didepan pengikutnya; : “Allah turun spt turunnya turunnya saya” syaikh ibnu taimiyah mempraktikan dia turun dari atas mimbar…..ada seorang mufti bermadzab maliki ikut hadir dlm majelis tersebut….dan berkata : ‘bukan spt itu tafsirnya”, maka ibnu taimiyah katakan : “orang ini sesat” maka pengikutnya memukuli mufti tsb…….
ibnu taimiyah telah bertaubat atas aqidahnya ini, dan menulis suatuu risalah/kitab kecil…..tentang taubatnya dan belaiu berlepas dari orang2 yng mingikuti pemikirannya pada kitab2 yang ia tulis sebelumnya…..
insyaAllah akan saya dlm waktu dekat akan saya scan lembaran intinya…dan saya terjamahkan

(VIII)
khusus untuk orang2 yg masih berkeyakinan Allah di langit ,diarsy atau diatas..coba tanyakan pada diri sendiri dan jawablah…..

1. Apakah kalo solat, membayangkan seolah2 Allah diatas kita,sehingga tergambambar/terlintas dalam otak kita sesuatu benda atau makhluq?

Ingat >>>Allah tdk serupa apapun dgn makhluq, Allah tdk ada arahnya dan tdk disimua arah…….
apapun yg akal kamu fikirkan ttg dzat allah adalah salah……
dan yg menyerupakan Allah dgn makhluq adalah kafir!!!!

2. Sebelum allah ciptakan semua makhluq (zaman azali)…..
semua makhluq tdk ada (langit,arsy,tempat, ruang,arah,cahaya, atas,bawah….smua makluq tdk ada,karena Allah blm ciptakan…..
pada saat itu dimana allah?

dan setelah allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimana allah?

Ingat : Sifat allah tetap tdk berubah..sifat allah tdk sama dgn makhluq

hati2 dgn tarjamah alquran dari kerajaan arab, MUI sebenarnya telah ditegur oleh kyai2 dr Nahdliyin

rekan kita dari ponpes alitqon jakarta(syafe’i) katanya dah buat kitab kecil khusus membhas masalah ini……

tolong tambahkan,jika ada yg kurang

tulisannya mas jaka bisa untuk menjelaskan lebih detail:

Begitu pula keyakinan kalian bahwa Tuhan bersemayam di ‘arsy. Coba kalian pikirkan, manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud? Sudah tentu berdiri lebih dekat ke ‘arsy. Jadi apabila kalian berpendapat bahwa Allah bersemayam di ‘arsy, maka dimanakah hadits yang mengatakan, “Paling dekatnya kedudukan seorang hamba dengan Tuhannya adalah apabila dia dalam keadaan sujud”.

Kalian juga mengatakan Atta’wil Ta’til (Ta’wil dapat menghilangkan arti) yaitu kalian meniadakan wujud Allah dan sifat-sifat-Nya. Maka batallah akidah kalian dalam melarang takwil dengan dalil-dalil sebagai berikut.

Adapun kami Ahlus Sunnah mentakwil firman Allah, “Allah sang Maha Rahmat, bersemayam di atas ‘arsy,” dan juga semua ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa Allah menempati arah atau tempat secara dhohir, Allah mempunyai anggota badan atau gerakan atau perpindahan atau semua sifat yang menyerupai makhluk dengan dua takwil, ijmali dan tafsili, seperti yang dikemukakan oleh para salaf dan kemudian diikuti oleh kholaf.

Maka kami katakan, maksud dari semua hal tersebut bukanlah secara dhohir. Akan tetapi mengandung makna yang pantas untuk Allah. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, “Bila kaif wa la tasybih.” Artinya adalah tanpa bagaimana dan tak menyerupai apapun. Adapun makna tanpa bagaimana menurut ahlus sunnah ialah segala ayat dan hadis di atas bukanlah bermakna jasmani. Dan bukan seperti yang kalian gembor-gemborkan lafadznya (tanpa bagaimana) tapi kalian meyakini kaif (bagaimana) tersebut.

Adapun takwil tafsili juga diyakini oleh sebagian kecil salaf. Sebagaimana keyakinan Imam Ahmad bin Hanbal ketika mentakwil ayat, “Dan telah datang Tuhanmu” dengan “Telah datang pahala Tuhanmu.” Di riwayat yang lain, “Telah datang perintah-Nya”.

Kalian mengatakan kedatangan Allah yaitu dengan turunnya Allah dari ‘arsy ke bumi ini sebagaimana para malaikat turun dari tempat yang tinggi ke bumi di hari kiamat. Apabila Imam Ahmad mempunyai keyakinan seperti kalian, tak akan pernah beliau mentakwil ayat seperti di atas, dan akan mengatakan seperti yang kalian katakan. Adapun takwil Imam Ahmad di atas benar-benar dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, Sebagaimana dikutip oleh Albaihaqi dalam kitabnya “Biografi Imam Ahmad”.

Begitu pula dalam menafsirkan Saaq (tulang kaki bagian bawah) dalam ayat, “Hari ketika disingkap tulang kaki bagian bawah.” Makna saaq di sini menurut salaf adalah kegentingan yang luar biasa (lihat fathul bari). Tetapi kalian artikan saaq secara tekstual yaitu seperti yang dimiliki manusia… Maka dimana kalian dalam mensucikan Allah dari penyerupaan dengan makhluk? Maka jelaslah bahwa nisbah kalian kepada Imam Ahmad adalah nisbah palsu.

Imam Bukhori juga menyebutkan dalam kitabnya 2 takwil di 2 ayat. Yang pertama, “Segala sesuatu akan musnah kecuali wajah-Nya.” Makna wajah ditakwilkan dengan kekuasaan, Begitu pula disebutkan oleh Sufyan Ats-tsawri dalam tafsirnya. Yang kedua ialah ayat, “Mengambil dengan ubun-ubunnya.” Makna ubun-ubun beliau takwilkan dengan kekuasaan. Bukan seperti takwil kalian yang mengatakan makna ubun-ubun (naasiyah) adalah menyentuh. Dan dhohir ayat ialah sesungguhnya Allah mengambil segala makhluk melata di bumi melalui ubun-ubunnya. Sedangkan mustahil bagi Allah untuk menyentuh ataupun disentuh karena itu adalah sifatnya makhluk.

Adapun hadits riwayat Muslim di atas, yang dimaksud dengan kedekatan dalan hadits tersebut bukanlah kedekatan jarak. Begitu pula di semua hadits dan ayat yang secara dhohir menunjukkan bahwa Allah mempunyai tempat atau arah, ditakwilkan oleh para Ulama dan tidak diartikan secera letter luks. Maka bagaimana kalian yang selalu mengatakan “Attakwil ta’til” atau “Attakwil ilhaad”. Akan tetapi mau tidak mau kalian juga mentakwilkan hadits tersebut dan hal tersebut bertolak belakang dengan kaidah sesat kalian “Attakwil ta’til”.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d bloggers like this: