Ahlusunnah vs Ahlubidd’ah (Wahabi Al yahudiah)

Bahaya wahabi alyahudiah yang mengaku salafy

Awas Wahabi!!! mengaku sebagai salafi dan ahlusunnah

Posted by admin on April 5, 2008

Awas Wahabi!!! mengaku sebagai salafi dan ahlusunnah, tapi menyesatkan dan mengkafirkan ummat yang berpegang teguh pada 4 imam madzab (padahal ke empat imam madzab adalah termasuk golongan tabi’in dan tabiutta’in)

Salah Satu dari Tanda-tanda Ahir Zaman : Generasi Ahir umat ini, Menghina Generasi Awal!!!

Jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah r, di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu memperingatkan para Sahabat t dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”

Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren “kaum Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.

A. Sejarah Hitam

Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat t menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.

Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.

B. Kerapuhan Ideologi

Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak duduk, tidak bersemayam di ‘Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh), adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.

Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)

C. Kerapuhan Tradisi

Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah r, para Sahabat t, ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain.

Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak mengagungkan Nabi r, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam u, para Sahabat t, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.

Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah r) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi r dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan. Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.

Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Wallâhul-hâdî. [BS] (www.sidogiri.com)

hati-hati dengan buku yg dibagikan kepada jamaah haji di makkah (itu buku2 wahhabi)

– hati-hati dengan kitab-kitab terjamahan yang telah di-edit oleh ulama-ulama wahabil (ex : kitab riyadhussholihin yang telah di-edit oleh syaikh albani, penjelasannya bertentangan dengan kitab aslinya yg disusun oleh imam nawawi)..

– pada saudara2ku yang jauh dari kyai (ulama) semenjak kecilnya….dan sekarang terkena fitnah wahabbi tobatlah dan pelajari betul-betul salah satu dari fiqh 4 madzab dgn berguru pada ulama yg berpegang teguh pada salah satu 4 madzab tsb…, insyaAllah lebih selamat!!!

– kaum muslimin masih selamat dari faham wahabbi…jangan sekolahkan anak-anak anda pada pondok-pondok wahabbi (sekolah dari/di cabang sekolah arab saudi (makkah ,madinah ), yaman (kecuali di daerah hadhramaut masih banyak yg bermadazab syafei, maliki), mesir….kecuali tahu betul2 itu bukan pondok wahabbi)…jgn tergiur dgn biaya gratis atau beasiswa dari sekolah2 tsb…selamatkan aqidah anda dan umat ini……………

– Awas Majalah-majalah wahabi di indonesia !!!! :

1. Majalah As Sunnah 2. Majalah Al Furqon (Ustadz Ahmad Sabiq, dll) 3. Majalah Asysyariah (Ustadz Muhammad Umar As sewed, dll) 4. Majalah An Nashihah (ustadz Dzulqarnain,dll) 5. Majalah Fatawa (Ustadz Abu Nida’, dll) 6. Majalah Qiblati (Ustadz Agus hasan Bashari,dll) 7. Majalah Ar Risalah (Ustadz abu Umar Abdillah,dll) 8. Majalah Swaraquran ( pesantren Taruna Al Quran/ Ustadz Umar Budiargo, dll) 9. Majalah Elfata (Ustadz Abu Umar Basyir, dll) 10. Majalah Adz Dzakhirah 11. Majalah Nikah (Ustadz Abu Umar Basyir, dll) 12. Majalah Al Mawaddah majalah anak-anak: KINAN, WILDAN, YA BUNAYYA, DL

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d bloggers like this: